Bintang Star Trek dan X-Men Patrick Stewart Meninggal Dunia, Apa Sebenarnya Penyebabnya?

Journalist Independent
Aktor senior Patrick Stewart meninggal dunia pada usia 86 tahun. (Foto: Newyorker)

Journalist Independent, Los Angeles – Aktor senior Patrick Stewart meninggal dunia pada usia 86 tahun di kediamannya di Los Angeles, Amerika Serikat (AS). Bintang Star Trek dan X-Men tersebut diketahui mengidap penyakit Alzheimer dan demensia Lewy body sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

“Dia berada dalam pelukan hangat keluarga dan teman-teman, dikelilingi oleh musik live, doa, air mata, tawa, dan jenis emosi mendalam yang hanya bisa ia inspirasi setelah seumur hidup mengabdi kepada kita semua,” kata perwakilan Stewart, Kelly Bush Novak, dalam pernyataan yang disampaikan pada Kamis (29/10/2026).

Novak juga menyampaikan Stewart meninggal dengan damai setelah menjalani perjuangan melawan dua penyakit tersebut. Kabar mengenai kondisi kesehatannya baru disampaikan kepada publik setelah kematiannya.

Dikutip dari sejumlah media internasional, kondisi yang dialami Stewart dikenal sebagai demensia campuran atau mixed dementia. Istilah ini digunakan ketika seseorang mengalami perubahan pada otak yang berkaitan dengan lebih dari satu jenis demensia.

Dalam kasus Stewart, dua kondisi yang disebut adalah Alzheimer dan demensia Lewy body. Keduanya merupakan penyakit berbeda, tetapi dapat terjadi secara bersamaan pada seseorang.

Mengenal Demensia Campuran yang Dialami Stewart

Demensia campuran bukan nama satu penyakit tertentu. Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang memiliki perubahan otak yang berkaitan dengan dua atau lebih jenis demensia.

Asosiasi Alzheimer menjelaskan perubahan otak akibat Alzheimer dapat ditemukan bersamaan dengan perubahan akibat jenis demensia lainnya. Kondisi tersebut dikenal sebagai mixed pathology dan dapat disebut demensia campuran ketika dikenali selama seseorang masih hidup.

Alzheimer sendiri merupakan penyebab demensia yang paling umum. Penyakit progresif ini memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, memahami informasi, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari.

Baca Juga  8 Film Besar Serbu Bioskop Oktober 2026! Ada Tom Cruise, LISA hingga Laut Bercerita

Menurut laporan 2026 Alzheimer’s Disease Facts and Figures dari Alzheimer’s Association, sekitar 7,4 juta warga Amerika Serikat berusia 65 tahun ke atas hidup dengan demensia Alzheimer pada 2026. Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak penyakit ini terhadap kelompok lanjut usia di AS.

Sementara itu, demensia Lewy body atau Lewy body dementia (LBD) merupakan bentuk demensia yang berkaitan dengan penumpukan protein abnormal bernama alfa-sinuklein di otak. Penumpukan tersebut dapat mengganggu fungsi otak yang mengatur kemampuan berpikir, gerakan tubuh, tidur, dan perilaku.

Kedua penyakit tersebut memiliki sejumlah gejala yang saling beririsan. Namun, Alzheimer dan LBD memiliki karakteristik yang berbeda sehingga tidak bisa dianggap sebagai penyakit yang sama.

Gejala Lewy Body Dementia Berbeda dari Alzheimer

Salah satu perbedaan LBD dengan Alzheimer terlihat dari gejala yang muncul. Pada Alzheimer, gangguan ingatan sering menjadi salah satu gejala awal yang paling dikenal.

Sebaliknya, kehilangan memori bukan selalu gejala yang paling menonjol pada tahap awal LBD. Pengidapnya dapat lebih dahulu mengalami gangguan perhatian, perubahan tingkat kesadaran, kesulitan memahami ruang, serta gangguan kemampuan berpikir.

Merujuk informasi National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), halusinasi visual termasuk gejala yang sering ditemukan pada pengidap LBD. Penderitanya dapat melihat orang, hewan, atau benda yang sebenarnya tidak ada.

Selain itu, LBD dapat menyebabkan gangguan gerakan yang menyerupai penyakit Parkinson. Gejalanya meliputi gerakan tubuh melambat, otot kaku, tremor, kesulitan berjalan, hingga gangguan keseimbangan.

