Journalisnt Independent – Partisipasi pemilih dalam pemilu Israel mencapai 66,7% di tengah persaingan yang menjadi ujian bagi kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pemilu ini menjadi pemilihan pertama sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.
“Kalian semua harus berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara. Ini adalah momen yang menentukan,” kata Netanyahu saat mendesak pendukungnya menggunakan hak pilih, Selasa (27/10/2026).
Partisipasi Pemilih Tembus 66,7%
Komite Pemilihan Umum Pusat Israel melaporkan tingkat partisipasi mencapai 66,7% pada Selasa (27/10/2026) pukul 18.00 waktu setempat. Angka tersebut mencatat rekor partisipasi pada jam yang sama dalam pemilu sebelumnya, bahkan ketika masih ada empat jam sebelum pemungutan suara ditutup, jumlah pemilih telah melampaui total partisipasi pemilu sebelumnya.
Antrean panjang terlihat di sejumlah tempat pemungutan suara. Dilansir Reuters, pemilu kali ini dinilai sebagai salah satu pemilu paling menentukan dalam sejarah Israel karena menjadi penilaian terhadap kepemimpinan Netanyahu selama masa perang.
Kebijakan koalisi sayap kanan Netanyahu memicu perpecahan di dalam negeri dan memperdalam isolasi Israel di dunia internasional. Namun, Netanyahu menampilkan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin yang memiliki keteguhan untuk menghadapi musuh-musuh Israel.
Netanyahu Hadapi Persaingan Ketat
Netanyahu telah menjabat sebagai perdana menteri selama total 19 tahun dan menjadi pemimpin terlama dalam sejarah Israel. Dia dikenal sebagai politikus yang mampu bertahan menghadapi berbagai krisis, sementara politik nasionalisnya semakin mengakar.
Di sisi lain, mantan Panglima Angkatan Bersenjata Israel Gadi Eisenkot berupaya mengalahkan Netanyahu dengan dukungan partai-partai kanan dan tengah serta sisa kekuatan kubu kiri yang semakin terpinggirkan. Jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat sehingga belum ada kandidat yang dipastikan memiliki jalan mudah menuju kekuasaan.
Para pengamat belum memastikan dampak tingginya partisipasi pemilih terhadap hasil pemilu. Peningkatan suara dari warga Israel keturunan Palestina berpotensi membatasi perolehan koalisi sayap kanan Netanyahu.
Kondisi tersebut juga dapat membuat pemerintahan yang berupaya menyingkirkan Netanyahu membutuhkan dukungan partai-partai Arab. Kemungkinan itu masih menjadi perdebatan di kalangan pemimpin partai Yahudi.
Netanyahu mendesak pendukungnya datang ke tempat pemungutan suara untuk mengimbangi tingginya partisipasi lawan-lawannya dari kubu kiri dan warga Arab Israel. Sementara itu, pemilih senior Ruth Epstein menilai pemilu kali ini sangat menentukan bagi masa depan negaranya.
“Saya pikir pemilu ini adalah yang paling penting dari semua pemilu yang pernah saya ketahui,” ujar Ruth, pemilih sayap kiri berusia 81 tahun yang telah lama mendukung kubu oposisi.
Ruth memberikan suaranya untuk Partai Demokrat di Ramat Gan, dekat Tel Aviv. Netanyahu juga berkampanye dengan mengandalkan dukungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, sekutunya dalam perang melawan Iran.
Trump sebelumnya mengatakan Israel harus “menyelesaikan pekerjaan”. Jika Netanyahu maupun Eisenkot gagal membentuk koalisi pemerintahan di parlemen yang memiliki 120 kursi, Netanyahu berpotensi tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga pemilu berikutnya digelar.
Lawan-lawan Netanyahu hanya sekali berhasil merebut jabatan perdana menteri darinya sejak 2009. Saat itu, dibutuhkan empat pemilu yang tidak menghasilkan pemenang jelas dalam kurun dua tahun, tetapi Netanyahu kembali berkuasa 18 bulan kemudian.
