Journalist Independent, JAKARTA – Hubungan diplomatik Indonesia dan Israel yang tidak terjalin secara resmi ternyata tidak menghentikan aktivitas perdagangan kedua negara.
Sejumlah produk buatan Indonesia tetap menemukan pasar di Israel, mulai dari minyak sawit hingga produk kertas, alas kaki, pakaian, dan mesin elektronik.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (2/11/2026) memperlihatkan aktivitas ekspor Indonesia ke Israel mencakup beragam kelompok komoditas.
Artinya, perdagangan kedua negara tidak hanya bertumpu pada Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah sebagaimana yang selama ini banyak diketahui.
Produk turunan sawit seperti margarin turut masuk dalam daftar barang yang dikirim ke negara tersebut. Indonesia juga mengekspor lemak babi, lemak hewan sapi, domba, dan kambing.
Selain produk pangan, pasar Israel turut menerima barang industri asal Indonesia. Komoditas yang tercatat meliputi kertas dan karton, mesin serta perlengkapan elektrik, alas kaki, pakaian rajutan beserta aksesorinya, hingga serat stapel buatan.
Daftar tersebut masih mencakup bahan kimia organik, berbagai produk kimia, barang dari besi dan baja, serta ampas dan sisa industri makanan.
Secara keseluruhan, nilai ekspor Indonesia ke Israel mencapai US$199,2 juta sepanjang Januari-September 2026. Meski terlihat besar secara nominal, kontribusinya hanya sekitar 0,09 persen terhadap total ekspor kumulatif Indonesia.
Nilai tersebut juga mengalami penurunan dibandingkan capaian 2025 yang mencapai US$249,8 juta. Sementara pada 2024, ekspor Indonesia ke Israel tercatat sebesar US$183,6 juta.
Indonesia Juga Impor dari Israel
Aktivitas perdagangan ternyata tidak hanya berlangsung dari Indonesia menuju Israel. BPS juga mencatat adanya barang-barang asal Israel yang masuk ke pasar Indonesia.
Nilai impor Indonesia dari Israel pada 2024 tercatat mencapai US$54,2 juta. Data ini memperlihatkan bahwa hubungan perdagangan kedua negara tetap berlangsung meskipun keduanya tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.
Di tengah aktivitas ekspor-impor tersebut, perdagangan internasional Indonesia secara keseluruhan masih mencatatkan kinerja positif.
BPS melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mengalami surplus US$3,36 miliar. Namun, angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan surplus Agustus 2026 yang mencapai US$3,55 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus perdagangan September terutama ditopang komoditas nonmigas. Sebaliknya, perdagangan sektor migas masih mengalami defisit sehingga mengurangi surplus secara keseluruhan.
“Pada September 2026 neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$3,36 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers virtual, Senin (2/11/2026).
Capaian tersebut menunjukkan perdagangan luar negeri Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan melalui berbagai kelompok produk.
Di sisi lain, data ekspor ke Israel memperlihatkan luasnya jenis komoditas Indonesia yang menjangkau pasar internasional, meskipun hubungan diplomatik dengan negara tujuan tidak terjalin secara resmi. (*)






