7 Demonstran Laporkan Pegawai PDAM Palopo ke Polisi, Ada Korban Lebam hingga Diinfus

Journalist Independent
Demonstran laporkan dugaan kekerasan yang libatkan pegawai PDAM Palopo, di Polres Palopo, Senin 2 November 2026.
Demonstran laporkan dugaan kekerasan yang libatkan pegawai PDAM Palopo, di Polres Palopo, Senin 2 November 2026.

Journalist Independent, PALOPO – Aksi unjuk rasa yang berujung dugaan kekerasan di Kantor PDAM Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel), kini berlanjut ke ranah hukum.

Tujuh demonstran dari Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) Luwu Raya mendatangi Polres Palopo untuk melaporkan dugaan pemukulan yang mereka alami saat menyampaikan aspirasi.

Para korban mendatangi Polres Palopo di Kelurahan Lagaligo, Kecamatan Wara, Senin (2/11/2026), sekitar pukul 15.00 Wita. Mereka mengaku mengalami sejumlah luka dan membawa bukti pemeriksaan medis untuk mendukung laporan tersebut.

Ketua GAM Luwu Raya, Ahmad Hanifullah, mengatakan tujuh laporan telah diajukan ke kepolisian. Kondisi korban bervariasi, mulai dari luka lebam hingga harus mendapatkan perawatan medis.

“Ada tujuh laporan yang masuk. Ada korban lebam, terkena cakaran, bahkan ada yang diinfus,” kata Ahmad.

Pelaporan itu sekaligus menjadi babak baru dalam polemik pelayanan air bersih di Palopo. Sebelum insiden terjadi, mahasiswa menggelar demonstrasi untuk mendesak pemberian kompensasi kepada pelanggan yang terdampak gangguan pasokan air serta evaluasi terhadap jajaran direksi PDAM.

Di tengah proses pelaporan, mahasiswa lainnya menggelar aksi solidaritas di depan Polres Palopo. Mereka meminta polisi segera mengusut dugaan pemukulan dan menangkap pihak yang bertanggung jawab.

Seorang orator menegaskan bahwa mahasiswa tidak akan berhenti menyuarakan tuntutan jika penyampaian pendapat justru dibalas dengan tindakan kekerasan.

“Kami mendesak Polres segera menangkap para pelaku,” serunya di hadapan massa aksi.

Tuntutan Kompensasi Air Berujung Kericuhan

Persoalan yang memicu demonstrasi bermula dari keluhan masyarakat mengenai layanan air bersih saat musim kemarau. Mahasiswa menilai pelanggan tetap menghadapi kewajiban pembayaran meskipun pasokan air tidak berjalan sebagaimana mestinya.

GAM Luwu Raya kemudian mendatangi Kantor PDAM Palopo sekitar pukul 11.27 Wita pada hari yang sama. Mereka membawa dua tuntutan utama, yakni kompensasi pembayaran bagi pelanggan terdampak dan evaluasi direksi PDAM.

Baca Juga  Mediasi Perselingkuhan Berujung Lempar Gelas, Wanita Ini Luka di Pelipis

Ahmad menjelaskan, demonstrasi awalnya berlangsung melalui orasi dan pertunjukan teatrikal menggunakan ember serta timba di depan gerbang kantor PDAM.

Namun, situasi disebut berubah ketika seorang pegawai PDAM diduga menendang ember yang digunakan mahasiswa dalam aksi teatrikal tersebut.

“Baru sekitar tiga orator menyampaikan aspirasi, tiba-tiba seorang pegawai datang menendang ember,” ungkap Ahmad.

Insiden itu kemudian berkembang menjadi dugaan aksi pemukulan terhadap sejumlah demonstran. Mahasiswa yang merasa menjadi korban memilih menempuh jalur hukum sekaligus melanjutkan aksi solidaritas.

Setelah berunjuk rasa di depan Polres Palopo, massa bergerak ke perempatan Lapangan Gaspa. Mereka kembali menyuarakan tuntutan kompensasi pembayaran air dan evaluasi direksi PDAM.

Hingga berita ini ditulis, Kapolres Palopo AKBP Arvin Hariyadi belum memberikan tanggapan terkait laporan para demonstran. Kasi Humas Polres Palopo AKP Marsuki juga belum memberikan jawaban atas permintaan konfirmasi.

Proses penanganan laporan kepolisian diharapkan dapat mengungkap kronologi kejadian serta menentukan pihak yang bertanggung jawab atas dugaan kekerasan tersebut. (*)