SULSEL  

Karhutla Ancam Lukisan Cadas Purba di Sulsel, Warisan 45.000 Tahun Terancam Rusak Permanen

Journalist Independent
Lukisan babi di Leang Tedong, Sulawesi Selatan. (FOTO ANTARA/HO-Dokumentasi istimewa oleh Maxime Aubert)
Lukisan babi di Leang Tedong, Sulawesi Selatan. (dok. ANTARA/HO-Dokumentasi istimewa oleh Maxime Aubert)

Kawasan karst Maros-Pangkep bukan sekadar bentang alam yang dipenuhi bukit kapur dan gua. Wilayah ini menyimpan warisan arkeologi yang memiliki arti penting bagi pemahaman sejarah manusia.

Pada dinding-dinding guanya, ditemukan gambar hewan dan cap tangan yang dibuat manusia purba puluhan ribu tahun silam. Sejumlah lukisan cadas di kawasan ini diperkirakan berusia lebih dari 45.000 tahun, menjadikannya bagian penting dari sejarah seni tertua yang pernah diketahui.

Temuan tersebut menempatkan Maros-Pangkep dalam perhatian dunia arkeologi. Lukisan cadas bukan hanya peninggalan lokal, melainkan bukti kemampuan manusia purba menghasilkan gambar dan meninggalkan jejak simbolik pada masa yang sangat jauh dari kehidupan modern.

Nilai penting itu membuat ancaman terhadap situs-situs tersebut tidak bisa dipandang sebagai dampak sampingan dari kebakaran hutan.

Ketika vegetasi terbakar, kerusakan dapat terlihat langsung pada pohon dan tutupan lahan. Namun, dampak terhadap warisan arkeologi berpotensi tidak langsung terlihat. Retakan pada batuan, perubahan lapisan pigmen, atau jelaga yang menutupi lukisan mungkin baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan.

Inilah yang membuat kebakaran di kawasan karst membutuhkan penanganan yang lebih luas daripada sekadar memadamkan api. Keberadaan situs prasejarah harus menjadi bagian dari pertimbangan dalam pemantauan dan penanganan area terdampak.

Luas Kebakaran Terus Bertambah

Di sisi lain, kebakaran di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung juga mengancam vegetasi karst, habitat satwa endemik yang dilindungi, serta keanekaragaman hayati setempat.

Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Abdul Rajab, menyebut luas lahan yang terbakar terus bertambah dalam beberapa hari.

Berdasarkan data yang disampaikan, luas lahan terbakar tercatat mencapai 34,74 hektare pada Senin (12/10/2026). Angka itu kemudian meningkat menjadi 93,43 hektare pada Kamis (15/10/2026).

Baca Juga  Viral Foto Menkes Gunakan Alat Bantu Napas saat Tiba di Kalteng, Ini Faktanya

Informasi awal kebakaran diterima dari wilayah Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, pada Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 21.00 WITA.

Peningkatan luas kebakaran tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi kawasan konservasi. Selain menghanguskan vegetasi, api berpotensi mengganggu habitat satwa dan merusak ekosistem yang menopang kehidupan berbagai jenis tumbuhan serta hewan.

Di kawasan yang juga menyimpan situs prasejarah, risiko itu menjadi semakin kompleks. Satu peristiwa kebakaran dapat mengancam dua warisan sekaligus: kekayaan alam dan peninggalan budaya manusia purba.

Upaya penanganan karhutla pun perlu berjalan seiring dengan perlindungan situs arkeologi. Area yang menyimpan lukisan cadas perlu mendapat perhatian khusus, terutama jika kebakaran berada di sekitar gua atau berpotensi memengaruhi kondisi lingkungan di dalamnya.

Bagi Maros-Pangkep, kehilangan lukisan cadas bukan hanya kehilangan gambar di dinding gua. Kerusakan itu berarti hilangnya bagian dari catatan perjalanan manusia yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun.

Warisan tersebut telah melewati perubahan zaman, tetapi kini menghadapi ancaman dari kebakaran yang dapat merusaknya dalam waktu singkat. Karena itu, penyelamatan kawasan karst tidak hanya menyangkut hutan yang terbakar, tetapi juga menjaga agar jejak kehidupan manusia purba tetap bertahan untuk generasi mendatang. (iz)