33 Negara Minta Warga Siapkan Stok Makanan dan Obat, Dunia Bersiap Hadapi Situasi Darurat?

Journalist Independent
Stok makanan. (dok. Unsplash)
Stok makanan. (dok. Unsplash)

Journalist Independent.com, JAKARTA – Bayangkan listrik tiba-tiba padam selama beberapa hari. Toko-toko tutup, jaringan komunikasi terganggu, air bersih sulit diperoleh, sementara pasokan makanan tidak lagi lancar. Dalam kondisi seperti itu, persediaan kebutuhan pokok di rumah bisa menjadi penentu bagi keluarga untuk bertahan sampai bantuan datang.

Situasi semacam inilah yang mulai menjadi perhatian sejumlah pemerintah di dunia. Sedikitnya 33 negara mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan darurat untuk menghadapi kemungkinan terjadinya krisis.

Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Berbagai ancaman kini menjadi perhatian, mulai dari konflik bersenjata, bencana alam, cuaca ekstrem, hingga serangan siber yang berpotensi melumpuhkan layanan penting.

Sejumlah negara bahkan meminta warganya menyiapkan kebutuhan dasar untuk bertahan setidaknya selama 72 jam atau tiga hari. Ada pula negara yang menganjurkan persediaan lebih lama sebagai langkah antisipasi apabila keadaan darurat berlangsung berkepanjangan.

Dilansir dari Newsweek, Rabu (28/10/2026), Perancis dan Inggris termasuk negara yang kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu bencana terjadi untuk mulai mempersiapkan kebutuhan darurat.

Pemerintah wilayah Normandia, Perancis, bahkan menyampaikan imbauan melalui media sosial pada Selasa (27/10/2026).

“Jangan menunggu keadaan darurat terjadi. Bersiaplah sekarang!” demikian pernyataan pemerintah wilayah tersebut.

Lantas, apakah dunia sedang menghadapi ancaman krisis besar hingga puluhan negara meminta warganya menyimpan makanan dan air?

Bukan Hanya Perang, Gangguan Listrik hingga Bencana Jadi Ancaman

Imbauan dari puluhan negara tersebut tidak berarti perang atau bencana besar akan segera terjadi. Langkah itu lebih merupakan bentuk antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat.

Dalam situasi normal, kebutuhan makanan, air bersih, obat-obatan, dan bahan bakar dapat diperoleh dengan mudah. Namun, keadaan bisa berubah ketika bencana besar melanda atau infrastruktur penting mengalami gangguan.

Baca Juga  Ukraina Lancarkan Serangan ke Jantung Energi Rusia di Siberia

Banjir dan badai, misalnya, dapat memutus akses jalan sehingga kendaraan pengangkut bahan pangan tidak bisa menjangkau suatu wilayah. Gempa bumi dapat merusak jaringan listrik dan air bersih. Sementara serangan siber berpotensi mengganggu sistem komunikasi, layanan keuangan, hingga distribusi barang.

Konflik bersenjata juga menjadi salah satu risiko yang diperhitungkan, terutama bagi negara-negara yang berada di tengah ketegangan geopolitik.

Ketika gangguan terjadi, masyarakat belum tentu bisa langsung membeli kebutuhan sehari-hari. Toko dapat tutup, transportasi terhenti, bahkan layanan darurat mungkin membutuhkan waktu untuk menjangkau seluruh wilayah terdampak.

Karena itu, pemerintah di sejumlah negara mulai mendorong masyarakat agar memiliki persediaan sendiri. Tujuannya sederhana, yakni memastikan setiap keluarga tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar selama masa awal krisis.

Perancis dan Inggris Minta Warga Siapkan Kebutuhan 72 Jam

Perancis menjadi salah satu negara yang cukup aktif mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.

Pemerintah wilayah Normandia meminta warga menyiapkan tas darurat yang berisi kebutuhan pokok untuk bertahan selama 72 jam. Isinya antara lain air minum, makanan tahan lama, obat-obatan, senter, dan radio bertenaga baterai.

Panduan kesiapsiagaan Perancis juga menyarankan setiap orang menyediakan sekitar enam liter air minum untuk kebutuhan selama tiga hari.

