IHSG Anjlok 3,49 Persen ke 5.098, Saham Bank dan Infrastruktur Tertekan

Journalist Independent
IHSG Melemah 0,55 Persen, Pasar Menanti Keputusan BI Pekan Ini.
Ilustrasi aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG bergerak melemah pada perdagangan Selasa, 22 September 2026.

Journalist Independent, JAKARTA – Harapan investor terhadap pemulihan pasar saham Indonesia belum terwujud. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menutup perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, dengan koreksi tajam setelah tekanan jual menghapus penguatan pada awal sesi.

Keputusan bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuan belum cukup meredakan kekhawatiran pelaku pasar.

IHSG berakhir di level 5.098,06, melemah 184,26 poin atau 3,49% dibandingkan penutupan sebelumnya. Padahal, indeks sempat membuka perdagangan di posisi 5.305,20 dan bergerak naik hingga kisaran 5.320 pada awal sesi.

Penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual mulai mendominasi sejak pagi dan menyeret indeks turun tajam sebelum pukul 10.00 WIB. Memasuki sesi siang hingga sore, IHSG bergerak di rentang 5.125–5.175, tetapi tidak mampu membangun momentum pemulihan yang meyakinkan.

Menjelang penutupan, indeks sempat bergerak kembali ke kisaran 5.120. Namun, tekanan jual kembali meningkat pada menit-menit terakhir perdagangan sehingga IHSG berakhir di dekat level terendah hari itu.

Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih berhati-hati menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Investor tidak hanya mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, tetapi juga menunggu data inflasi terbaru dan perkembangan konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi serta arus modal.

Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Luasnya tekanan terlihat dari perbandingan jumlah saham yang menguat dan melemah. Sebanyak 624 saham ditutup turun, sementara hanya 98 saham menguat dan 70 saham stagnan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa koreksi tidak terbatas pada sejumlah emiten tertentu. Tekanan menyebar ke berbagai kelompok saham dan membuat seluruh indeks sektoral berakhir di zona merah.

Sektor perindustrian mencatat pelemahan terdalam sebesar 4,64%. Berikutnya, sektor barang baku terkoreksi 4,53% dan sektor infrastruktur melemah 4,24%.

Data sektoral lainnya menunjukkan tekanan besar pada kelompok utilities yang turun 5,99%, jasa pendidikan yang melemah 4,60%, serta basic materials yang terkoreksi 4,02%.

Baca Juga  Polemik Saham HSC dan MSCI Memanas, Analis Ungkap Dugaan Persaingan Manajer Investasi

Perbedaan angka tersebut berasal dari pengelompokan sektoral yang digunakan dalam data perdagangan. Namun, arahnya sama: tidak ada sektor yang mampu bertahan di zona hijau pada penutupan Kamis.

Dari sisi transaksi, volume perdagangan tercatat mencapai 22,80 miliar saham dengan nilai Rp10,98 triliun. Angka ini menggambarkan aktivitas perdagangan yang tetap berlangsung ketika mayoritas saham menghadapi tekanan jual.

Saham Bank Besar Ikut Menyeret IHSG

Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masuk dalam daftar saham yang menekan pergerakan IHSG.

Pergerakan saham-saham tersebut penting diperhatikan karena perubahan harga emiten berkapitalisasi besar dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap indeks utama.

Ketika saham perbankan besar melemah bersamaan dengan emiten dari sektor lain, peluang IHSG untuk bertahan di tengah tekanan pasar menjadi semakin terbatas.

Di sisi lain, beberapa saham membantu menahan koreksi agar tidak semakin dalam. Di antaranya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Temas Tbk (TMAS), dan PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA).

Meski demikian, dukungan dari saham-saham tersebut belum mampu mengimbangi tekanan jual yang meluas.

Di kelompok indeks LQ45, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) masing-masing turun 0,36%, sedangkan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melemah 1,50%.

Sementara itu, tiga saham dengan penurunan terbesar dalam daftar yang disampaikan adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) sebesar 6,97%, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 6,88%, dan PT Indika Energy Tbk (INDY) sebesar 6,77%.

Pergerakan saham-saham tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pasar menjangkau berbagai sektor, mulai dari perbankan, infrastruktur digital, hingga energi dan industri.

