Sengketa Warisan Michael Jackson Memanas, Anak Tolak Fee Rp1,97 Triliun

Journalist Independent
Paris Jackson (kiri) kembali menggugat tata kelola harta warisan ayahnya, mendiang penyanyi Michael Jackson. (Foto: Pascal Le Segretain/Getty dan Michael Ochs Archive/Getty)

Journalist Independent, Los Angeles – Paris Jackson kembali menggugat tata kelola harta warisan ayahnya, mendiang penyanyi Michael Jackson. Putri King of Pop itu meminta pengadilan menurunkan tingkat kompensasi pengelola warisan sekaligus mempersoalkan pengajuan pembayaran yang nilainya mencapai US$109,2 juta atau sekitar Rp1,97 triliun.

Dalam dokumen permohonan yang diajukan ke pengadilan Los Angeles, Paris mempertanyakan kelayakan pembayaran tersebut karena menilai laporan keuangan yang diserahkan belum lengkap. ““Tidak jelas bagaimana pihak pelaksana warisan bisa menghitung dan membagikan uang sebesar itu dengan penuh keyakinan, tetapi pada saat yang sama tidak mampu menyusun laporan pertanggungjawaban yang lengkap dan akurat selama bertahun-tahun.”,” demikian bunyi keberatan Paris dalam dokumen pengadilan yang dikutip Rolling Stone, Jumat (30/10/2026).

Angka US$109,2 juta itu merupakan total kompensasi yang diajukan untuk John Branca, mendiang rekan eksekutornya John McClain, serta firma hukum Ziffren. Permintaan tersebut berkaitan dengan pengelolaan aktivitas hiburan dan aset komersial peninggalan Michael Jackson untuk periode 2023 dan 2024.

Paris menilai pengajuan pembayaran dalam jumlah besar tersebut tidak disertai rincian dan pertanggungjawaban keuangan yang memadai. Dia juga menuding Branca terlambat menyerahkan laporan keuangan lengkap, meskipun sebelumnya telah menetapkan tenggat penyampaian dokumen.

Paris Minta Kompensasi Diturunkan dari 15% Jadi 10%

Selain mempersoalkan total kompensasi, Paris meminta hakim mengurangi tingkat biaya manajemen dari 15% menjadi 10% dari pendapatan kotor yang berasal dari aktivitas hiburan harta warisan. Permintaan itu diajukan sebagai bagian dari upaya mendorong pengelola menyerahkan laporan keuangan yang lengkap dan akurat.

Menurut dokumen yang dilaporkan Rolling Stone, permintaan pengurangan tersebut mencakup periode 2023 dan 2024 serta tahun-tahun berikutnya sampai laporan keuangan 2026 disampaikan secara lengkap. Paris juga meminta agar penurunan tarif itu diberlakukan secara retroaktif sesuai permohonannya.

Baca Juga  Bintang Star Trek dan X-Men Patrick Stewart Meninggal Dunia, Apa Sebenarnya Penyebabnya?

Paris menilai dokumen yang diajukan untuk mendukung pencairan kompensasi memiliki kekurangan administrasi. Dia mempertanyakan bagaimana pengelola dapat mengajukan pembayaran lebih dari US$100 juta, sementara laporan keuangan yang menjadi dasar pertanggungjawabannya disebut belum lengkap.

Persoalan tersebut berkaitan dengan kewajiban pengelola warisan untuk memberikan laporan kepada pengadilan dan para pihak yang berkepentingan. Dalam perkara ini, Paris meminta pengadilan menilai kembali kelayakan kompensasi sekaligus memastikan pengelolaan aset peninggalan ayahnya dapat dipertanggungjawabkan.

Pihak Pengelola Warisan Bantah Tudingan Paris

Pihak pengelola warisan yang dipimpin Branca membantah permohonan Paris. Perwakilan pengelola menyebut langkah hukum tersebut tidak berdasar dan menegaskan bahwa kompensasi yang diterima Branca bukan pembayaran sebagai eksekutor, melainkan biaya manajemen yang telah disetujui pengadilan.

Dalam pernyataan kepada Rolling Stone, pihak pengelola menyebut Branca dan McClain telah melepaskan hak atas kompensasi sebagai eksekutor sejak awal pengelolaan warisan. Mereka disebut menerima biaya terpisah untuk menjalankan bisnis hiburan Michael Jackson berdasarkan ketentuan yang disetujui pengadilan.

Pihak pengelola juga membedakan pembayaran untuk menjalankan bisnis peninggalan Michael Jackson dengan imbalan hukum yang diajukan oleh firma profesional. Perbedaan kategori pembayaran tersebut menjadi salah satu bagian yang dipersoalkan dalam sengketa antara Paris dan tim pengelola.

