Kemenhut Evakuasi 100 Satwa Liar dari Lokasi Karhutla, 8 Mati

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur di tengah kondisi kemarau yang meningkatkan risiko meluasnya titik api. (Dok. Damkar Kukar)

JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam permukiman dan aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam satwa liar yang hidup di sekitar kawasan terdampak.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat sekitar 100 satwa liar telah dievakuasi dari enam lokasi rawan karhutla di Indonesia. Namun, dari jumlah tersebut, delapan satwa tidak berhasil diselamatkan dan dinyatakan mati.

Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan satwa yang mati terdiri atas beberapa jenis, di antaranya ular, biawak, kura-kura, hingga satu ekor orangutan.

“Ada delapan satwa dari 100 itu kondisinya mati. Itu ada ular, biawak, kura-kura, termasuk kemarin ada satu ekor orangutan,” kata Ristianto saat jumpa pers di Gedung Kemenko Polkam, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Menurut Ristianto, kematian sejumlah satwa tersebut disebabkan berbagai faktor. Salah satunya karena satwa terlalu banyak menghirup asap akibat karhutla.

Sementara itu, satwa yang berhasil dievakuasi dan masih hidup telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, jauh dari paparan asap kebakaran.

Sebagian satwa bahkan telah menjalani proses pelepasliaran di habitat yang dinilai lebih aman. Ristianto menyebut tujuh orangutan telah dilepasliarkan kembali di wilayah Kalimantan Barat.

“Ada tujuh orangutan kita sudah lepaskan di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Meski sekitar 100 satwa telah dievakuasi, Kemenhut meyakini masih terdapat satwa liar yang terjebak atau berada di sekitar kawasan terdampak karhutla.

Kondisi tersebut membuat keberadaan laporan dari masyarakat menjadi penting. Kemenhut meminta warga segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan di sekitar lokasi kebakaran.

Ristianto mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menangani satwa liar yang ditemukan di lokasi karhutla. Penanganan satwa membutuhkan prosedur dan perlakuan khusus untuk mencegah satwa maupun manusia mengalami risiko lebih besar.

“Kementerian Kehutanan mengharapkan laporan langsung dari masyarakat kalau ada ditemukan satwa. Karena apa? Satwa liar ini enggak bisa kita gegabah menanganinya, karena harus ada treatment-treatment khusus,” ucapnya.

Kemenhut memastikan setiap laporan masyarakat terkait satwa liar yang terdampak karhutla akan segera ditindaklanjuti. Langkah tersebut dilakukan untuk menyelamatkan satwa yang masih berada di kawasan terdampak dan memastikan proses evakuasi dilakukan dengan penanganan yang tepat. (bun)