Penjualan Pop Mart Anjlok hingga 50%, Popularitas Labubu Mulai Meredup

Journalist Independent
Ilustrasi boneka Labubu.

Journalist Independent, BEIJING — Popularitas boneka Labubu yang sempat mendunia kini mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Pop Mart, perusahaan mainan asal China yang memopulerkan karakter monster berbulu tersebut, mencatat penurunan penjualan hingga 50 persen pada kuartal III 2026.

Dalam laporan yang disampaikan kepada Bursa Efek Hong Kong, Pop Mart mengungkapkan penjualan selama tiga bulan hingga akhir September 2026 turun sekitar 45–50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini menjadi sinyal melemahnya permintaan terhadap produk andalan perusahaan setelah Labubu sempat menjadi fenomena global. Boneka dengan karakter unik tersebut sebelumnya berhasil menarik perhatian konsumen, mulai dari kolektor hingga kalangan selebritas internasional.

Popularitas Labubu ikut terdorong setelah sejumlah figur publik terlihat memiliki atau mempromosikan boneka tersebut. Di antara nama yang ikut membuat Labubu semakin dikenal adalah David Beckham dan Lisa, anggota grup K-pop Blackpink.

Tren tersebut sempat membawa Pop Mart menikmati pertumbuhan bisnis yang sangat pesat. Namun, perusahaan yang berbasis di Beijing itu kini menghadapi tantangan untuk mempertahankan momentum penjualan ketika antusiasme terhadap Labubu mulai berkurang.

Investor mulai mempertanyakan kemampuan Pop Mart dalam menciptakan produk alternatif yang mampu menyamai kesuksesan Labubu. Kekhawatiran tersebut muncul karena pertumbuhan perusahaan sebelumnya sangat terbantu oleh popularitas satu karakter utama.

Penurunan penjualan juga terjadi di berbagai wilayah pemasaran Pop Mart. Pasar Amerika menjadi kawasan yang mengalami koreksi paling tajam, dengan pendapatan merosot sekitar 70–75 persen.

Sementara itu, penjualan di Eropa dan kawasan lainnya turun hingga 55 persen. Di China daratan, pasar utama perusahaan, penjualan juga mengalami penurunan tahunan sebesar 25–30 persen.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan permintaan tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi meluas ke sejumlah pasar internasional. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Pop Mart yang sebelumnya mengandalkan ekspansi global untuk memperbesar bisnisnya.

Baca Juga  WhatsApp Punya Fitur Baru untuk Orang Tua! Aktivitas Grup Anak Kini Bisa Dipantau

Pada puncak popularitas Labubu, nilai pasar Pop Mart bahkan pernah melampaui dua kali lipat gabungan kapitalisasi pasar Hasbro dan Mattel, dua perusahaan mainan besar asal Amerika Serikat.

Pencapaian tersebut menggambarkan besarnya pengaruh tren Labubu terhadap valuasi perusahaan. Namun, ketika permintaan mulai melemah, ketergantungan terhadap karakter tersebut justru menjadi salah satu risiko yang diperhatikan investor.

Salah satu strategi Pop Mart dalam memasarkan produknya adalah menggunakan konsep blind box. Melalui sistem ini, pembeli tidak mengetahui karakter boneka yang diperoleh sebelum kemasan dibuka.

Produk tersebut umumnya dijual sekitar US$10 di China. Mekanisme pembelian yang mengandung unsur kejutan ini mendorong konsumen untuk melakukan pembelian berulang demi mendapatkan karakter tertentu.

Strategi tersebut juga membantu membangun komunitas kolektor yang aktif. Sejumlah karakter Labubu bahkan diperdagangkan kembali melalui pasar sekunder dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga ritel.

Pada masa puncak popularitasnya, harga koleksi Labubu sempat mencapai angka fantastis. Pada 2025, seorang kolektor dilaporkan membayar 1,2 juta yuan atau sekitar US$170.000, termasuk biaya lelang, untuk memperoleh boneka Labubu berukuran manusia dalam sebuah lelang di Beijing.

Namun, situasi pasar kini mulai berubah. Harga Labubu di pasar sekunder dilaporkan melemah seiring berkurangnya antusiasme pembeli.

Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap produk yang sebelumnya diburu kolektor mulai mengalami normalisasi. Kondisi ini sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Pop Mart mempertahankan daya tarik produknya setelah tren Labubu mereda.

Tekanan terhadap bisnis perusahaan juga tercermin dari pergerakan sahamnya. Saham Pop Mart telah turun lebih dari 50 persen sejak mencapai puncaknya pada Agustus 2025.

Penurunan harga saham tersebut memangkas kapitalisasi pasar perusahaan menjadi sekitar US$22 miliar. Perkembangan ini menunjukkan bahwa investor mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap prospek pertumbuhan Pop Mart setelah mengalami lonjakan valuasi pada periode kejayaan Labubu.

Baca Juga  Promo Top Up Game Murah, Ini Cara Aman Transaksi Digital untuk Pemain Game

Selain faktor popularitas produk, perlambatan bisnis juga berlangsung di tengah melemahnya sentimen konsumen dan permintaan di China. Padahal, pasar domestik tersebut menyumbang lebih dari separuh pendapatan Pop Mart pada 2025.

Tantangan serupa juga muncul di Amerika Serikat, yang selama ini menjadi salah satu pasar penting untuk mencari sumber pertumbuhan baru. Konsumen di negara tersebut menghadapi kenaikan harga dan kekhawatiran terhadap keterjangkauan barang.

Situasi itu berpotensi membuat konsumen lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, termasuk untuk produk koleksi dan mainan yang tidak tergolong kebutuhan pokok.

Bagi Pop Mart, penurunan penjualan hingga 50 persen menjadi ujian untuk membuktikan bahwa bisnisnya tidak hanya bergantung pada tren sesaat. Kemampuan menghadirkan karakter baru, mempertahankan loyalitas kolektor, dan memperluas pasar akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pertumbuhan perusahaan selanjutnya. (*)