Update Harga Emas Hari Ini 31 Oktober, Berikut Daftar Lengkapnya

Journalist Independent
Susunan emas replika. (dok. Wahdah/Journalist Independent)

Faktor lainnya datang dari pasar saham teknologi. Kinerja pendapatan sejumlah perusahaan teknologi yang mengecewakan kembali memunculkan keraguan investor terhadap besarnya dana yang digelontorkan untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Situasi tersebut memicu aksi jual saham teknologi. Investor pun mulai mengatur ulang portofolionya, termasuk kemungkinan melepas kepemilikan emas untuk menutup kerugian di instrumen investasi lain.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia turut memperumit keadaan. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$103 per barel, level tertinggi sejak Mei.

Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk kemungkinan berlanjutnya serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Harga energi yang semakin mahal berpotensi membuat inflasi sulit turun. Kondisi ini bisa membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Data inflasi Amerika Serikat juga menunjukkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda. Inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) umum pada September tercatat naik 0,5 persen secara bulanan dan 3,6 persen secara tahunan. Sementara inflasi inti meningkat 0,3 persen secara bulanan dan 3,1 persen secara tahunan.

Presiden Federal Reserve Richmond, Thomas Barkin, turut menyoroti investasi besar-besaran di sektor AI. Menurutnya, lonjakan investasi tersebut ikut menekan rantai pasokan dan berpotensi mendorong inflasi.

Ekonom TD Securities juga menilai kuatnya permintaan domestik Amerika Serikat, terutama dari belanja konsumen dan investasi AI, menjadi salah satu faktor yang membuat tekanan inflasi masih bertahan.

Mereka bahkan memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin hingga kuartal pertama 2027.

Kemendag Ikut Turunkan Harga Referensi Emas

Tekanan harga emas dunia juga tercermin dalam penetapan harga patokan ekspor (HPE) dan harga referensi (HR) emas oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk periode pertama November 2026.

Baca Juga  Harga Emas Antam Naik Rp15 Ribu, Tembus Rp2,638 Juta per Gram

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, mengatakan penguatan mata uang utama dunia dan kenaikan imbal hasil obligasi di pasar internasional turut memengaruhi penurunan harga acuan emas.

“Penurunan HPE dan HR emas pada periode pertama November 2026 dipengaruhi penguatan nilai tukar mata uang utama dunia serta peningkatan imbal hasil obligasi di pasar internasional. Kondisi ini mendorong investor mengalihkan investasinya ke instrumen keuangan yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif dibandingkan emas,” kata Tommy dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

Untuk periode 1–14 November 2026, HPE emas ditetapkan sebesar US$132.756,02 per kilogram. Angka tersebut turun 1,68 persen dibandingkan periode kedua Oktober 2026 yang mencapai US$135.024,36 per kilogram.

Sementara itu, HR emas juga mengalami penurunan dari US$4.199,73 menjadi US$4.129,18 per troy ounce.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 2061 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar.

Kemendag menetapkan HPE dan HR emas berdasarkan data serta masukan teknis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dengan mengacu pada publikasi London Bullion Market Association (LBMA). Prosesnya juga melibatkan sejumlah kementerian terkait.

Harga Emas Masih Berpotensi Tertekan

Dari sisi teknikal, pergerakan harga emas masih menunjukkan tren pelemahan. Harga XAU/USD tercatat berada di bawah rata-rata pergerakan 50, 100, dan 200 hari. Kondisi ini menandakan tekanan jual masih cukup kuat.

Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar level 31, mendekati area jenuh jual. Sementara indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di zona negatif.

Dalam jangka pendek, level US$3.900 menjadi area penting yang perlu diperhatikan. Jika harga menembus ke bawah level tersebut, emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju US$3.800.

Baca Juga  Kenapa Sulit Lepas dari Lilitan Pinjol? Bayar Utang Pakai Utang Baru

Sebaliknya, jika terjadi pemulihan, level US$4.000 menjadi hambatan awal. Selanjutnya, emas perlu melewati area US$4.100 untuk membuka peluang penguatan lebih lanjut.

Dengan berbagai tekanan tersebut, pergerakan emas masih akan sangat dipengaruhi arah kebijakan The Fed, perkembangan inflasi Amerika Serikat, penguatan dolar, serta situasi geopolitik global. (wah)