NEWS  

20 Ribu TNI Disimulasikan Bergerak ke Jakarta, Anggota DPR: Antisipasi Jika Terjadi Keadaan Darurat

Journalist Independent
Deng Ical PKB
Anggota Komisi 1 DPR RI Syamsu Rizal atau Deng Ical. (dok. Izza/Journalist Independent)

Journalist Independent.com, MAKASSAR – Sebanyak 20 ribu personel TNI disiapkan dalam simulasi pengerahan pasukan ke Jakarta. Agenda ini menjadi sorotan di tengah mencuatnya dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Anggota DPR RI Syamsu Rizal atau Deng Ical, mengatakan simulasi tersebut bukan respons mendadak atas kasus penyadapan. Ia mengungkapkan, rencana simulasi pengerahan pasukan itu telah dibahas dan dilaporkan kepada Komisi I sejak sekitar enam bulan lalu.

Bahkan, simulasi pengerahan pasukan ke Ibu Kota tersebut sudah memasuki pelaksanaan ketiga kalinya.

“Ini tidak terhubung langsung, tetapi memang kita lagi kurang lebih 6 bulan ini di Komisi I itu menerima laporan untuk melakukan simulasi pengerahan pasukan dan menghitung,” kata Deng Ical, di Makassar, Kamis (5/11/2026)

“Jadi ini sudah yang ketiga. Kalau teman-teman pernah ikutin, ini momen yang ketiga pengerahannya dan kita lagi simulasi pengarahan TNI ke Ibu Kota, jadi kita lagi hitung,” tambahnya.

Anggota Komisi 1 DPR RI ini menjelaskan, simulasi itu bukan sekadar menghitung jumlah personel. TNI juga memperhitungkan pola pergerakan pasukan, jalur yang akan dilalui, hingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik-titik tertentu di Jakarta.

Kondisi Jakarta yang kini berada dalam masa transisi setelah tidak lagi berstatus sebagai ibu kota negara turut menjadi pertimbangan dalam simulasi tersebut.

“Apalagi karena status Jakarta ini lagi gamang, jadi itu pola pergerakannya (diukur), berapa banyak waktu, dan itu momentumnya tepat,” kata Deng Ical.

Ketika ditanya apakah simulasi pengerahan pasukan tersebut berkaitan dengan dugaan penyadapan terhadap Presiden atau kemungkinan ancaman makar, anggota Komisi I itu tidak menutup kemungkinan adanya skenario keadaan luar biasa.

Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa agenda simulasi sudah lebih dulu diketahui Komisi I DPR dan bukan disiapkan secara mendadak menyusul isu penyadapan.

Baca Juga  Kasat Lantas Polrestabes Makassar Dukung Penertiban Bajaj, Legalitas Kendaraan Disorot

“Mungkin ada saja ke sana, tapi kita Komisi 1 sudah tahu bahwa akan ada pengarahan dan sifatnya simulatif. Ya mungkin ini sekalian, apalagi Pangkostrad nya juga baru. Jadi kalau ada kejadian luar biasa, sudah tahu diperkirakan,” ungkap politisi PKB ini.

Simulasi Sebelumnya Libatkan 200 Ribu Personel

Mengenai jumlah 20 ribu personel, ia menegaskan angka tersebut bukan ketentuan baku dalam setiap simulasi. Jumlah pasukan disesuaikan dengan kebutuhan dan skenario yang diperhitungkan. Ia bahkan menyebut simulasi pada Agustus lalu melibatkan sekitar 200 ribu personel.

“Yang bulan Agustus lalu 200 ribu. Artinya simulasi ini sesuai kebutuhan, jadi ini memang disimulasi dari titik tertentu, ada yang melalui darat, udara. Sehingga kita punya pengantisipasian kalau terjadi keadaan darurat,” jelasnya.

Dalam simulasi tersebut, pergerakan pasukan diperhitungkan melalui jalur darat maupun udara. Penghitungan itu diperlukan agar TNI memiliki gambaran mengenai kebutuhan personel dan waktu pengerahan jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.

Deng Ical biang, simulasi pengerahan 20 ribu personel ke Jakarta merupakan bagian dari pengujian kesiapan TNI menghadapi berbagai kemungkinan situasi luar biasa, bukan semata-mata respons terhadap satu isu yang tengah berkembang. (iz)