Journalist Independent.com, MAKASSAR – Kursi Ketua DPD II Partai Golkar Makassar yang ditinggalkan Munafri Arifuddin alias Appi mulai menjadi rebutan. Sejumlah nama kader mulai diperbincangkan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) yang akan menentukan nakhoda baru partai berlambang pohon beringin itu untuk lima tahun ke depan.
Sejauh ini, nama Andi Nurhaldin Nurdin Halid dan Ismail mulai mencuat dalam bursa calon ketua. Keduanya disebut mendapat dukungan dari kelompok kader yang berbeda di internal Golkar Makassar.
Nurhaldin, yang kini menjabat Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Sulawesi Selatan, mendapat dorongan dari sejumlah pengurus organisasi tersebut untuk maju dalam Musda mendatang.
Sementara Ismail, mantan Ketua Harian Golkar Makassar yang kini menjabat Ketua Komisi B DPRD Kota Makassar, dikabarkan memperoleh dukungan dari sejumlah pengurus internal partai.
Di tengah munculnya nama-nama tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Makassar, Supriansa, memastikan tidak akan ikut bersaing memperebutkan kursi ketua definitif.
Mantan Wakil Bupati Soppeng itu menegaskan, penunjukannya sebagai Plt hanya untuk mengawal persiapan hingga pelaksanaan Musda, bukan untuk membuka jalan bagi dirinya memimpin Golkar Makassar secara permanen.
“Saya tidak mau maju di Makassar. Saya kan ketua harian di DPD Provinsi (Sulsel),” ujar Supriansa kepada wartawan, Kamis (5/11).
Mantan anggota DPR RI itu kembali menegaskan bahwa tugasnya saat ini sebatas memastikan agenda pergantian kepemimpinan di Golkar Makassar berjalan.
“Saya Plt hanya mempersiapkan Musda,” paparnya.
Supriansa ditunjuk sebagai Plt setelah Appi meninggalkan Golkar dan bergabung dengan Partai Demokrat. Kepergian Appi membuat Golkar Makassar harus menyiapkan figur baru untuk memimpin kepengurusan di tingkat kota.
Meski sejumlah nama mulai beredar, proses penjaringan bakal calon ketua belum dibuka. Supriansa menyebut mekanisme pencalonan nantinya menjadi kewenangan panitia Musda. “Belum dibuka pendaftarannya. Nanti bicara dengan panitianya,” ungkapnya.
Ia memastikan kesempatan untuk maju terbuka bagi seluruh kader yang memenuhi mekanisme dan ketentuan organisasi. Karena itu, munculnya sejumlah nama di internal partai belum bisa dimaknai sebagai pencalonan resmi.
“Siapa saja kader yang mau menjadi calon ketua Makassar terbuka kesempatannya. Dan tentu tetap jaga soliditas,” pungkasnya.
Musda mendatang akan menjadi momentum bagi Golkar Makassar untuk menentukan kepemimpinan baru setelah ditinggalkan Appi. Di tengah dinamika yang mulai berkembang, soliditas kader menjadi pekerjaan rumah agar proses pergantian ketua tidak berujung pada perpecahan internal. (rif)






