Journalist Independent, JAKARTA — Harga emas menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus. Kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang membuka peluang pengetatan moneter dan kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi membuat investor mencermati kembali prospek logam mulia.
Pada Kamis, 29 Oktober 2026, harga emas dunia melemah dan harga emas batangan Antam di pasar domestik ikut terkoreksi, meski sejumlah produk emas di Pegadaian justru mencatat kenaikan.
Data Bloomberg pada Kamis pukul 21.52 WIB menunjukkan harga emas dunia berada di level US$4.032 per ons troi, turun 0,86% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, harga emas Antam ukuran satu gram mencapai Rp2.559.000, turun Rp11.000 dari posisi Rabu, 28 Oktober 2026, sebesar Rp2.570.000 per gram.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar emas masih menghadapi tekanan jangka pendek. Namun, pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi menilai peluang kenaikan harga tetap terbuka hingga akhir tahun, terutama karena ketidakpastian geopolitik dan pergerakan nilai tukar rupiah masih memengaruhi pasar.
Harga Emas Dunia Tertekan Ekspektasi Suku Bunga AS
Salah satu faktor yang menekan harga emas dunia ialah keputusan Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga acuannya. Meski tidak menaikkan suku bunga, dua pejabat bank sentral tersebut mendukung kenaikan sebesar 25 basis poin. Perbedaan pandangan di internal The Fed turut memengaruhi perkiraan pasar mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Investor kini mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026. Pada saat bersamaan, kenaikan harga energi menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi yang dapat bertahan lebih lama. Jika tekanan harga meningkat, bank sentral AS berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi atau kembali memperketat kebijakan moneter.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Ketika instrumen berbunga menawarkan imbal hasil menarik, sebagian investor dapat mengalihkan dana dari emas ke aset lain.
Meski demikian, arah harga emas tidak hanya bergantung pada suku bunga. Ketegangan geopolitik, kondisi ekonomi global, serta pergerakan mata uang juga dapat mengubah permintaan investor terhadap aset lindung nilai tersebut.
Ibrahim Prediksi Emas Dunia Bisa Tembus US$4.400
Di tengah tekanan pasar, Ibrahim Assuaibi masih melihat peluang penguatan harga emas hingga penghujung 2026. Ia memperkirakan harga emas dunia dapat mencapai US$4.300 hingga US$4.400 per ons troi pada akhir tahun.
Ibrahim mengaitkan prospek tersebut dengan konflik geopolitik yang berpotensi berlanjut di sejumlah kawasan. Ketidakpastian akibat konflik dapat mendorong investor mencari aset yang dianggap mampu menjaga nilai kekayaan ketika risiko ekonomi meningkat.
“Perang di Timur Tengah, di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, kemudian antara Amerika dan Iran, kemungkinan besar akan berlanjut sampai tahun 2027 dan memengaruhi harga emas,” ujar Ibrahim dalam acara open house Traze Andalan Futures, Kamis, 29 Oktober 2026.
Untuk pasar domestik, Ibrahim memperkirakan harga emas batangan berpeluang mencapai Rp2.700.000 hingga Rp2.800.000 per gram pada akhir tahun. Namun, proyeksi tersebut tetap bergantung pada perkembangan harga emas dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Kemungkinan besar emas dunia mencapai level di USD4.300–USD4.400. Tetapi kalau untuk logam mulia, kemungkinan mencapai level Rp2.700.000–Rp2.800.000. Itu kemungkinan paling tinggi,” ujarnya di Jakarta.
Pelemahan Rupiah Bisa Mengerek Harga Emas Domestik
Pergerakan rupiah menjadi faktor penting dalam pembentukan harga emas di Indonesia. Pelaku pasar menghitung harga emas dunia dalam dolar AS, kemudian mengonversinya ke rupiah. Karena itu, pelemahan mata uang domestik dapat meningkatkan harga emas dalam rupiah meskipun harga global bergerak terbatas.
Ibrahim menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dapat memberikan dampak positif bagi harga emas domestik. Sebaliknya, penguatan rupiah berpotensi mengurangi tekanan kenaikan harga yang berasal dari nilai tukar.
“Penguatan logam mulia ini tertahan oleh pelemahan mata uang rupiah. Jadi, pelemahan mata uang rupiah ini berdampak positif terhadap logam mulia,” jelasnya.
Bagi investor, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memantau dua indikator sekaligus, yakni harga emas dunia dan nilai tukar rupiah. Kenaikan harga emas global tidak selalu menjadi satu-satunya penentu perubahan harga jual emas batangan di dalam negeri.
Harga Emas Pegadaian Justru Naik pada 29 Oktober
Berbeda dari harga Antam yang tercatat di situs Logam Mulia, harga tiga produk emas yang diperdagangkan melalui Pegadaian justru mengalami kenaikan pada Kamis, 29 Oktober 2026. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa harga jual dapat bervariasi menurut produk dan saluran perdagangan.
Berdasarkan data Galeri24, harga emas Antam ukuran satu gram di Pegadaian mencapai Rp2.609.000, naik Rp20.000 dari Rp2.589.000 pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Harga emas Galeri24 ukuran satu gram juga naik Rp21.000 menjadi Rp2.499.000, dari posisi sebelumnya Rp2.478.000. Sementara itu, emas UBS ukuran satu gram meningkat Rp23.000 menjadi Rp2.524.000, dibandingkan harga sebelumnya Rp2.501.000.
Perbedaan harga tersebut perlu diperhatikan konsumen sebelum membeli atau menjual emas. Harga pada masing-masing penyedia dapat berbeda karena kebijakan harga, produk, serta mekanisme perdagangan yang mereka gunakan.
Investor Perlu Mencermati Risiko Menjelang Akhir Tahun
Prospek kenaikan emas hingga akhir 2026 masih berhadapan dengan sejumlah risiko. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS dapat membatasi penguatan harga, sedangkan konflik geopolitik dan pelemahan rupiah berpotensi menopang harga emas domestik.
Karena itu, proyeksi emas dunia menuju US$4.400 per ons troi dan emas batangan menuju Rp2,8 juta per gram perlu dipahami sebagai perkiraan, bukan kepastian. Investor sebaiknya memperhitungkan perbedaan harga beli dan harga jual kembali, kebutuhan dana, serta jangka waktu investasi sebelum mengambil keputusan.
Penurunan harga Antam menjadi Rp2.559.000 per gram pada Kamis menunjukkan bahwa koreksi masih mungkin terjadi.
Namun, selama ketidakpastian global dan pergerakan rupiah terus memengaruhi pasar, arah harga emas hingga akhir tahun akan tetap bergantung pada perkembangan kebijakan moneter AS, kondisi geopolitik, dan dinamika ekonomi dunia. (*)





