Journalist Independent, JAKARTA — Pasar saham Indonesia menunjukkan pembalikan tajam setelah tekanan jual mengguncang perdagangan pada awal pekan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 5,65% ke level 5.278,89 pada perdagangan berikutnya, setelah sehari sebelumnya anjlok hingga menembus batas psikologis 5.000.
Di tengah gejolak tersebut, investor asing tercatat melepas saham senilai besar, terutama saham perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Pada Senin, 19 Oktober 2026, IHSG kehilangan 188,5 poin atau 3,64% dan berakhir di posisi 4.996,61.
Tekanan jual asing menjadi salah satu sorotan utama pelaku pasar, seiring kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell Rp2,28 triliun di pasar reguler. Jika menghitung seluruh pasar, nilai penjualan bersih asing mencapai Rp1,72 triliun.
Perbedaan angka tersebut mencerminkan cakupan transaksi yang berbeda dalam pencatatan perdagangan saham.
BBRI menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing pada Senin. Nilai net sell saham bank pelat merah tersebut mencapai Rp1,08 triliun. Tekanan jual turut membawa harga BBRI turun 3,79% ke Rp2.540 per saham.
BBRI dan BBCA Pimpin Daftar Saham yang Dilepas Asing
Selain BBRI, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat penjualan bersih asing sebesar Rp986,87 miliar. Posisi berikutnya ditempati PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan Rp367,47 miliar.
Berikut sepuluh saham dengan net sell asing terbesar pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026:
- BBRI: Rp1,08 triliun.
- BBCA: Rp986,87 miliar.
- TLKM: Rp367,47 miliar.
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Rp113,41 miliar.
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp73,66 miliar.
- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS): Rp67,5 miliar.
- PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA): Rp63,88 miliar.
- PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA): Rp53,27 miliar.
- PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR): Rp39,48 miliar.
- PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ): Rp32,02 miliar.
Besarnya arus keluar dana asing dari saham perbankan menarik perhatian karena BBRI, BBCA, dan BMRI termasuk emiten besar di pasar domestik. Namun, data transaksi satu hari belum cukup untuk menyimpulkan perubahan prospek jangka panjang masing-masing perusahaan.
BBNI Justru Menjadi Incaran Pembelian Asing
Di tengah dominasi penjualan, investor asing masih memburu sejumlah saham. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memimpin daftar pembelian bersih dengan nilai Rp95,86 miliar.
Meski mencatat net buy terbesar, harga BBNI tetap melemah 0,34% ke Rp2.960 per saham pada hari yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelian bersih asing tidak selalu langsung mendorong harga saham naik karena pergerakan harga juga dipengaruhi transaksi investor lainnya.
Sepuluh saham dengan net buy asing terbesar pada Senin meliputi BBNI sebesar Rp95,86 miliar, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp71,77 miliar, PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) Rp49,59 miliar, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp34,3 miliar.
Selanjutnya, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat Rp34,12 miliar, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) Rp33 miliar, PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) Rp30,47 miliar, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) Rp27,83 miliar, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) Rp27,45 miliar, serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp22,31 miliar.
IHSG Melonjak 5,65 Persen pada Perdagangan Berikutnya
Setelah penurunan tajam pada Senin, IHSG mencatat penguatan besar hingga ditutup di level 5.278,89, naik 282,28 poin atau 5,65%.
Indeks sempat dibuka pada 4.980,16 sebelum bergerak menguat dan melewati sejumlah level psikologis sepanjang perdagangan.
Pada sesi pertama, indeks bergerak fluktuatif di kisaran 5.100 hingga 5.200 setelah mengalami kenaikan pada awal perdagangan.
Memasuki sesi kedua, tekanan beli semakin kuat. IHSG kemudian menembus 5.200 dan terus meningkat hingga mencapai level penutupan tertinggi hari itu.
Aktivitas transaksi juga ramai. Volume perdagangan mencapai 546,64 juta lot, sedangkan nilai transaksi menyentuh sekitar Rp25,1 triliun.
Penguatan tersebut menjadi pembalikan yang mencolok setelah IHSG mengalami tekanan berat pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, lonjakan satu hari belum otomatis menghapus risiko yang membayangi pasar. Investor masih perlu mencermati keberlanjutan arus dana, respons regulator, serta perkembangan kajian MSCI terhadap klasifikasi pasar Indonesia.
Reformasi Bursa Jadi Perhatian Investor
MSCI sebelumnya membuka konsultasi mengenai kemungkinan menurunkan status Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.
Konsultasi tersebut berpusat pada persoalan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi, dan dugaan perdagangan yang terkoordinasi.
Menanggapi pengumuman itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin mengumumkan dua inisiatif. Pertama, informasi kepemilikan saham di atas 1% akan dilengkapi dengan keterangan mengenai hubungan afiliasi pemegang saham dengan perusahaan.
Kedua, saham yang masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG, dengan waktu penerapan yang akan diumumkan kemudian.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut saham dalam daftar HSC memiliki bobot sekitar 18% terhadap IHSG.
Saham tersebut tetap dapat diperdagangkan dan tidak mengalami delisting. Emiten juga dapat kembali masuk perhitungan indeks apabila sahamnya keluar dari daftar HSC. BEI menegaskan bahwa tidak ada sanksi tambahan bagi emiten yang masuk daftar tersebut.
Langkah itu melengkapi reformasi pasar modal yang mencakup peningkatan keterbukaan kepemilikan, penyempurnaan data investor, perubahan ketentuan free float, dan penghapusan batas harga minimum saham Rp50.
MSCI dijadwalkan menjalankan konsultasi reklasifikasi hingga April 2027, dengan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027.
Danantara Siap Perkuat Saham BUMN
Di tengah gejolak pasar, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menyatakan Danantara siap menambah kepemilikan pada saham-saham BUMN yang memiliki fundamental kuat.
Ia juga menilai pelemahan pasar sebagai bagian dari dinamika investasi dan menyebut demutualisasi BEI sebagai salah satu agenda transformasi pasar modal.
Pelaku pasar kini mencermati langkah lanjutan BEI, pemerintah, dan Danantara dalam merespons evaluasi MSCI. Perkembangan pembelian kembali saham oleh sejumlah emiten serta arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat penegakan aturan pasar modal juga menjadi perhatian.
Kenaikan IHSG sebesar 5,65% memberikan ruang pemulihan setelah tekanan jual besar, tetapi arah pasar selanjutnya masih bergantung pada kepercayaan investor.
Transparansi kepemilikan, konsistensi penegakan aturan, dan keberhasilan reformasi akan menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor domestik maupun asing. (*)





