IAS Pasang Target Golkar Sulsel Tambah 50 Persen Kursi DPR RI dan DPRD, Konsolidasi Dikebut

Journalist Independent
Suasana pelantikan pengurus baru Partai Golkar Sulsel di Hotel Four Points Makassar, Minggu, 25 Oktober 2026. (Ist)
Suasana pelantikan pengurus baru Partai Golkar Sulsel di Hotel Four Points Makassar, Minggu, 25 Oktober 2026. (Ist)

Journalist Independent, MAKASSAR – Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) langsung memasang target besar setelah resmi memimpin partai berlambang pohon beringin untuk periode 2025-2030.

Ia membidik peningkatan perolehan kursi legislatif hingga 50 persen, baik di DPR RI maupun DPRD Sulsel, pada pemilu mendatang.

Target tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi kepengurusan baru Golkar Sulsel yang dilantik di Hotel Four Points Makassar, Minggu, 25 Oktober 2026.

IAS menyadari waktu efektif yang dimilikinya untuk mempersiapkan partai menghadapi kontestasi politik berikutnya relatif terbatas. Karena itu, ia ingin konsolidasi organisasi menjadi prioritas sejak awal kepemimpinannya.

Bagi IAS, peningkatan jumlah kursi tidak cukup mengandalkan popularitas partai atau figur tertentu. Golkar Sulsel perlu memperkuat struktur organisasi, mengukur kemampuan kader, dan memastikan seluruh tingkatan kepengurusan bergerak dengan sasaran politik yang sama.

“Kami tidak muluk-muluk,” ujar IAS dalam sambutannya di hadapan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Muhammad Sarmuji.

Pernyataan tersebut menjadi penanda arah kepemimpinan IAS. Ia ingin menerjemahkan target politik menjadi pekerjaan terukur, mulai dari pembenahan organisasi hingga penentuan kader yang dinilai mampu mendongkrak suara partai di daerah pemilihan masing-masing.

Bidik Tambahan Kursi di DPR RI dan DPRD Sulsel

IAS secara terbuka menyampaikan target peningkatan perolehan kursi legislatif sebesar 50 persen. Sasaran itu mencakup keterwakilan Golkar Sulsel di DPR RI dan DPRD provinsi.

“Insyaallah kami akan mewujudkan target perolehan DPR RI 50 persen. Target perolehan kursi DPR provinsi 50 persen,” katanya.

Target tersebut menuntut Golkar Sulsel menyusun strategi yang sesuai dengan karakter setiap daerah pemilihan. Persaingan dalam pemilu tidak hanya bergantung pada kekuatan mesin partai, tetapi juga kemampuan kandidat menjangkau pemilih dan mempertahankan dukungan di wilayah masing-masing.

Baca Juga  Bakom RI Bentuk Tim Khusus Kaji Algoritma dan AI, Ini Tujuannya

Karena itu, IAS ingin menempatkan konsolidasi sebagai fondasi untuk mengejar penambahan kursi. Penguatan struktur partai di tingkat kabupaten dan kota menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Ia juga menekankan bahwa pencapaian target tidak mungkin dibebankan hanya kepada ketua DPD provinsi atau sejumlah tokoh. Seluruh unsur partai harus terlibat dalam membangun kekuatan politik, termasuk pengurus daerah dan kader yang akan bertarung dalam pemilihan legislatif.

“Kolaborasi dari seluruh instrumen partai” menjadi salah satu kunci yang ditekankan IAS dalam pidato perdananya setelah dilantik.

Meski demikian, target 50 persen tersebut masih berupa sasaran politik yang harus diterjemahkan ke dalam strategi dan kerja organisasi. Besarnya tantangan akan bergantung pada kondisi setiap dapil, kekuatan pesaing, serta kemampuan Golkar mempertahankan dan memperluas basis pemilihnya.

Konsolidasi Organisasi Dikebut

Untuk mengejar sasaran tersebut, IAS menyiapkan agenda konsolidasi kepengurusan Golkar di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.

Ia ingin struktur partai di daerah segera diperkuat agar persiapan menuju pemilu tidak tersendat oleh persoalan internal.

IAS menyebut keterbatasan waktu sebagai salah satu tantangan utama. Meski masa jabatan kepengurusan tercatat untuk periode 2025-2030, ia menilai waktu efektif yang tersisa untuk mempersiapkan target politiknya hanya sekitar tiga tahun.

“Kami keteteran karena waktu kepengurusan tinggal tiga tahun efektif,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, IAS juga menyinggung perlunya menuntaskan konsolidasi organisasi. Ia menyebut pertengahan 2027 sebagai batas penyelesaian konsolidasi, sementara agenda musyawarah daerah atau Musda di tingkat kabupaten dan kota dijadwalkan mulai 2 November 2026.

