Perkembangan cuaca juga mulai membantu upaya pengendalian. Pada Minggu (25/10), hujan terjadi di sejumlah wilayah yang sebelumnya menjadi perhatian penanganan karhutla. Di Sumatera Selatan, hujan terjadi antara lain di sekitar Kantor Daops Manggala Agni Kemenhut Ogan Komering Ilir.
Di Kalimantan Tengah, hujan juga terjadi di Camp Leakey dan Sungai Buluh Besar di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Sementara di Kalimantan Selatan, hujan terpantau di Trans Gunung Kupang, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, serta kawasan bandara.
Turunnya hotspot dan mulai terjadinya hujan menjadi perkembangan positif bagi operasi pengendalian karhutla. Namun Kementerian Kehutanan tetap meminta seluruh tim mempertahankan kesiapsiagaan. Khusus pada kebakaran gambut, bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api tidak lagi terlihat di permukaan atau setelah hujan turun.
Manggala Agni Kemenhut bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, penyisiran bara, mopping up, dan pendinginan.
Dukungan operasi udara juga tetap disiagakan. Sebanyak 49 unit armada udara mendukung pengendalian karhutla, terdiri atas 32 unit untuk operasi water bombing dan 17 unit untuk patroli udara serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pemerintah bersama BNPB, TNI, dan BMKG juga terus mengoptimalkan OMC menggunakan bahan semai dry ice maupun NaCl dengan memanfaatkan pertumbuhan awan potensial.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa ukuran keberhasilan penanganan tidak hanya dilihat dari turunnya jumlah hotspot, tetapi dari kondisi aktual di lapangan, yaitu memastikan api dan bara benar-benar padam, kebakaran tidak kembali muncul, dampak asap berkurang, masyarakat terlindungi, serta kawasan hutan dan keanekaragaman hayati tetap terjaga.
Hujan Buatan Dilakukan
Kementerian Kehutanan bersama para pihak terus memperkuat operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemadaman darat, operasi udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penguatan operasi dilakukan dengan memanfaatkan meningkatnya potensi pertumbuhan awan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 1.336 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence. Jumlah tersebut turun 14 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 1.350 hotspot.
Namun, kondisi di enam provinsi prioritas menunjukkan dinamika yang berbeda. Jumlah hotspot pada enam provinsi prioritas meningkat dari 1.078 menjadi 1.103 titik. Kalimantan Tengah masih mencatat hotspot tertinggi sebanyak 785 titik, meskipun turun dari 874 titik sehari sebelumnya. Kalimantan Barat mengalami peningkatan cukup tajam dari 39 menjadi 184 hotspot. Jambi juga meningkat dari 7 menjadi 46 titik. Sementara Sumatera Selatan mencatat 58 titik, Kalimantan Selatan turun menjadi 30 titik, dan Riau tetap nihil hotspot high confidence.
Penurunan hotspot tidak serta-merta membuat operasi di lapangan dikurangi. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan unsur terkait masih melakukan pemadaman serta pendinginan di sejumlah lokasi yang mengalami kebakaran.
Di Sumatera Selatan, pemadaman antara lain dilakukan di Ogan Ilir, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Di Desa Ibul Besar 1, Ogan Ilir, serta Desa Santan Sari, Banyuasin, api telah berhasil dipadamkan. Namun operasi masih berlanjut di sejumlah lokasi yang menyisakan titik api, terutama pada lahan bergambut. (lam)