Gangguan tidur juga dapat terjadi. Sebagian pengidap mengalami gangguan perilaku tidur fase REM, yakni kondisi ketika seseorang dapat bergerak atau melakukan tindakan seolah-olah sedang menjalankan mimpi.

Gejala lain yang mungkin muncul adalah perubahan suasana hati, kecemasan, depresi, serta perubahan kemampuan berpikir yang dapat terjadi secara fluktuatif. Tingkat keparahan dan kombinasi gejala bisa berbeda pada setiap orang.

Baca Juga  Keluar dari Penjara, Kondisi Psikologis Richard Lee Mulai Membaik

Mayo Clinic menjelaskan diagnosis LBD mempertimbangkan penurunan kemampuan berpikir yang disertai sejumlah gejala khas. Di antaranya perubahan kewaspadaan, halusinasi visual berulang, gangguan gerakan, dan gangguan perilaku tidur REM.

Tidak semua pengidap mengalami seluruh gejala tersebut. Pemeriksaan medis diperlukan untuk membedakan LBD dari jenis demensia atau gangguan kesehatan lainnya.

Pengalaman Keluarga Hadapi Demensia

Dampak demensia tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Keluarga dan orang-orang terdekat juga dapat menghadapi perubahan perilaku, kemampuan komunikasi, serta ingatan seseorang yang sebelumnya mereka kenal.

Penyanyi Faith Hill pernah menggambarkan pengalamannya ketika sang ayah mengalami demensia Lewy body. Ia menyampaikan beratnya menyaksikan perubahan kondisi orang terdekat akibat penyakit tersebut.

“Sangat sulit melihat seorang pria yang Anda kenal menjadi seseorang yang tidak Anda kenali,” sebutnya.

Sementara itu, pengusaha sekaligus bintang Shark Tank, Barbara Corcoran, menggambarkan pengalamannya melihat sang ibu berjuang melawan Alzheimer. Dia menyebut pengalaman tersebut seperti “berduka dalam gerak lambat”.

Pengalaman tersebut menggambarkan tantangan yang dapat dihadapi keluarga ketika seseorang mengalami penurunan kemampuan kognitif secara progresif. Perubahan dapat berlangsung bertahap dan memengaruhi hubungan sehari-hari dengan orang terdekat.

Stewart Meninggal Dikelilingi Keluarga dan Sahabat

Perwakilan Stewart menyebut sang aktor mengembuskan napas terakhirnya dengan damai. Dia berada bersama keluarga dan teman-teman terdekat pada saat-saat terakhir kehidupannya.

Novak juga menyampaikan pesan mengenai kenangan keluarga dan sahabat terhadap Stewart. Pernyataan tersebut menggambarkan suasana saat sang aktor meninggal dunia.

“Kami akan selamanya mengenang rasa damai dan cerminan di wajahnya, sebuah pengingat abadi akan keanggunannya yang tak tertandingi,” ucapnya.

Kabar kematian Stewart mendapat perhatian luas karena perjalanan kariernya di dunia seni peran berlangsung selama puluhan tahun. Dia dikenal melalui panggung teater, serial televisi, hingga film layar lebar.

Baca Juga  Enam Tahun Glenn Fredly Tiada, Mutia Ayu Masih Betah Sendiri dan Fokus Besarkan Gewa

Namanya melekat dengan karakter Kapten Jean-Luc Picard dalam serial Star Trek: The Next Generation. Ia juga dikenal sebagai Profesor Charles Xavier atau Professor X dalam waralaba film X-Men.

Proyek Terakhir Stewart Masih Akan Tayang

Meski Stewart telah meninggal dunia, penampilannya dalam proyek film terbaru masih akan disaksikan penonton. Dia tercantum sebagai salah satu pemeran dalam film Marvel Studios Avengers: Doomsday.

Dalam film tersebut, Stewart kembali dikaitkan dengan karakter ikonis Professor X. Kehadirannya menjadi bagian dari jajaran pemeran yang diumumkan untuk film tersebut.

Disney Indonesia mencantumkan jadwal penayangan Avengers: Doomsday di bioskop pada 16 Desember 2026. Dengan demikian, penonton masih berkesempatan menyaksikan penampilan Stewart dalam proyek layar lebar tersebut setelah kepergiannya.

Kepergian Stewart menutup perjalanan panjang seorang aktor yang dikenal melalui beragam peran. Dari panggung Shakespeare hingga semesta fiksi ilmiah dan superhero, karya-karyanya telah menjangkau beberapa generasi penonton. (*)