Journalist Independent, Jakarta – Danantara Indonesia menargetkan jumlah perusahaan di bawah naungannya menyusut dari 1.074 menjadi kurang dari 200 entitas pada 2030. Penataan dilakukan melalui konsolidasi, likuidasi, restrukturisasi, dan transformasi bisnis untuk meningkatkan efisiensi serta profitabilitas BUMN.
“Kalau kita gagal mengelola BUMN dengan baik, Danantara Indonesia tidak akan bertahan. Kuncinya adalah bagaimana kita meningkatkan kualitas BUMN,” ujar COO Danantara Indonesia Dony Oskaria dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Dony mengungkapkan 52% dari 1.074 perusahaan BUMN mengalami kerugian hingga Rp23 triliun per tahun. Sementara itu, struktur perusahaan yang berlapis disebut memicu inefisiensi sekitar US$ 2 miliar atau sekitar Rp 31 triliun setiap tahun.
“Lebih mudah bagi saya mengelola delapan perusahaan yang menyumbang 97% dividen daripada mengelola 1.074 perusahaan,” katanya.
Siapkan Konsolidasi dan Likuidasi
Danantara menyusun peta jalan transformasi lima tahun dengan mempertimbangkan standar global, kinerja keuangan, prospek industri, dan kapasitas internal masing-masing perusahaan. Perusahaan yang bergerak di sektor sejenis juga akan digabung untuk menyederhanakan struktur bisnis.
Dalam rencana penataan tersebut, Danantara akan mengonsolidasikan sekitar 200 perusahaan, melikuidasi 213 perusahaan, menyehatkan keuangan 15 perusahaan, serta merestrukturisasi 280 perusahaan non-inti. Langkah ini menjadi bagian dari target penyusutan jumlah entitas hingga kurang dari 200 pada 2030.
Proses perampingan telah berjalan dalam 18 bulan terakhir dengan 364 perusahaan ditata. Danantara menargetkan 750 perusahaan selesai ditutup, digabung, atau dikonsolidasikan pada akhir 2026.
Klaim Transformasi Mulai Berdampak
Danantara melaporkan sejumlah hasil dari perubahan model bisnis BUMN. Laba bersih Semen Indonesia disebut meningkat 427%, sedangkan laba bersih Telkom Indonesia naik 233%.
Di sektor energi, penggabungan 3 anak usaha hilir Pertamina disebut menghemat biaya hingga US$ 1 miliar dalam 6 bulan. Sementara itu, porsi pendapatan non-aeronautika di sektor bandara meningkat dari 15% menjadi 30%, dan rata-rata belanja penumpang naik di atas 50% setelah pembenahan tata ruang terminal.
“Transformasi ini belum selesai. Kami akan terus melakukan perubahan satu per satu terhadap perusahaan-perusahaan milik rakyat Indonesia,” tutur Dony.
BUMN Ditargetkan Melantai di Bursa pada 2029-2030
Danantara juga merencanakan pembenahan kualitas sumber daya manusia (SDM), budaya kerja, inovasi teknologi, dan diversifikasi bisnis. Pada 2029-2030, BUMN dengan kinerja yang dinilai baik akan didorong untuk melantai di bursa atau go public.
Pada 2026, Danantara menargetkan total laba bersih BUMN mencapai Rp 360 triliun. Lembaga tersebut juga menargetkan setoran dividen sekitar Rp 200 triliun ke kas negara untuk mendukung pendanaan investasi.
“Kita akan go public, tahun 2029 dan 2030 kita harapkan kita hanya akan tertinggal untuk class companies under Danantara Indonesia,” ucap Dony. (*)






