SULSEL  

Setiap Pagi Makassar Didatangi 130 Ribu Orang, Ini Daerah Asal Mereka

Journalist Independent
Perbatasan Makassar-Gowa
Perbatasan Makassar-Gowa. (dok. HO)

Journalist Independent.com, MAKASSAR – Makassar bukan hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel), tetapi juga tujuan ribuan orang yang setiap hari datang dari daerah penyangga untuk bekerja dan bersekolah. Setiap pagi, hampir 130 ribu orang masuk ke Makassar. Sore harinya, mereka kembali ke daerah asal, terutama Gowa, Maros, dan Takalar.

Fenomena ini menggambarkan perubahan pola permukiman dan mobilitas penduduk di kawasan metropolitan Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar (Mamminasata). Harga hunian, perkembangan kawasan permukiman, serta konsentrasi aktivitas ekonomi di perkotaan menjadi bagian dari dinamika yang mendorong masyarakat tinggal di luar kota, tetapi tetap beraktivitas di Makassar.

Mereka dikenal sebagai komuter, yakni penduduk yang melakukan perjalanan rutin melintasi batas kabupaten atau kota untuk bekerja maupun bersekolah, lalu kembali ke tempat tinggalnya pada hari yang sama.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah komuter di kawasan Mamminasata mencapai 181.692 orang, atau sekitar tujuh dari setiap 100 penduduk. Besarnya angka tersebut memperlihatkan bahwa mobilitas harian telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di kawasan perkotaan Sulawesi Selatan.

“Mereka adalah komuter, orang yang rutin pergi–pulang di hari yang sama, melintasi batas kabupaten/kota untuk bekerja atau sekolah. Di Mamminasata ada 181.692 komuter, sekitar 7 dari 100 penduduk,” demikian bunyi keterangan resmi BPS dikutip dari situs resmi BPS Sulsel, Sabtu (24/10/2026).

Suburbanisasi Mengubah Pola Hunian

Pergerakan komuter tidak terlepas dari perubahan pola permukiman. Ketika pusat kegiatan ekonomi terkonsentrasi di kota, sebagian penduduk justru memilih tinggal di wilayah pinggiran yang secara administratif berada di kabupaten lain.

Gowa menjadi salah satu wilayah yang memperlihatkan fenomena tersebut. Hampir satu dari tiga rumah tangga di Gowa memiliki anggota keluarga yang berstatus komuter. Sebaliknya, di Makassar, proporsinya sekitar satu dari 17 rumah tangga.

Baca Juga  Polisi Tangkap Subuh, Tersangka Pemukulan Pengunjung Starbucks saat Aksi Boikot di Makassar

Perbedaan ini menunjukkan kuatnya hubungan antara kawasan penyangga dan pusat kota. Sebagian penduduk menetap di Gowa, tetapi tetap bergantung pada Makassar untuk mencari nafkah atau menjalankan aktivitas pendidikan.

Dalam kajian perkotaan, kecenderungan bergesernya tempat tinggal penduduk dari pusat kota menuju kawasan pinggiran dikenal sebagai suburbanisasi.

Pola tersebut membawa konsekuensi terhadap kebutuhan infrastruktur. Pertumbuhan permukiman di daerah penyangga harus diikuti ketersediaan jalan, transportasi publik, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta pusat-pusat kegiatan ekonomi yang memadai.

Tanpa dukungan infrastruktur dan distribusi aktivitas ekonomi yang lebih merata, arus perjalanan menuju pusat kota berpotensi terus menambah beban lalu lintas Makassar.

Koridor Gowa-Makassar Masuk Enam Besar Nasional