NEWS  

33 Negara Siapkan Stok Pangan Darurat, Mentan Amran Sebut Indonesia Punya Cadangan Beras 25 Juta Ton

Journalist Independent
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjawab pertanyaan awak media di Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8/2026).
Journalist Independent.com, JAKARTA – Saat sedikitnya 33 negara mengimbau warganya menyiapkan persediaan makanan, air minum, dan obat-obatan untuk menghadapi kemungkinan situasi darurat, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut kondisi pangan Indonesia masih relatif aman.

Amran mengatakan Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang dinilai cukup untuk menghadapi berbagai gejolak global. Kondisi ini menjadi modal penting ketika ketegangan geopolitik dunia berpotensi mengganggu rantai pasok dan memicu krisis pangan.

“Ketika sedikitnya 33 negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang kuat,” kata Amran kepada wartawan, di Jakarta, Minggu (1/11/2026).

Sebelumnya, sejumlah negara memang mulai memperkuat imbauan kesiapsiagaan bagi masyarakat. Inggris dan Jepang, misalnya, mendorong rumah tangga memiliki persediaan makanan dan air minum setidaknya untuk tiga hari.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang mengganggu infrastruktur, hingga terhambatnya distribusi kebutuhan pokok.

Di tengah situasi itu, Amran meminta masyarakat bersyukur karena Indonesia memiliki kemampuan produksi pangan sendiri. Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari kerja keras petani, dukungan pemerintah, dan kebijakan untuk memperkuat kemandirian pangan.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman,” ujar Amran.

“Indonesia mempunyai produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” lanjut Amran.

Cadangan Beras Bulog 4,5 Juta Ton

Amran membeberkan, salah satu penopang ketahanan pangan Indonesia adalah cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog. Per 26 Oktober 2026, jumlahnya mencapai sekitar 4,5 juta ton.

Baca Juga  Ngobrol di Tengah Sawah, Mentan Kirim Alsintan untuk Buruh Tani Karawang

Selain cadangan di Bulog, Indonesia juga memiliki potensi produksi dari tanaman padi yang siap dipanen atau standing crop sekitar 10 juta ton. Sementara stok beras di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka) diperkirakan mencapai 10 juta ton.

Dengan perhitungan tersebut, total ketersediaan beras nasional diperkirakan sekitar 25 juta ton. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan beras nasional yang berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan.

“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” jelasnya.

Tak Ingin Bergantung pada Impor

Bagi Amran, ketahanan pangan bukan sekadar soal banyaknya beras yang tersimpan di gudang. Kemampuan memproduksi pangan sendiri juga berkaitan dengan kedaulatan dan keamanan negara.

Dia menilai ketergantungan pada impor bisa menjadi risiko besar ketika konflik antarnegara mengganggu jalur perdagangan atau negara produsen membatasi ekspor pangannya.

Karena itu, pemerintah berupaya mempertahankan swasembada beras dan memastikan kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar. Karena itu, swasembada adalah kekuatan dan perlindungan bagi bangsa,” tegasnya.

Untuk menjaga produksi tetap berjalan, Kementerian Pertanian terus menjalankan sejumlah program, mulai dari optimalisasi lahan, pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, hingga peningkatan produktivitas pertanian.

Baca Juga  Meta AI Bongkar Permintaan dari Komdigi soal Pembatasan Konten Karhutla

Pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi terhadap perubahan iklim dan potensi kekeringan yang dapat mengganggu musim tanam maupun hasil panen.

Amran menegaskan, kondisi pangan yang relatif aman saat ini bukan alasan untuk berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani mendapat perlindungan agar ketahanan pangan tetap terjaga.

“Alhamdulillah, kita patut bersyukur pangan Indonesia aman. Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Produksi harus terus ditingkatkan, cadangan diperkuat, dan petani dilindungi. Ada keringat petani dan ada negara yang hadir,” katanya. (ar)