JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak melemah pada perdagangan Selasa, 22 September 2026. Pelaku pasar cenderung berhati-hati sambil menanti keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22–23 September 2026.
Pada pukul 09.55 WIB, IHSG turun 34,99 poin atau 0,55 persen ke level 6.349,74. Padahal, indeks sempat dibuka menguat pada awal perdagangan.
Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 juga bergerak turun. Indeks tersebut melemah 3,06 poin atau 0,48 persen ke posisi 631,23.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan IHSG berpotensi bergerak sideways sepanjang perdagangan. Menurut dia, indeks berpeluang menguji area 6.300–6.350.
“Diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.300–6.350 pada perdagangan Selasa. Namun turunnya harga minyak dan penguatan pada indeks bursa global berpotensi membatasi pelemahan indeks,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Pasar Menanti Respons Bank Indonesia
Perhatian investor dalam negeri tertuju pada RDG BI yang berlangsung 22–23 September 2026. Pasar mencermati langkah bank sentral Indonesia setelah sejumlah bank sentral utama dunia mengubah kebijakan suku bunganya pada September.
Dalam bahan kajian tersebut disebutkan The Federal Reserve, Bank of Japan (BoJ), dan European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September 2026. Langkah itu dilakukan dalam upaya meredam tekanan inflasi yang berkaitan dengan krisis energi.
Situasi tersebut membuat investor mencermati ruang kebijakan BI sekaligus arah pergerakan rupiah dan pasar saham domestik.
Aturan Baru Saham Rp1 Mulai Berlaku
Selain kebijakan moneter, pelaku pasar juga mencermati perubahan ketentuan perdagangan saham di BEI.
BEI akan menerapkan batas harga terendah saham menjadi Rp1 mulai 28 September 2026. Perubahan tersebut diikuti penyesuaian ketentuan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) untuk efek bersifat ekuitas serta Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) yang diperdagangkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai.
Ratna menilai kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan likuiditas pasar dan mengoptimalkan mekanisme pembentukan harga atau price discovery.
Kebijakan itu juga dapat memberikan ruang bagi investor untuk keluar dari saham yang sebelumnya tertahan lama pada level ARB Rp50.
Namun, perubahan tersebut juga membawa sejumlah risiko. Ratna menyebut potensi kerugian modal, volatilitas spekulatif pada saham di bawah Rp50, serta risiko investor ritel pemula terjebak dalam persepsi bahwa harga saham yang murah selalu menarik.
Short Selling Mulai Berlaku Oktober
BEI juga akan menerbitkan Daftar Efek Short Selling pada 28 September 2026. Transaksi short selling dijadwalkan mulai berlaku efektif pada Oktober 2026.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu perubahan yang turut diperhatikan investor menjelang penerapan mekanisme perdagangan baru di pasar modal Indonesia.
Sentimen Global Masih Menjadi Perhatian
Dari pasar global, investor mencermati pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas sejumlah isu, termasuk kecerdasan buatan atau AI, tarif perdagangan, dan mineral kritis.
Investor juga mencermati perkembangan harga minyak mentah di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Kondisi pasokan energi global menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar.
Pada perdagangan Senin, 21 September 2026, bursa Eropa bergerak menguat. Euro Stoxx 50 naik 1,31 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,75 persen, DAX Jerman naik 1,07 persen, sedangkan CAC 40 Prancis menguat 0,92 persen.
Wall Street juga ditutup menguat. S&P 500 naik 1,49 persen ke level 7.764,70. Nasdaq Composite menguat 2,26 persen ke 27.122,09, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,71 persen ke 52.048,83.
Di Asia, indeks Shanghai naik 0,36 persen, Kospi menguat 1,64 persen, Hang Seng naik 0,57 persen, Kuala Lumpur menguat 0,54 persen, dan Straits Times naik 0,44 persen.
Sementara itu, indeks Nikkei Jepang tidak diperdagangkan karena libur nasional.
Pergerakan IHSG pada Selasa akhirnya berada di antara sejumlah sentimen domestik dan global. Investor kini menunggu hasil RDG BI serta mencermati perkembangan pasar energi dan hubungan ekonomi Amerika Serikat-China sebagai faktor yang dapat memengaruhi arah perdagangan berikutnya. (*)






