Sekolah Sehat HiLo Sasar 1.000 Siswa di Makassar, Libatkan Guru hingga Pengelola Kantin

Journalist Independent
Hilo
Peluncuran Program Sekolah Sehat HiLo bersama Pemerintah Kota Makassar. (dok. istimewa)

Journalist Independent.com, MAKASSAR – Upaya membangun kebiasaan hidup sehat di kalangan remaja tidak cukup hanya melalui edukasi di ruang kelas. Lingkungan sekolah, kebiasaan makan, aktivitas fisik, hingga peran guru dan orang tua juga ikut menentukan pola hidup siswa.

Hal inilah yang menjadi perhatian Nutrifood melalui peluncuran Program Sekolah Sehat HiLo bersama Pemerintah Kota Makassar, Jumat (30/10/2026). Program tersebut dirancang untuk membangun ekosistem hidup sehat di lingkungan sekolah dengan melibatkan siswa, guru, orang tua, hingga mitra kantin.

Di Makassar, program ini akan berlangsung selama tiga bulan dan menyasar lima sekolah dengan lebih dari 1.000 siswa. Kelima sekolah tersebut yakni SMA Negeri 22, SMA Negeri 17, SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, serta SMK Telkom Makassar.

Program Sekolah Sehat HiLo merupakan bagian dari inisiatif HiLo Teen, salah satu merek dari Nutrifood yang menyasar kalangan remaja. Melalui program ini, kebiasaan hidup sehat diharapkan tidak hanya menjadi materi yang disampaikan sesekali, tetapi tumbuh menjadi bagian dari keseharian warga sekolah.

Secara nasional, program ini direncanakan menjangkau 11.000 siswa di 55 sekolah yang tersebar di 11 kota di Indonesia.

Satu dari Enam Remaja SMP Alami Gizi Lebih

Pembentukan kebiasaan sehat sejak usia sekolah menjadi penting karena masa remaja merupakan periode pertumbuhan yang membutuhkan perhatian terhadap asupan gizi dan aktivitas fisik.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi gizi lebih, termasuk overweight dan obesitas, mencapai 16,2 persen pada remaja usia 13–15 tahun. Sementara pada kelompok usia 16–18 tahun angkanya tercatat 12,1 persen.

Artinya, sekitar satu dari enam remaja usia SMP dan satu dari delapan remaja usia SMA mengalami kelebihan berat badan.

Baca Juga  Gandeng Komunitas Lari, HiLo Kenalkan Dua Produk Protein Terbaru di Makassar

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena kelebihan berat badan pada masa remaja dapat meningkatkan risiko obesitas ketika dewasa. Obesitas sendiri merupakan salah satu faktor risiko penyakit tidak menular, seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, stroke, hingga kanker.

Persoalan lainnya terlihat dari aktivitas fisik. SKI 2023 mencatat 58 persen remaja usia 10–14 tahun dan 50,4 persen remaja usia 15–19 tahun memiliki tingkat aktivitas fisik yang kurang.

Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak dan remaja melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari.

Pola konsumsi juga menjadi perhatian. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula, garam, dan lemak berlebih dapat berdampak terhadap kesehatan jika terus berlangsung.

Berdasarkan SKI 2023, sebanyak 47,5 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali dalam sehari. Sementara anjuran Kementerian Kesehatan melalui Permenkes Nomor 30 Tahun 2013 menetapkan batas konsumsi harian gula maksimal 50 gram, garam 5 gram, dan lemak 67 gram per orang.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan kebiasaan sehat perlu dimulai sejak dini, termasuk melalui lingkungan sekolah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja.

Empat Pilar Bangun Ekosistem Sekolah Sehat

Berbeda dari program edukasi yang hanya menyasar pengetahuan siswa, Sekolah Sehat HiLo mengusung pendekatan yang lebih menyeluruh. Program ini memiliki empat pilar yang diarahkan untuk membangun kebiasaan sehat melalui keterlibatan berbagai unsur di sekolah.

Pertama, mendorong siswa agar lebih aktif bergerak dan menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari rutinitas. Kedua, memperkuat peran guru sebagai penggerak budaya hidup sehat sekaligus peduli lingkungan.

Ketiga, melibatkan mitra kantin sekolah untuk mendukung tersedianya pilihan konsumsi yang lebih sehat. Keempat, menghadirkan dukungan media pembelajaran agar pesan mengenai kesehatan dapat terus disampaikan dan diterapkan dalam keseharian sekolah.

Baca Juga  Prabowo Ingin Gratiskan Kuliah, Brian Yuliarto Hitung Anggaran di Seluruh PTN

Dengan pendekatan tersebut, perubahan perilaku tidak hanya dibebankan kepada siswa. Guru, orang tua, dan pengelola kantin juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pilihan hidup sehat.

Area kantin, misalnya, menjadi salah satu bagian penting karena berkaitan langsung dengan pilihan makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa selama berada di sekolah. Sementara guru dapat membantu membangun kebiasaan melalui kegiatan belajar dan aktivitas sehari-hari.

Libatkan Dinas Kesehatan hingga Lingkungan Hidup