IHSG Rebound ke 5.096, Surplus Dagang RI Jadi Katalis Penguatan Bursa

Journalist Independent
Ilustrasi saham
Ilustrasi saham

Journalist Independent, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan keadaan pada perdagangan Senin, 2 November 2026. Sempat tertekan hingga menyentuh level 4.981, indeks saham Indonesia akhirnya ditutup menguat 0,79 persen ke posisi 5.096 setelah pasar merespons positif sejumlah indikator ekonomi nasional.

Surplus neraca perdagangan Indonesia yang mencapai US$3,36 miliar pada September 2026 menjadi salah satu sentimen utama yang menopang pemulihan pasar saham. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan konsensus ekonom sebesar US$1,82 miliar.

Penguatan IHSG juga berlangsung ketika nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan. Rupiah ditutup melemah 0,1 persen ke level Rp18.150 per dolar Amerika Serikat (AS), menandakan bahwa sentimen positif di pasar saham belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan mata uang domestik.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 4.981 hingga 5.125. Indeks sempat bertahan di zona merah sejak pagi hingga siang, sebelum akhirnya berbalik arah menjelang penutupan.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), total transaksi saham mencapai Rp12,42 triliun dengan volume 35,4 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 1,45 juta kali.

Sebanyak 315 saham ditutup menguat, sedangkan 285 saham melemah dan 118 saham lainnya tidak berubah. Indeks LQ45 turut menguat 0,54 persen ke posisi 517,88.

Surplus Dagang dan Manufaktur Menguatkan Sentimen Pasar

Penguatan IHSG ditopang sejumlah sektor, terutama barang baku yang naik 2,11 persen, energi sebesar 1,52 persen, serta infrastruktur yang menguat 1,41 persen. Sebaliknya, sektor kesehatan terkoreksi 0,64 persen.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar juga mencatatkan kenaikan signifikan. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) melonjak 11,28 persen, disusul PT Indika Energy Tbk (INDY) yang menguat 8,15 persen dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar 7,56 persen.

Baca Juga  Polemik Saham HSC dan MSCI Memanas, Analis Ungkap Dugaan Persaingan Manajer Investasi

Kenaikan juga terjadi pada saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) sebesar 7,44 persen, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar 6,2 persen, serta PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang naik 6 persen.

Dari sisi fundamental, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai US$27,59 miliar, tumbuh 11,87 persen secara tahunan. Sementara itu, impor tercatat US$24,23 miliar atau meningkat 18,41 persen. Selisih keduanya menghasilkan surplus perdagangan US$3,36 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan nonmigas yang mencapai US$5,67 miliar. Komoditas penyumbangnya meliputi lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia selama Januari-September 2026 mencatat surplus US$10,61 miliar.

Sentimen positif lainnya datang dari inflasi yang mulai melandai. BPS mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan 3,28 persen pada September. Angka tersebut juga berada di bawah perkiraan konsensus sebesar 3,25 persen.

Sementara itu, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan ekspansi yang semakin kuat. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang dirilis S&P Global mencapai 54 pada Oktober 2026, meningkat dari 52,4 pada bulan sebelumnya. Posisi di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur masih berada di zona ekspansi.

Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sejak Maret 2024. Indeks pesanan baru juga meningkat ke level tertinggi dalam lima tahun, diikuti kenaikan volume produksi.

Di kawasan Asia, penguatan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa regional yang ditutup di zona hijau, termasuk bursa Korea Selatan, China, India, Hong Kong, dan Malaysia.

Meski demikian, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian investor. Pergerakan IHSG selanjutnya akan bergantung pada kemampuan sentimen positif dari pertumbuhan ekonomi domestik untuk mengimbangi tekanan eksternal dan ketidakpastian pasar keuangan. (*)

Baca Juga  Hampir 3 Dekade Berakhir! Obligasi BLBI Lunas, Tapi Utang Pemerintah Tetap Ada