Di Balik Energi Pulau Dewata, Film Celukan Bawang Angkat Kehidupan Warga Pesisir

Journalist Independent
Film dokumenter Celukan Bawang

Journalist Independent, JAKARTA – Kehidupan masyarakat pesisir Bali Utara yang berada di tengah kepentingan pembangunan energi diangkat dalam film dokumenter Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali. Film berdurasi 25 menit ini menyoroti hubungan masyarakat dengan laut, perubahan sosial-ekologis, serta posisi sebuah desa nelayan dalam memenuhi kebutuhan energi Pulau Dewata.

Disutradarai Rai Astrawan, dokumenter tersebut mengajak penonton melihat Celukan Bawang bukan sekadar kawasan pembangkit energi, melainkan ruang hidup masyarakat yang memiliki sejarah, mata pencaharian, dan persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian.

Rai mengatakan, film ini berangkat dari kegelisahannya terhadap minimnya perhatian publik terhadap Celukan Bawang. Padahal, desa pesisir tersebut memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan energi di Bali.

“Secara garis besar, Celukan Bawang merupakan sebuah desa kecil nelayan yang selama ini tidak cukup diangkat, tetapi pada kenyataannya desa ini punya peran vital dalam produksi energi yang dikonsumsi oleh Bali itu sendiri,” ujar Rai, dikutip dari Antara, Minggu (11/10/2026).

Celukan Bawang terletak di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Kehidupan masyarakatnya selama ini lekat dengan laut, terutama melalui profesi nelayan yang menggantungkan penghasilan pada hasil tangkapan.

Namun, perkembangan kawasan tersebut juga menempatkannya dalam peta infrastruktur energi Bali melalui keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang I.

Situasi ini menjadi salah satu latar penting yang diangkat dalam film. Di satu sisi, energi dibutuhkan untuk mendukung aktivitas masyarakat, industri, dan pariwisata. Di sisi lain, kawasan yang berperan dalam penyediaan energi juga merupakan tempat tinggal masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan lingkungan pesisir.

Melalui dokumenter ini, Rai ingin memperlihatkan keterkaitan antara wilayah penghasil energi dan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Celukan Bawang tidak hanya diposisikan sebagai tempat berlangsungnya aktivitas industri, tetapi juga sebagai ruang sosial dan ekologis yang memiliki kepentingan serta dinamika tersendiri.

Pendekatan tersebut membuat desa dan masyarakatnya menjadi bagian utama cerita, bukan sekadar latar bagi pembangunan infrastruktur. Pengalaman warga, kehidupan nelayan, dan perubahan yang menyertai perkembangan kawasan menjadi bagian dari narasi yang hendak disampaikan kepada penonton.

Gagasan pembuatan film ini tumbuh dari interaksi Rai dengan masyarakat Celukan Bawang. Ia mengaku telah cukup lama menulis, memproduksi video, berinteraksi dengan warga dan nelayan, serta mengikuti berbagai kegiatan di kawasan tersebut.

Pengalaman itu mendorongnya mengangkat cerita yang dinilai belum banyak mendapat ruang dalam pembicaraan publik, terutama mengenai hubungan antara kehidupan masyarakat pesisir dan kebutuhan energi Bali.

Bagi Rai, Celukan Bawang perlu dipahami lebih jauh daripada sekadar kawasan yang berkontribusi terhadap pasokan energi. Di balik peran tersebut, terdapat masyarakat yang menjalani kehidupan sehari-hari dan memiliki ketergantungan terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.

Melalui film dokumenter ini, ia berusaha mendekatkan persoalan tersebut kepada penonton. Harapannya, masyarakat dapat melihat bahwa kebijakan energi dan pembangunan infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan listrik, tetapi juga berhubungan dengan kehidupan warga di wilayah yang menjadi lokasi pengembangan.

Dengan menempatkan pengalaman masyarakat sebagai bagian utama cerita, film ini berupaya membuka perspektif yang lebih luas mengenai konsekuensi pembangunan bagi kawasan pesisir.

Selain kehidupan nelayan, film Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali turut menyoroti rencana pengembangan energi di kawasan tersebut melalui pemanfaatan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).

Dalam sinopsisnya, rencana tersebut dikaitkan dengan ambisi mewujudkan kemandirian energi Bali. Namun, film ini juga mempertanyakan bagaimana agenda pembangunan energi ditempatkan di tengah keberlangsungan kehidupan masyarakat setempat.

Kebutuhan energi merupakan bagian penting dari perkembangan industri dan pariwisata Bali. Akan tetapi, pemenuhan kebutuhan tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana pembangunan direncanakan, bagaimana informasi disampaikan kepada warga, dan bagaimana kepentingan masyarakat pesisir diperhatikan.

Salah satu persoalan yang disorot dalam sinopsis film adalah transparansi komunikasi mengenai kebijakan pengembangan energi berbasis LNG kepada masyarakat.

Persoalan tersebut menjadi bagian dari kegelisahan yang ingin disampaikan Rai. Menurut gagasan yang diangkat dalam film, pembahasan pembangunan perlu turut memperhatikan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pengembangan, bukan hanya berfokus pada target penyediaan energi.

Dokumenter ini pun mengajak penonton mempertanyakan bagaimana manfaat pembangunan dan potensi konsekuensinya dipahami oleh warga. Dengan demikian, pembicaraan mengenai energi tidak berhenti pada persoalan pasokan, tetapi juga menyentuh hubungan antara kebijakan publik, lingkungan, dan kehidupan sosial.

Dalam proses produksi, Rai menghadapi tantangan ketika harus menggambarkan rencana pembangunan yang menjadi bagian dari isu film, sementara pembangunan tersebut belum terwujud.

Kondisi itu membuat tim produksi perlu mencari pendekatan visual untuk menghadirkan sesuatu yang belum tersedia secara nyata. Tantangan tersebut berkaitan dengan bagaimana menyusun gambaran yang dapat membantu penonton memahami isu yang dibicarakan tanpa bergantung sepenuhnya pada objek pembangunan yang sudah ada.

“Karena belum terjadi proses pembangunan (pembangkitnya), sehingga kita perlu mengimajinasikan itu. Itu sih tantangannya, karena barangnya belum ada. Jadi kita harus mencari cara bagaimana menyusun visualnya,” kata Rai.

Meski menghadapi kendala tersebut, Rai menyebut tanggapan masyarakat terhadap film ini sangat baik dan suportif.

Ia berharap dokumenter tersebut dapat menjadi media untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap persoalan pembangunan, kebijakan energi, dan dampaknya bagi masyarakat. Penonton diharapkan tidak hanya melihat pembangunan sebagai upaya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin muncul bagi kehidupan warga dan lingkungan.

Melalui Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali, Rai berupaya membuka ruang diskusi mengenai hubungan antara konsumsi energi dan wilayah yang menopang pemenuhannya. Film ini sekaligus menghadirkan masyarakat pesisir sebagai bagian penting dalam pembicaraan tentang arah pembangunan dan keberlanjutan lingkungan di Bali. (*)