Rangkaian Musda tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam menentukan kepemimpinan Golkar di daerah. Proses ini sekaligus membuka kesempatan bagi IAS untuk menyelaraskan arah kepengurusan kabupaten dan kota dengan target yang telah ditetapkan di tingkat provinsi.

Baca Juga  Gagal jadi Ketua Golkar, Appi Kini Pimpin Demokrat Sulsel

IAS ingin setiap daerah memiliki sasaran yang jelas, bukan sekadar menjalankan kegiatan rutin organisasi. Dengan struktur yang lebih solid, Golkar diharapkan dapat mengoptimalkan potensi suara dan mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan penguatan lebih besar.

Survei Kader dan Pakta Integritas Jadi Instrumen Evaluasi

Selain membenahi struktur, IAS berencana menggunakan survei untuk menilai figur yang akan mengisi posisi strategis dalam kepengurusan. Pendekatan ini dimaksudkan agar penentuan kader tidak semata-mata didasarkan pada kedekatan personal atau pertimbangan internal partai.

Menurut IAS, tingkat penerimaan masyarakat terhadap seorang figur perlu menjadi pertimbangan. Namun, popularitas saja tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang mampu mendukung pencapaian target elektoral Golkar.

“Kami lihat apakah orang ini mampu memberikan kontribusi untuk mencapai target kursi,” tuturnya.

Pendekatan tersebut memperlihatkan keinginan IAS menghubungkan penempatan kader dengan kebutuhan politik di lapangan. Figur yang masuk dalam struktur diharapkan tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk memperkuat dukungan masyarakat.

IAS turut menyiapkan pakta integritas bersama para ketua DPD II Golkar kabupaten dan kota. Dokumen tersebut akan memuat komitmen pencapaian target perolehan kursi di masing-masing daerah.

“Target perolehan di kabupaten dan kota akan tertuang dalam pakta integritas,” katanya.

Dengan pakta integritas tersebut, kepengurusan daerah diharapkan memiliki tanggung jawab yang lebih jelas terhadap sasaran partai. Target politik tidak berhenti sebagai pernyataan ketua provinsi, tetapi menjadi komitmen bersama yang harus ditindaklanjuti melalui program kerja dan strategi pemenangan.

Namun, efektivitas langkah itu akan sangat bergantung pada penerapan evaluasi secara konsisten. Target yang telah disepakati perlu diikuti pemetaan kekuatan politik, pengawasan kerja organisasi, dan penyesuaian strategi apabila hasil di lapangan tidak sesuai harapan.

Baca Juga  Prabowo Bela Hak Air Mesir, Soroti Potensi Pelanggaran Hukum Internasional

IAS Janji Kembalikan Kejayaan Golkar

Pelantikan IAS sebagai Ketua DPD I Golkar Sulsel dilakukan Sekjen DPP Golkar Muhammad Sarmuji atas mandat Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia. Dalam agenda yang berlangsung di Hotel Four Points Makassar tersebut, pengurus DPD Golkar Sulsel periode 2025-2030 menjalani pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan.

Setelah prosesi tersebut, Sarmuji menyerahkan pataka dan panji-panji partai kepada IAS sebagai simbol tanggung jawab kepemimpinan.

Sarmuji meminta agar lambang partai dikibarkan di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.

“Pataka dan panji-panji Partai Golkar untuk dikibarkan di seluruh Sulsel sebagai simbol kejayaan partai,” ujar Sarmuji.

IAS menerima amanah tersebut dengan janji mengembalikan kejayaan Golkar di Sulawesi Selatan.

“Insyaallah panji-panji Golkar akan kami kibarkan di seluruh pelosok Sulsel,” jawabnya.

Pelantikan ini menjadi awal bagi IAS untuk membuktikan bahwa kepengurusan barunya mampu memperkuat posisi Golkar di tengah persaingan politik Sulawesi Selatan. Target kenaikan kursi sebesar 50 persen menjadi ukuran ambisi yang harus diwujudkan melalui kerja organisasi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan konsolidasi berjalan sesuai jadwal, memilih kader yang memiliki daya saing, serta menyatukan strategi hingga tingkat kabupaten dan kota.

Jika langkah tersebut tidak berjalan searah, target penambahan kursi berisiko berhenti sebagai janji politik.

Sebaliknya, apabila seluruh struktur mampu bekerja dengan sasaran yang terukur, kepengurusan IAS memiliki kesempatan memperkuat kembali posisi Golkar dalam perebutan kursi legislatif di Sulawesi Selatan. (*)