Dengan demikian, angka US$109,2 juta dalam dokumen perkara tidak tepat disebut sebagai bayaran pribadi Branca semata. Nilai tersebut merupakan gabungan kompensasi yang diajukan untuk beberapa pihak, termasuk Branca, McClain, dan firma hukum Ziffren.

Sengketa Berlanjut Usai Bonus US$625 Ribu Dikembalikan

Perselisihan Paris dengan pengelola warisan Michael Jackson bukan kali pertama terjadi. Pada Mei 2026, Paris memperoleh putusan yang mengharuskan pengembalian bonus US$625.000 kepada kas harta warisan.

Bonus tersebut sebelumnya dibayarkan kepada tiga firma hukum eksternal yang bekerja untuk pengelola warisan pada 2018. Paris mempersoalkan pembayaran itu karena menilai tidak terdapat penjelasan yang cukup untuk membuktikan bonus tersebut layak diberikan.

Baca Juga  4 Artis Tanah Air Soroti Karhutla Kalimantan, dari Teuku Wisnu hingga Luna Maya

Hakim Mitchell L Beckloff mengabulkan keberatan Paris dalam putusan yang berkaitan dengan pembayaran tersebut. Pengadilan menilai dasar pemberian bonus belum terbukti cukup untuk menunjukkan bahwa pembayaran itu wajar berdasarkan informasi yang disampaikan.

Putusan itu juga menegaskan bahwa pembayaran bonus kepada pengacara tidak dapat dilakukan tanpa persetujuan tertulis dari seluruh penerima manfaat atau perintah pengadilan. Dana US$625.000 tersebut kemudian harus dikembalikan ke dalam harta warisan Michael Jackson.

Kemenangan Paris dalam perkara bonus itu menjadi bagian dari rangkaian perselisihan mengenai transparansi pengelolaan aset. Namun, perkara tersebut berbeda dari permohonan terbaru yang mempersoalkan kompensasi dan kelengkapan laporan keuangan untuk periode 2023 dan 2024.

Pengelola Warisan Juga Persoalkan Biaya Hukum Paris

Di sisi lain, pihak pengelola warisan sebelumnya turut mengajukan keberatan terhadap klaim biaya hukum yang diminta Paris. Nilai biaya yang dipersoalkan mencapai sekitar US$1,16 juta atau setara Rp21,05 miliar berdasarkan konversi dalam naskah awal.

Pihak pengelola menilai sebagian pekerjaan hukum yang ditagihkan tidak berkaitan langsung dengan perkara yang dimenangkan Paris. Karena itu, mereka mempersoalkan apakah seluruh biaya tersebut layak dibebankan kepada harta warisan.

Perselisihan mengenai biaya hukum tersebut memperlihatkan bahwa kedua pihak sama-sama mempersoalkan penggunaan dana dari aset peninggalan Michael Jackson. Paris menyoroti transparansi dan pertanggungjawaban pengelola, sedangkan pihak pengelola mempertanyakan kelayakan sejumlah biaya yang diajukan oleh kubu Paris.

Pengelolaan Bisnis Michael Jackson Jadi Pokok Perselisihan

Michael Jackson meninggal dunia pada 25 Juni 2009. Setelah kematiannya, pengelolaan harta warisan dan bisnis yang berkaitan dengan karya serta nama sang penyanyi menjadi tanggung jawab para eksekutor yang ditunjuk.

Branca selama bertahun-tahun menjadi salah satu tokoh utama dalam pengelolaan bisnis tersebut. Bersama McClain, dia terlibat dalam pengembangan aset komersial peninggalan Michael Jackson, termasuk berbagai aktivitas hiburan yang menghasilkan pendapatan.

Baca Juga  Dugaan Upeti Tambang Ilegal dan Mafia BBM di Sulsel, Nama Pejabat Dicatut

McClain meninggal dunia pada Mei 2026 dalam usia 71 tahun. Setelah kepergiannya, Branca menjadi satu-satunya eksekutor yang masih menjalankan peran tersebut.

Perbedaan pandangan mengenai kompensasi dan laporan keuangan kini kembali dibawa ke pengadilan. Permohonan Paris masih harus melalui proses hukum, sehingga tuntutan penurunan tarif dari 15% menjadi 10% belum menjadi keputusan yang berlaku.

Sengketa ini juga belum mengubah status pengelolaan harta warisan Michael Jackson. Pengadilan akan mempertimbangkan dokumen dan argumen dari kedua pihak sebelum menentukan apakah permintaan Paris terkait kompensasi serta pertanggungjawaban keuangan dapat dikabulkan. (*)