NTT โ Ketika tanah berguncang dan rumah tak lagi terasa aman, ribuan warga Nusa Tenggara Timur (NTT) memilih meninggalkan tempat tinggal mereka.
Sebagian membawa barang seadanya. Sebagian lainnya hanya membawa keluarga, lalu mencari tempat yang dianggap lebih aman dari ancaman gempa susulan.
Hingga Selasa (18/8/2026), sebanyak 40.040 warga tercatat mengungsi setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang sejumlah wilayah NTT.
Angka tersebut masih sementara. Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih melakukan pendataan dan verifikasi di sejumlah wilayah terdampak.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, jumlah pengungsi yang berhasil dihimpun petugas di lapangan mencapai 40.040 jiwa.
โData sementara pengungsi saat ini yang kami kumpulkan ada 40.040 jiwa,โ kata Berton dalam pemaparan perkembangan penanganan gempa NTT melalui siaran YouTube BNPB, Selasa (18/8/2026).
Namun, Berton mengingatkan agar angka tersebut tidak langsung dimaknai sebagai jumlah rumah yang mengalami kerusakan.
Menurutnya, keputusan warga untuk mengungsi tidak selalu berarti tempat tinggal mereka mengalami kerusakan akibat gempa.
โData pengungsi itu sebesar 40.040 jiwa. Ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, jadi perlu kita hati-hati untuk menerjemahkannya,โ ujarnya.
Manggarai dan Nagekeo Dipenuhi Pengungsi
BNPB mencatat warga yang mengungsi tersebar di sejumlah kabupaten di NTT.
Kabupaten Manggarai menjadi salah satu daerah dengan jumlah pengungsi cukup besar. Sebanyak 6.487 warga tercatat mengungsi di wilayah tersebut.
Di Manggarai Timur, sebanyak 966 warga berada di posko pengungsian BPBD.
Namun, jumlah warga yang memilih mengungsi secara mandiri jauh lebih besar. Sekitar 14.000 warga Manggarai Timur dilaporkan meninggalkan rumah dan mengungsi secara mandiri.
Sementara di Manggarai Barat, BNPB mencatat 600 warga berada di lokasi pengungsian.
Kabupaten Nagekeo mencatat 6.221 pengungsi, sedangkan Kabupaten Sikka mencapai 5.681 orang.
Di wilayah lainnya, sebanyak 3.666 warga mengungsi di Kabupaten Ende dan 1.920 orang di Kabupaten Ngada.
Data tersebut masih dapat berubah karena proses pendataan dan verifikasi terus dilakukan petugas di lapangan.
Rumah Ditinggalkan, Keluarga Jadi Prioritas
Bagi sebagian warga, keputusan meninggalkan rumah bukan perkara mudah.
Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung harus ditinggalkan sementara. Malam yang biasanya dilewati di kamar sendiri berubah menjadi tidur di posko, halaman, atau tempat terbuka bersama warga lainnya.
Namun, setelah gempa besar mengguncang, rasa aman menjadi kebutuhan paling utama.
BNPB memastikan proses pendataan terus dilakukan agar bantuan dan penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi di setiap wilayah terdampak.
Jumlah pengungsi juga masih sangat mungkin berubah seiring proses verifikasi dan pembaruan data di lapangan.
Untuk sementara, puluhan ribu warga memilih berada jauh dari rumah.
Bukan karena mereka ingin pergi.
Mereka hanya ingin memastikan satu hal: keluarga tetap aman setelah tanah berguncang.
Wartawan: Andi, Editor: Andi






