Musim Hujan Mundur hingga 30 Hari, BMKG Ingatkan Ancaman Banjir dan Longsor Akhir 2026

Journalist Independent
BMKG Prediksi Musim Hujan Mulai Datang Oktober 2026.
Ilustrasi hujan di Indonesia. BMKG memprediksi musim hujan mulai datang secara bertahap pada Oktober 2026 setelah puncak musim kemarau.

Journalist Independent, MAKASSAR – Masyarakat Indonesia perlu bersiap menghadapi perubahan pola cuaca menjelang akhir 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan datang lebih lambat sekitar 20 hingga 30 hari akibat pengaruh El Nino.

Kondisi ini membuat masyarakat masih perlu mewaspadai cuaca panas, meskipun sejumlah wilayah diperkirakan mulai memasuki periode penghujan pada November hingga Desember 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, kemunduran awal musim hujan tidak serta-merta membuat jumlah curah hujan sepanjang musim berkurang. Sebaliknya, hujan diperkirakan tetap berada dalam kategori normal, tetapi terkonsentrasi dalam periode yang lebih singkat.

Perubahan pola tersebut menjadi perhatian karena hujan yang turun dalam waktu relatif pendek dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi basah.

Banjir, genangan, dan tanah longsor menjadi ancaman yang perlu diantisipasi masyarakat maupun pemerintah daerah ketika intensitas hujan meningkat.

Faisal menyampaikan perkiraan tersebut di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin, 26 Oktober 2026. Menurut dia, pengaruh El Nino diperkirakan menggeser awal musim hujan di berbagai wilayah Indonesia.

“Musim hujan diperkirakan mundur dua hingga tiga dasarian, atau sekitar 20–30 hari,” kata Faisal.

El Nino Membuat Musim Hujan Datang Lebih Lambat

El Nino merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Perubahan kondisi laut tersebut dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer dan distribusi curah hujan di sejumlah kawasan, termasuk Indonesia.

Ketika pengaruh El Nino menguat, beberapa wilayah Indonesia berpotensi mengalami penurunan curah hujan atau periode kering yang lebih panjang. Dampaknya terhadap waktu kedatangan musim hujan dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.

Dalam perkiraan BMKG, kemunduran musim hujan perlu menjadi perhatian karena masyarakat masih berpotensi menghadapi suhu panas ketika memasuki periode peralihan menuju musim penghujan.

Baca Juga  BMKG Prediksi 2 Daerah di Sulsel Berpotensi Hujan Hari Ini

Situasi tersebut membuat kesiapsiagaan tidak cukup hanya berfokus pada banjir dan longsor. Masyarakat juga perlu memperhatikan kebutuhan air bersih, kondisi lingkungan, serta potensi kekeringan lokal selama hujan belum turun secara konsisten.

Meski demikian, perkiraan mundurnya musim hujan secara umum tidak berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami kondisi cuaca yang sama. Waktu awal musim hujan bergantung pada karakteristik iklim setiap daerah. Karena itu, masyarakat perlu mengikuti pembaruan prakiraan cuaca dan informasi musim dari BMKG sesuai wilayah masing-masing.

Hujan Normal, tetapi Terkumpul dalam Periode Lebih Pendek

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dari perkiraan BMKG adalah karakteristik curah hujan selama musim penghujan. Meskipun jumlah hujan diperkirakan masih berada dalam kategori normal, waktu turunnya hujan berpotensi menjadi lebih singkat.

BMKG menggunakan rata-rata klimatologi selama 30 tahun terakhir sebagai salah satu acuan untuk menentukan sifat hujan. Berdasarkan acuan tersebut, kategori normal menunjukkan bahwa jumlah curah hujan diperkirakan berada di sekitar nilai rata-rata klimatologis.

Namun, kategori normal tidak menjamin bahwa hujan akan turun secara merata setiap hari. Curah hujan yang terkonsentrasi dalam rentang waktu tertentu tetap dapat memicu persoalan, terutama di daerah dengan sistem drainase terbatas, kawasan permukiman padat, serta wilayah yang memiliki kerentanan terhadap longsor.

Faisal menjelaskan, sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Sementara itu, puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

“Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Desember, Januari, dan Februari,” ujarnya.