Baca Juga  Badai MSCI Kembali Bikin IHSG Terjun Bebas 11,57 Persen, Investor Waspadai Level 5.000

The Fed Menahan Bunga

Salah satu perhatian utama investor pada Kamis adalah keputusan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed). Bank sentral tersebut mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%.

Namun, keputusan itu tidak bulat. Dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Perbedaan pandangan tersebut menambah perhatian pasar terhadap risiko inflasi yang belum sepenuhnya terkendali. The Fed juga belum memberikan kepastian mengenai arah kebijakan berikutnya.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa bank sentral masih berupaya mengembalikan inflasi ke sasaran 2%. Ia juga menilai perekonomian Amerika Serikat menunjukkan ketahanan, dengan pertumbuhan pada semester pertama 2026 direvisi naik menjadi 2,4%.

Meski demikian, suku bunga tinggi tetap meningkatkan biaya pinjaman dan berpotensi menahan investasi perusahaan, termasuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pasar bahkan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai sekitar 80%. Setelah keputusan The Fed diumumkan, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 5,042%.

Kenaikan imbal hasil tersebut menjadi perhatian bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Imbal hasil aset dolar yang tinggi dapat memengaruhi keputusan investor dalam menentukan penempatan dana di antara pasar maju dan negara berkembang.

Inflasi PCE AS Jadi Penentu Sentimen Berikutnya

Selain keputusan suku bunga, investor menunggu rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk September 2026.

Data tersebut dijadwalkan diumumkan pada Kamis pukul 19.30 WIB. PCE menjadi salah satu indikator penting yang digunakan The Fed untuk menilai perkembangan inflasi dan menentukan kebijakan moneter.

Pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat sebesar 3,4% secara tahunan, sedangkan inflasi inti mencapai 3,0%.

Untuk September, inflasi PCE inti diperkirakan meningkat 0,3% secara bulanan, dibandingkan kenaikan 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan naik menjadi 3,1%.

Baca Juga  Perpres 82/2026 Jadi Payung Tata Kelola Kopdes Merah Putih, Aturan Manajer hingga Distribusi Barang

Apabila data menunjukkan tekanan harga yang lebih kuat daripada perkiraan, pasar berpotensi kembali memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Sebaliknya, inflasi yang melandai dapat memberikan ruang bagi investor untuk menilai kembali prospek suku bunga.

Selain inflasi, data klaim pengangguran AS juga menjadi perhatian. Pada pekan yang berakhir 17 Oktober 2026, klaim awal pengangguran turun 6.000 menjadi 194.000, lebih rendah daripada ekspektasi pasar sebesar 200.000.

Angka tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat. Namun, tingginya biaya energi, ketidakpastian suku bunga, dan kebijakan perdagangan tetap membayangi keputusan perekrutan perusahaan.

Keputusan ECB Menambah Perhatian Pasar Global

Investor juga menunggu keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan diumumkan pada pukul 20.15 WIB, disusul konferensi pers pada pukul 20.45 WIB.

Konsensus pasar memperkirakan suku bunga pembiayaan utama bertahan di 2,65%, sedangkan fasilitas deposito tetap sebesar 2,50%.

Pelaku pasar akan mencermati bagaimana ECB menyeimbangkan risiko inflasi dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan biaya energi akibat konflik geopolitik dapat kembali memicu tekanan harga, sementara kebijakan moneter ketat berisiko menahan aktivitas ekonomi.

Perubahan nada komunikasi ECB juga dapat memengaruhi pergerakan euro, obligasi Eropa, dan dolar AS. Karena pengumuman tersebut berdekatan dengan rilis data inflasi AS, investor perlu memperhatikan kombinasi kedua sentimen itu.

Bagi pasar saham Indonesia, rangkaian perkembangan global tersebut menjadi tantangan ketika tekanan jual domestik masih kuat.

Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga belum mampu membalikkan arah IHSG pada perdagangan Kamis.

Dengan penutupan di level 5.098,06, perhatian investor selanjutnya tertuju pada kemampuan indeks menahan tekanan jual, perkembangan arus modal, serta respons pasar terhadap data inflasi AS dan keputusan ECB.

Arah perdagangan berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh apakah sentimen global memberikan ruang pemulihan atau justru memperpanjang kehati-hatian investor. (*)