Anjuran ini didasarkan pada pertimbangan bahwa 72 jam pertama setelah bencana besar sering menjadi periode paling sulit. Pada masa tersebut, jaringan listrik, gas, air bersih, dan akses transportasi bisa mengalami gangguan. Bantuan pun tidak selalu dapat langsung menjangkau semua warga.

Inggris juga menyampaikan imbauan serupa. Pemerintahnya mendorong masyarakat memiliki persediaan kebutuhan dasar yang cukup untuk menghadapi gangguan layanan selama tiga hari.

Perdana Menteri Inggris bahkan pernah menyinggung persediaan makanan yang disimpannya di rumah ketika diwawancarai BBC Radio.

Baca Juga  Trump Batalkan Serangan ke Houthi di Menit Terakhir, Ini Alasannya

“Saya suka kacang-kacangan, jadi saya punya cukup banyak persediaannya di lemari, begitu juga sup. Saya pikir itulah jenis makanan yang akan saya sarankan untuk disimpan,” katanya.

Pesan tersebut menunjukkan bahwa persiapan menghadapi keadaan darurat tidak harus selalu rumit. Persediaan makanan sehari-hari yang tahan lama pun dapat membantu ketika akses terhadap kebutuhan pokok mendadak terputus.

Eropa Khawatir Konflik dan Serangan Siber Ganggu Kehidupan Warga

Kesiapsiagaan menghadapi krisis kini menjadi perhatian serius di kawasan Eropa. Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya ketegangan geopolitik, konflik bersenjata, ancaman serangan siber, serta risiko bencana akibat perubahan iklim mendorong pemerintah memperkuat perlindungan masyarakat.

Komisi Eropa memperkenalkan strategi Preparedness Union sebagai upaya meningkatkan kesiapan negara-negara anggotanya menghadapi berbagai situasi darurat.

Salah satu sasaran penting dalam strategi tersebut adalah membangun kemampuan masyarakat untuk bertahan secara mandiri selama sedikitnya 72 jam ketika terjadi krisis.

Namun, strategi ini tidak hanya berbicara mengenai persediaan makanan dan air. Pemerintah juga menaruh perhatian pada sistem peringatan dini, pendidikan kesiapsiagaan, perlindungan infrastruktur penting, serta koordinasi antara pemerintah dan sektor swasta.

Ancaman yang diperhitungkan pun semakin luas. Selain perang dan bencana alam, gangguan terhadap jaringan komunikasi, sistem pembayaran, pasokan energi, dan layanan kesehatan juga dapat menimbulkan dampak besar bagi kehidupan masyarakat.

Ketika sistem digital mengalami serangan, misalnya, layanan yang selama ini dianggap biasa bisa terganggu. Transaksi pembayaran, pengiriman barang, hingga komunikasi antarinstansi dapat terhambat.

Karena itulah, kesiapsiagaan masyarakat tidak lagi hanya dipandang sebagai urusan menghadapi bencana alam. Kemampuan bertahan ketika layanan publik terganggu juga menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi krisis modern.

Apa Saja yang Perlu Disiapkan di Rumah?

Meski setiap negara memiliki panduan berbeda, persediaan darurat pada dasarnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar selama beberapa hari.

Baca Juga  Buang Puntung Rokok Sembarangan, WNI di Malaysia Dipenjara 1 Bulan

Masyarakat dapat mulai menyiapkan air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, perlengkapan pertolongan pertama, senter, baterai cadangan, dan radio yang dapat digunakan tanpa listrik.

Dokumen penting sebaiknya disimpan di tempat yang aman dan mudah dibawa. Pengisi daya portabel atau power bank juga dapat membantu menjaga ponsel tetap menyala ketika pasokan listrik terputus.

Persediaan tersebut perlu disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga, termasuk kebutuhan bayi, lansia, maupun anggota keluarga yang memiliki kebutuhan obat rutin.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memastikan persediaan makanan dan obat-obatan tidak kedaluwarsa. Air minum juga perlu disimpan dengan cara yang aman dan diperiksa secara berkala.

Pada akhirnya, imbauan dari 33 negara bukanlah ajakan untuk panik atau memborong kebutuhan pokok. Pesan utamanya adalah agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar ketika keadaan darurat datang. Sebab, dalam tiga hari pertama setelah bencana atau krisis terjadi, kesiapan sederhana di rumah bisa sangat berarti bagi keselamatan keluarga. (wah)