Journalist Independent.com, MAKASSAR – Masyarakat dan wisatawan untuk sementara harus menunda kunjungan ke Benteng Rotterdam, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kawasan cagar budaya peninggalan sejarah tersebut resmi ditutup mulai Kamis (5/11/2026) untuk menjalani proses revitalisasi.
Penutupan ini tidak hanya menghentikan aktivitas wisata sejarah, tetapi juga berbagai kegiatan dan penyelenggaraan acara yang selama ini rutin digelar di dalam kawasan benteng.
Revitalisasi dilakukan untuk membenahi kawasan sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung. Sejumlah fasilitas yang menjadi perhatian antara lain ruang ibadah, akses layanan kesehatan, toilet, hingga ruang informasi yang lebih menarik dan informatif.
Pengelola Museum dan Cagar Budaya Wilayah Sulawesi dan Maluku, Isbahuddin, mengatakan pembenahan tersebut diharapkan membuat pengalaman pengunjung semakin baik. Dengan fasilitas yang lebih memadai, masyarakat tidak hanya datang untuk menikmati bangunan bersejarah, tetapi juga mendapatkan informasi dan pengetahuan mengenai perjalanan sejarah Benteng Rotterdam.
“Pada prinsipnya sebenarnya penutupan ini dilakukan untuk masalah pengamanan dan keamanan dan kenyamanan pengunjung,” kata Isbahuddin kepada wartawan.
Belum Ada Kepastian Kapan Dibuka Kembali
Isbahuddin menjelaskan, revitalisasi Benteng Rotterdam tidak dikerjakan langsung oleh pihak pengelola. Proyek tersebut ditangani melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) bersama direktorat jenderal terkait.
Penutupan kawasan dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pengerjaan berjalan aman. Kawasan benteng akan tetap ditutup hingga proses revitalisasi, termasuk instalasi pengembangan dan pemanfaatan kawasan, dinyatakan selesai.
Hingga saat ini, pengelola belum dapat memastikan kapan Benteng Rotterdam kembali dibuka untuk umum.
Selama penutupan berlangsung, tidak hanya kunjungan wisata yang dihentikan. Masyarakat maupun penyelenggara kegiatan juga tidak diperkenankan menggunakan area benteng untuk menggelar acara.
“Jadi tidak lagi, baik kunjungan maupun event. Penggunaan tempat kita hentikan dulu untuk sementara,” ujar Isbahuddin.
Kebijakan ini sekaligus membuat sejumlah agenda yang sebelumnya memanfaatkan kawasan Benteng Rotterdam harus menyesuaikan diri. Selama ini, benteng tersebut memang tidak hanya menjadi tujuan wisata sejarah, tetapi juga ruang penyelenggaraan berbagai kegiatan kebudayaan dan hiburan.
Sejumlah acara yang pernah digelar di kawasan tersebut antara lain Makassar Culinary Night, Matappa Festival, Konferensi Musik Indonesia (KMI), hingga Rock in Celebes.
Dikunjungi Hampir 39 Ribu Orang dalam 10 Bulan
Tingginya aktivitas di Benteng Rotterdam sejalan dengan jumlah kunjungan yang tercatat sepanjang 2026. Berdasarkan data pengelola, sebanyak 38.991 orang mengunjungi kawasan bersejarah tersebut selama Januari hingga Oktober 2026.
Dari jumlah itu, sebanyak 15.668 merupakan pengunjung umum, 18.431 pelajar, dan 6.960 wisatawan asing. Selain itu, tercatat delapan kunjungan dari unsur dinas.
Isbahuddin mengatakan jumlah pengunjung Benteng Rotterdam menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Antusiasme masyarakat tersebut menjadi salah satu gambaran pentingnya keberadaan kawasan bersejarah itu sebagai destinasi wisata sekaligus ruang edukasi.
“Setiap tahun kunjungan meningkat di Rotterdam, jadi artinya mereka punya antusias untuk datang ke sini,” pungkasnya.
Melalui revitalisasi ini, pengelola berharap Benteng Rotterdam dapat kembali menyambut masyarakat dengan fasilitas yang lebih baik, tanpa menghilangkan nilai sejarah dan karakter bangunan yang menjadikannya salah satu ikon Kota Makassar. (iz)






