Kemensos Siapkan Jaminan Hidup Korban Bencana Rp15 Ribu Sehari, Berlaku 3 Bulan

Journalist Independent
Menteri Sosial Gus Ipul
Menteri Sosial Saifullah Yusuf. (dok. Izza/Journalist Independent)

Journalist Independent.com, MAKASSAR – Kementerian Sosial (Kemensos) menyiapkan sejumlah bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana, mulai dari santunan bagi korban meninggal dunia atau luka berat hingga bantuan untuk memulihkan kehidupan keluarga setelah bencana.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, salah satu bantuan yang disiapkan berupa jaminan hidup sebesar Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan. Kemensos juga menyediakan bantuan isi rumah bagi keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat serta bantuan pemberdayaan sosial senilai Rp5 juta.

Hal itu disampaikan Gus Ipul usai menghadiri Apel Santiaji Taruna Siaga Bencana (Tagana) di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (26/10/2025) malam.

Menurut Gus Ipul, penanganan bencana tidak berhenti pada saat kondisi darurat selesai. Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat setelah bencana, terutama keluarga yang kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan rumah.

Pada masa kedaruratan, penanganan difokuskan pada evakuasi korban, penyediaan logistik, pengoperasian dapur umum, hingga pendirian tenda dan tempat pengungsian.

Upaya tersebut melibatkan banyak pihak, mulai dari TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, pemerintah daerah, hingga kementerian terkait.

“Kita ada TNI, Polri, BNPB, Basarnas, ada juga pemerintah daerah, ada Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, banyak sekali yang terlibat,” jelas Gus Ipul usai apel.

Setelah masa darurat terlewati, Kemensos menyalurkan bantuan untuk membantu keluarga terdampak memenuhi kebutuhan dan menata kembali kehidupan mereka.

Bagi keluarga yang rumahnya rusak berat, tersedia bantuan isi rumah. Sementara itu, jaminan hidup diberikan kepada setiap individu yang terdampak selama tiga bulan, dengan nilai Rp15.000 per hari.

“Kemudian yang kedua kita memberikan bantuan isi rumah bagi yang rumahnya rusak berat, dan juga membantu jaminan hidup pada seluruh individu yang terdampak selama tiga bulan. Setiap harinya Rp15.000,” kata Gus Ipul.

Baca Juga  DNA Jasad di Pulau Enggano Identik dengan Kru Kapal Jurnalis Hilang

Selain kedua bantuan tersebut, Kemensos menyiapkan bantuan pemberdayaan sosial sebesar Rp5 juta untuk mendukung proses pemulihan keluarga terdampak bencana.

Dukungan pemerintah juga mencakup bantuan perumahan dan penyediaan hunian sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.

“Banyak sekali yang diberikan pemerintah dalam rangka untuk membantu, mendukung keluarga terdampak,” ujarnya.

Gus Ipul Dorong Keterampilan Tagana Terus Ditingkatkan

Selain membahas bantuan bagi korban bencana, Gus Ipul mendorong peningkatan keterampilan anggota Tagana agar semakin siap menghadapi berbagai situasi darurat.

Salah satu upaya yang dilakukan melalui Jambore Tagana. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para relawan untuk berbagi pengalaman, memperkuat solidaritas, sekaligus meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas di lapangan.

“Mereka berkumpul di sini berbagi pengalaman, membangun solidaritas dan tentu yang paling penting adalah meningkatkan keterampilan,” jelasnya.

Gus Ipul berharap kegiatan tersebut dapat memotivasi anggota Tagana untuk terus belajar, terutama dari relawan yang telah lebih lama terlibat dalam penanganan bencana.

“Jadi ini adalah bagian dari usaha kita untuk agar teman-teman Tagana bisa termotivasi, meningkatkan semangat dan mereka berbagi pengalaman, belajar kepada yang sudah lebih lama mengabdi di Tagana,” lanjutnya.

Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan petugas. Masyarakat juga perlu dibekali pengetahuan agar mampu mengenali potensi bahaya dan mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.

Untuk itu, Kemensos mengembangkan program Kampung Siaga Bencana dan Tagana Masuk Sekolah. Kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya edukasi dan mitigasi bencana kepada masyarakat.

Gus Ipul menekankan, pemahaman terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal menjadi hal penting, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan bencana, baik di pegunungan maupun pesisir.

Baca Juga  620 Pegawai Kemensos Kena Hukuman Berat karena Judi Online

“Katakanlah yang lebih konkret, mengajak masyarakat untuk memahami kondisi objektif tempat tinggalnya. Kalau dia di daerah gunung seperti apa, kalau di daerah pantai seperti apa,” jelasnya.

Dengan mengenali karakteristik wilayahnya, masyarakat diharapkan lebih siap menentukan langkah penyelamatan saat bencana terjadi. Warga juga perlu mengetahui titik kumpul dan jalur evakuasi agar tidak kebingungan ketika harus menyelamatkan diri.

“Jadi mereka mengenal dengan baik kondisi lingkungannya. Sehingga kalau ada bencana mereka tahu harus kumpul di mana, jalur evakuasinya seperti apa,” ujarnya.

Gus Ipul menegaskan, peningkatan keterampilan relawan yang diiringi pemahaman masyarakat menjadi bagian penting untuk menekan risiko dan dampak bencana.

30 Ribu Lebih Anggota Tagana Terima Insentif Bulanan