Kebakaran Apartemen di Penjaringan, 80 Petugas Damkar Dikerahkan

Journalist Independent
Kebakaran Apartemen di Penjaringan, 80 Petugas Damkar Dikerahkan
ILUSTRASI: Petugas pemadam kebakaran melakukan penanganan kebakaran apartemen di Jalan Teluk Intan, Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (20/9/2026).

JAKARTA – Kebakaran melanda Apartemen Teluk Intan di Jalan Teluk Intan, Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Minggu (20/9/2026) petang. Kepulan asap dari gedung membuat petugas pemadam kebakaran harus bergerak cepat untuk mengendalikan api sekaligus menyelamatkan penghuni yang masih berada di dalam bangunan.

Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu mengerahkan 16 unit mobil pemadam kebakaran dengan dukungan 80 personel. Petugas juga melakukan evakuasi terhadap penghuni yang terjebak di dalam kamar ketika kebakaran berlangsung.

Berdasarkan laporan penanganan yang dihimpun dari petugas, informasi awal kebakaran diterima Command Center Gulkarmat sekitar pukul 18.17 WIB. Tim pemadam dari Pos Pejagalan tiba di lokasi pada pukul 18.29 WIB dan memulai operasi penanganan sekitar satu menit kemudian.

Pada saat laporan awal disampaikan, asap masih memenuhi sejumlah bagian gedung. Petugas tidak hanya berupaya memadamkan api, tetapi juga memastikan penghuni dapat keluar dari area berbahaya dengan selamat.

Command Center Sudin Gulkarmat Jakarta sebelumnya mengonfirmasi objek yang terbakar merupakan apartemen.

“Objek: apartemen,” demikian keterangan Command Center Sudin Gulkarmat Jakarta.

Situasi di dalam gedung menjadi perhatian petugas karena asap dapat mengganggu jarak pandang dan menyulitkan penghuni menemukan jalur keluar. Karena itu, upaya pemadaman berjalan bersamaan dengan proses penyelamatan orang yang masih berada di dalam bangunan.

“Masih terdapat asap dan proses evakuasi korban dalam apartemen,” tulis Command Center Sudin Gulkarmat Jakarta.

Keterangan tersebut menggambarkan kondisi ketika operasi masih berlangsung. Petugas harus memastikan area yang terdampak aman sebelum menyatakan proses penanganan selesai.

Sebanyak 80 personel dari jajaran pemadam kebakaran dikerahkan untuk mempercepat penanganan. Armada yang datang juga mencakup satu unit kendaraan Bronto Skylift dari Jakarta Pusat untuk mendukung operasi di gedung bertingkat.

Baca Juga  Bayi Laki-Laki Bertali Pusar Ditemukan Warga di Gubuk Bekas Warung Bogor

Seiring berlangsungnya operasi, petugas berhasil membawa keluar penghuni yang sempat terjebak. Laporan lanjutan menyebutkan sebanyak 53 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Mereka terdiri atas 21 laki-laki dewasa, 24 perempuan dewasa, tujuh anak-anak, dan satu orang lanjut usia.

Informasi tersebut memperjelas hasil proses penyelamatan yang pada awal kejadian masih berlangsung. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa tersebut. Meski demikian, keselamatan penghuni tetap menjadi prioritas selama petugas mengendalikan api dan memastikan tidak ada orang yang tertinggal di area terdampak.

Berdasarkan laporan lanjutan, api berhasil dilokalisasi sekitar pukul 18.45 WIB. Petugas kemudian melakukan proses pendinginan mulai pukul 19.00 WIB untuk memastikan tidak ada titik api yang berpotensi kembali menyala. Operasi pemadaman dinyatakan selesai pada pukul 20.38 WIB.

Rentang waktu sejak laporan awal hingga operasi berakhir mencapai sekitar dua jam 21 menit. Dalam periode tersebut, petugas menangani kebakaran sekaligus menjalankan proses evakuasi penghuni. Namun, durasi penanganan itu tidak dengan sendirinya menggambarkan tingkat kerusakan karena luas area terdampak dan kondisi setiap bagian bangunan memerlukan pemeriksaan tersendiri.

Keterangan yang disampaikan setelah kejadian menyebutkan titik awal kebakaran diduga berada pada panel listrik di lantai delapan. Api kemudian dilaporkan menjalar hingga lantai lima, enam, tujuh, sembilan, dan sepuluh. Dugaan awal tersebut mengarah pada gangguan listrik, tetapi penetapan penyebab kebakaran tetap memerlukan hasil pemeriksaan pihak berwenang.

Pengelola apartemen sempat berupaya menangani api menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Namun, upaya awal tersebut dilaporkan belum berhasil menghentikan perkembangan kebakaran sehingga petugas pemadam kebakaran harus melanjutkan penanganan dengan armada dan personel yang lebih besar.

Laporan media yang mengutip keterangan petugas juga menyebutkan perkiraan kerugian akibat kebakaran mencapai Rp1,5 miliar. Angka tersebut merupakan taksiran awal yang diberitakan setelah kejadian, bukan hasil penilaian akhir yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan menyeluruh.

Baca Juga  Gara-Gara Kursi Rotan, Pria di Cilincing Tewas Dibacok Temannya

Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya kesiapan sistem keselamatan kebakaran di bangunan bertingkat. Gedung apartemen membutuhkan jalur evakuasi yang dapat digunakan, petunjuk keluar yang jelas, peralatan pemadam awal, serta prosedur darurat yang dipahami pengelola dan penghuni. Ketika asap menyebar, kemampuan penghuni mengikuti jalur evakuasi dan menerima arahan petugas dapat berpengaruh terhadap keselamatan mereka.

Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Bahaya Kebakaran mengatur kewajiban pemilik, pengguna, dan pengelola bangunan untuk berperan aktif dalam pencegahan kebakaran. Ketentuan itu mencakup penyediaan sarana penyelamatan jiwa, akses bagi petugas pemadam, sistem proteksi kebakaran, dan manajemen keselamatan kebakaran gedung.

Dalam insiden Apartemen Teluk Intan, pengerahan puluhan personel dan belasan unit pemadam disertai evakuasi puluhan penghuni menjadi bagian penting dari penanganan darurat. Setelah api padam, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan kondisi bangunan, menilai kerusakan, serta menelusuri penyebab pasti kebakaran.

Hingga informasi lanjutan diterbitkan, dugaan gangguan pada panel listrik menjadi salah satu petunjuk yang disampaikan terkait awal munculnya api. Namun, penyebab final dan besaran kerugian tetap perlu mengacu pada hasil pemeriksaan pihak berwenang. Tidak adanya korban jiwa menjadi kabar penting dari kejadian tersebut, sementara evaluasi keselamatan bangunan diperlukan agar risiko serupa dapat ditekan pada masa mendatang.