Periode tersebut bertepatan dengan pergantian tahun, ketika aktivitas masyarakat, mobilitas perjalanan, dan kegiatan ekonomi tetap berlangsung. Karena itu, kesiapan menghadapi cuaca ekstrem menjadi penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

Baca Juga  Alumni Polri Berduka, Jenazah AKP Ryanto Ulil Dijadwalkan Pulang ke Makassar

Banjir dan Longsor Perlu Diantisipasi Sejak Sekarang

Kemunduran awal musim hujan berpotensi memengaruhi waktu persiapan masyarakat dalam menghadapi peningkatan curah hujan. Ketika hujan mulai turun secara lebih intensif, kondisi lingkungan yang belum siap dapat memperbesar dampak bencana.

Di kawasan perkotaan, saluran drainase yang tersumbat sampah dapat menghambat aliran air dan meningkatkan risiko genangan hingga banjir. Sementara itu, daerah perbukitan dan lereng dengan kondisi tanah labil perlu mewaspadai longsor, terutama setelah hujan berlangsung dengan intensitas tinggi.

Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai juga perlu memperhatikan perubahan tinggi muka air, khususnya ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu. Air dapat mengalir menuju kawasan permukiman meskipun hujan di lokasi tersebut tidak terlalu deras.

Pemerintah daerah dapat mengantisipasi risiko tersebut melalui pemeriksaan saluran air, pembersihan drainase, pemantauan daerah rawan longsor, serta penyiapan jalur dan lokasi evakuasi. Kesiapan petugas dan sarana penanganan darurat juga diperlukan agar respons dapat berlangsung lebih cepat ketika bencana terjadi.

Di sisi lain, masyarakat bisa mulai membersihkan lingkungan sekitar rumah, memastikan saluran pembuangan air tidak tersumbat, dan mengenali jalur evakuasi terdekat. Warga yang tinggal di kawasan rawan longsor perlu memperhatikan tanda-tanda perubahan kondisi tanah, seperti munculnya retakan atau pergerakan pada lereng.

Langkah tersebut sebaiknya dilakukan sebelum curah hujan meningkat. Menunggu sampai banjir atau longsor terjadi justru dapat mempersempit waktu untuk menyelamatkan diri dan mengamankan barang-barang penting.

Sulawesi Selatan Juga Perlu Memperhatikan Perubahan Cuaca

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, perkiraan mundurnya musim hujan menjadi pengingat untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca di tingkat lokal. Kondisi di setiap kabupaten dan kota dapat berbeda, sehingga perkiraan musim secara nasional tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya acuan untuk menentukan waktu hujan di suatu wilayah.

Baca Juga  Bulog Hadirkan Beras Gratis untuk Warga Makassar Lewat GPM Serentak

Wilayah perkotaan seperti Makassar perlu memperhatikan potensi genangan ketika hujan deras terjadi, terutama di kawasan dengan drainase yang kurang memadai. Sementara itu, daerah yang memiliki lereng, perbukitan, atau permukiman di sekitar aliran sungai perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor dan banjir.

Petani juga perlu mencermati perkembangan awal musim hujan karena perubahan waktu turunnya hujan dapat memengaruhi penentuan jadwal tanam. Informasi prakiraan musim dapat membantu mereka menyesuaikan persiapan lahan dan kebutuhan air agar risiko gangguan produksi dapat ditekan.

Meski begitu, waktu tanam tetap perlu mempertimbangkan kondisi setempat dan ketersediaan air. Hujan yang datang lebih lambat dapat memengaruhi persiapan pertanian, sedangkan hujan yang terkonsentrasi dalam waktu pendek berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila berlangsung dengan intensitas tinggi.

BMKG mengingatkan bahwa kewaspadaan perlu berlangsung hingga akhir 2026 dan awal 2027. Masyarakat diharapkan tidak menganggap kategori hujan normal sebagai jaminan bahwa risiko bencana akan rendah.

“Bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama,” kata Faisal.

Dengan perkiraan musim hujan yang mundur hingga sekitar satu bulan, pemerintah daerah dan masyarakat perlu menggunakan waktu yang tersedia untuk mempersiapkan lingkungan, memperkuat kesiapsiagaan, serta memantau informasi cuaca terbaru.

Langkah antisipasi sejak dini menjadi penting agar perubahan pola musim tidak berkembang menjadi bencana yang menimbulkan kerugian lebih besar. (*)