Journalist Independent.com, JAKARTA – Pemadaman darat, operasi udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus digalakkan oleh seluruh stakeholder. Penguatan operasi dilakukan dengan memanfaatkan meningkatnya potensi pertumbuhan awan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengklaim titik hotspot Karhutla menurun. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 1.336 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
Jumlah tersebut turun 14 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 1.350 hotspot.
“Namun, kondisi di enam provinsi prioritas menunjukkan dinamika yang berbeda. Jumlah hotspot pada enam provinsi prioritas meningkat dari 1.078 menjadi 1.103 titik. Kalimantan Tengah masih mencatat hotspot tertinggi sebanyak 785 titik, meskipun turun dari 874 titik sehari sebelumnya. Kalimantan Barat mengalami peningkatan cukup tajam dari 39 menjadi 184 hotspot,” demikian keterangan resmi dikutip dari situs resmi Kemenhut, Minggu (25/10/2026)
Jambi juga meningkat dari 7 menjadi 46 titik. Sementara Sumatera Selatan mencatat 58 titik, Kalimantan Selatan turun menjadi 30 titik, dan Riau tetap nihil hotspot high confidence.
Penurunan hotspot tidak serta-merta membuat operasi di lapangan dikurangi. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, dan unsur terkait masih melakukan pemadaman serta pendinginan di sejumlah lokasi yang mengalami kebakaran.
Di Sumatera Selatan, pemadaman antara lain dilakukan di Ogan Ilir, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin. Di Desa Ibul Besar 1, Ogan Ilir, serta Desa Santan Sari, Banyuasin, api telah berhasil dipadamkan. Namun operasi masih berlanjut di sejumlah lokasi yang menyisakan titik api, terutama pada lahan bergambut.
Kalteng Terparah
Di Kalimantan Tengah, operasi pemadaman juga masih berlangsung intensif. Di Desa Tanjung Taruna, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, tim BKO Manggala Agni masih melakukan pemadaman pada kawasan bergambut. Operasi di lokasi tersebut telah berlangsung beberapa hari dan masih memerlukan penanganan lanjutan.
Tim Manggala Agni juga melakukan pembasahan lahan, patroli, dan monitoring di KHDTK Tumbang Nusa, Pulang Pisau, untuk mencegah api kembali muncul dan menyebar. Upaya serupa dilakukan di sejumlah lokasi lain di Kalimantan Tengah dengan karakter kebakaran permukaan maupun kebakaran bawah pada gambut.
“Penguatan penanganan juga dilakukan langsung di Kalimantan Barat. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Jumat (23/10) memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla di Kabupaten Ketapang bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, serta jajaran teknis Kementerian Kehutanan. Menhut menekankan bahwa tren penurunan hotspot harus menjadi momentum untuk mempercepat penanganan dan bukan alasan untuk mengurangi kewaspadaan,” tulisnya.
Untuk memperkuat operasi di Ketapang, Kementerian Kehutanan menyiapkan 104 personel tambahan. Sebanyak 20 personel diarahkan ke Cagar Alam Muara Kendawangan–Desa Seriam, 44 personel ke Desa Pembedilan, dan 40 personel ke wilayah PBPH PT Buana Megatama Jaya. Penugasan dilakukan secara bertahap pada 23–26 Oktober dengan masa operasi selama 14 hari.
Di sela penanganan karhutla di Ketapang, Menhut juga meninjau Pusat Rehabilitasi Orangutan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Menhut melihat langsung fasilitas rehabilitasi, klinik kesehatan satwa, serta kondisi orangutan yang sedang menjalani perawatan. Kunjungan tersebut menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya ditujukan untuk memadamkan api, tetapi juga melindungi satwa liar dan habitatnya.





