Journalist Independent, MEJENE — Cuaca ekstrem yang datang di tengah kondisi musim kemarau membawa kerusakan di sejumlah wilayah Sulawesi Barat. Angin kencang disertai hujan deras menerjang Kabupaten Majene dan Mamasa.
Sedikitnya 53 rumah warga serta sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan, sementara sebagian keluarga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka karena tidak lagi aman.
Di Kabupaten Majene, terjangan angin kencang melanda Kelurahan Malunda, Kecamatan Malunda, pada Sabtu (31/10/2026) sore. Bencana tersebut merusak 31 rumah dengan tingkat kerusakan mulai ringan hingga berat. Sejumlah pohon juga tumbang dan beberapa di antaranya menimpa rumah warga.
Camat Malunda, Muslimin, mengatakan hasil verifikasi bersama ketua RW dan kepala kelurahan mencatat 31 kepala keluarga terdampak.
“Berdasarkan hasil verifikasi Ketua RW bersama Kepala Kelurahan, sebanyak 31 Kepala Keluarga (rumah) terdampak,” kata Muslimin, Sabtu (31/10/2026).
Dari total rumah yang mengalami kerusakan, 14 masuk kategori rusak berat, tujuh rusak sedang, sedangkan 10 lainnya mengalami kerusakan ringan. Sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap yang terlepas akibat kuatnya tiupan angin.
Kondisi tersebut membuat sejumlah warga memilih meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Mereka menumpang di rumah tetangga atau keluarga karena khawatir hujan kembali turun dan membahayakan penghuni.
Muslimin mengatakan pihak kecamatan telah menyampaikan pemberitahuan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majene agar pemerintah segera memberikan perhatian kepada warga terdampak. Petugas juga masih melakukan pendataan untuk memastikan kebutuhan penanganan di lapangan.
Kapolsek Malunda Iptu Antonius menambahkan, pohon tumbang tersebar di beberapa lokasi. Sebagian pohon bahkan mengenai atap rumah sehingga menambah kerusakan akibat cuaca ekstrem tersebut.
Angin Kencang di Mamasa Rusak Sekolah
Kerusakan akibat cuaca ekstrem juga terjadi di Kecamatan Aralle, Kabupaten Mamasa. Hujan deras disertai angin kencang menerjang Desa Uhailanu, Uhaidao, dan Ralleanak pada Jumat (25/9/2026) sekitar pukul 15.45 Wita.
Kepala BPBD Mamasa Alfredi melaporkan bencana tersebut merusak 18 rumah warga dan empat bangunan sekolah. Sebanyak 18 keluarga atau 72 jiwa terdampak.
Di Desa Uhailanu, angin merusak sembilan rumah, terdiri atas empat rusak berat dan lima rusak ringan. Desa Uhaidao mencatat enam rumah rusak, yakni dua rusak berat dan empat rusak ringan. Sementara di Desa Ralleanak, tiga rumah mengalami kerusakan, dengan rincian dua rusak berat dan satu rusak ringan.
Empat sekolah yang terdampak meliputi MTs Uhaidao, SDS Kurasa, SD 03 Ralleanak, dan MI Uhaidao. Kerusakan paling banyak terjadi pada bagian atap bangunan.
“Untuk warga yang mengungsi ada beberapa yang rumahnya rusak berat. Termasuk warga yang rumahnya tertimpa pohon tumbang,” kata Alfredi.
Dampak paling terasa terlihat di MTs Uhaidao. Sebanyak empat ruangan sekolah mengalami kerusakan, dua di antaranya rusak berat setelah angin menerbangkan sebagian besar atap dan merobohkan plafon.
Kepala MTs Uhaidao, Asbadiun, mengatakan puluhan lembar seng terlepas dan terbang hingga sekitar 100 meter dari bangunan sekolah. Air hujan juga merendam sejumlah buku pelajaran, sedangkan perangkat WiFi sekolah mengalami kerusakan akibat korsleting.
Sekolah kini berupaya mencari ruangan pengganti agar kegiatan belajar mengajar bagi 72 siswa tetap berjalan. Jika tidak memperoleh ruang kelas pinjaman, pihak sekolah berencana menggunakan tenda sebagai tempat belajar sementara.
“Kami sementara tidak ada tempat lain. Kalau tidak ada ruang kelas yang bisa kami pinjam, bisa jadi ruang terbuka jadi tempat proses pembelajaran (bertenda),” ujar Asbadiun.
Dia berharap pemerintah segera membantu perbaikan bangunan agar kegiatan pendidikan kembali normal. BPBD Mamasa sendiri telah melakukan kaji cepat untuk menghitung dampak bencana sekaligus menyiapkan langkah penanganan dan bantuan bagi warga.
Kepala Desa Uhaidao Ali menuturkan hujan telah mengguyur wilayahnya selama dua hari sebelum angin kencang datang. Hujan berlangsung sejak sekitar pukul 14.00 Wita hingga sore hari, kemudian disusul tiupan angin yang merusak rumah dan fasilitas umum.
Rangkaian kejadian di Majene dan Mamasa menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap perubahan cuaca, termasuk ketika wilayah Sulawesi Barat masih berada dalam periode musim kemarau. (*)