Oposisi Soroti Kegagalan Keamanan 7 Oktober
Bagi banyak penentang Netanyahu, pemilu ini berkaitan dengan pertanggungjawaban atas kegagalan keamanan pada 7 Oktober 2023. Kelompok oposisi berjanji membentuk komisi penyelidikan nasional, sebuah langkah yang selama ini ditentang Netanyahu.
“Saya yakin pada akhir hari ini, kita akan melihat perubahan, semangat baru bagi Negara Israel, yang akan memperbaiki keadaan selama tiga tahun terakhir dan memperbaiki apa yang terjadi pada hari yang mengerikan itu,” ucap Eisenkot saat mengunjungi Kibbutz Nir Oz di Israel selatan, salah satu wilayah yang diserang pada 7 Oktober 2023.
Eisenkot berjalan menuju tempat pemungutan suara bersama Gadi Mozes, salah satu dari 251 orang yang diculik Hamas dan dibawa ke Gaza dalam serangan tersebut. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 orang.
Dia menilai respons Israel terhadap serangan tersebut gagal karena Hamas masih berkuasa. Perang yang dilancarkan Israel telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan Gaza.
Dia kembali berjanji akan membongkar atau menghancurkan kekuatan militer dan administrasi Hamas di Gaza dalam waktu 18 bulan setelah membentuk pemerintahan.
Partai Arab Berpotensi Berperan di Pemerintahan
Sementara itu, Itamar Ben-Gvir, pemimpin partai ekstrem kanan yang menjadi bagian dari koalisi Netanyahu, memberikan suara di permukiman Kiryat Arba di Tepi Barat yang diduduki Israel. Ben-Gvir memperkirakan Netanyahu akan kembali menjadi perdana menteri dan partainya menjadi penopang utama kubu kanan dalam pemerintahan.
Ahmed Tibi, kandidat dari partai Arab, mengatakan rekor partisipasi warga minoritas Arab Israel dapat membuka jalan bagi pemerintahan alternatif.
“Hal ini akan membuka jalan bagi pemerintahan alternatif dan perubahan atas kenyataan buruk yang terjadi,” sebut Tibi.
Eisenkot sebelumnya menolak kemungkinan bekerja sama dengan partai-partai Arab. Namun, dalam skenario tertentu, dia dapat mengandalkan dukungan mereka untuk menopang pemerintahan minoritas yang bertujuan mencegah Netanyahu kembali berkuasa.
Netanyahu berulang kali menggambarkan warga Arab Israel, yang mencakup sekitar seperlima populasi negara tersebut, sebagai ancaman. Para penentangnya menilai pernyataan itu mengarah pada rasisme.
Pada Selasa, Netanyahu mengunggah gambar di platform X yang memperlihatkan antrean perempuan Arab, sebagian mengenakan niqab atau menunjukkan ekspresi marah, yang diklaim berada di tempat pemungutan suara. Menurut situs verifikasi OpenAI, gambar tersebut dibuat menggunakan perangkat kecerdasan buatan (AI) milik mereka.
Di jalan-jalan Yerusalem, mobil-mobil yang membawa bendera Partai Likud pimpinan Netanyahu berkeliling sambil menyalakan pengeras suara yang memutar azan dan menyerukan: “Keluarlah dari rumah kalian sekarang! Orang Arab sedang memberikan suara!”
Eisenkot Kritik Kekerasan Pemukim di Tepi Barat
Seperti hampir semua pemimpin partai Yahudi di Israel, Eisenkot menentang solusi dua negara yang selama puluhan tahun menjadi landasan perundingan perdamaian Israel-Palestina. Namun, dia mengkritik kekerasan yang dilakukan pemukim Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel.
Kekerasan tersebut meningkat sejak 2023 dan memperburuk hubungan Israel dengan negara-negara Barat. Eisenkot juga menentang mitra koalisi Netanyahu dari kelompok ekstrem kanan. (*)






