Journalist Independent.com, MAKASSAR – Masyarakat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) diminta mewaspadai potensi angin kencang dan udara panas pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Berdasarkan prakiraan cuaca Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah IV, kondisi cuaca di Sulsel secara umum diprakirakan cerah berawan pada pagi hari. Meski demikian, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi di sejumlah daerah.
Wilayah yang berpotensi diguyur hujan pada pagi hari meliputi Wajo, Bone, Soppeng, Barru, Luwu Utara, Luwu, dan Palopo.
Memasuki siang hingga sore hari, hujan ringan diprakirakan terjadi di sebagian besar wilayah Sulsel. Sementara hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Tana Toraja, Pinrang, Sidrap, dan Wajo.
Adapun wilayah Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Takalar, Jeneponto, Makassar, Maros, dan Kepulauan Selayar diprakirakan berawan.
Pada malam hari, cuaca kembali cerah berawan. Namun, hujan ringan masih berpotensi terjadi di Luwu Timur, Luwu Utara, Palopo, Luwu, dan Toraja Utara. Sementara pada dini hari, kondisi cuaca diprakirakan cerah berawan.
Selain potensi hujan, masyarakat juga perlu memperhatikan peringatan dini BMKG terkait angin kencang. Kondisi ini berpotensi terjadi di Bantaeng, Takalar, Sidrap, Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, dan Jeneponto.
BMKG juga mengingatkan potensi udara panas di sejumlah wilayah, yakni Barru, Wajo, Soppeng, Gowa, Jeneponto, Makassar, Maros, Pangkep, Palopo, Parepare, Pinrang, dan Takalar.
Untuk kondisi atmosfer, suhu udara di Sulsel diprakirakan berkisar 19–35 derajat Celsius dengan kelembapan udara 68–100 persen. Angin bertiup dari arah utara hingga timur dengan kecepatan 10–27 kilometer per jam.
Sementara itu, konsentrasi Particulate Matter 2.5 (PM2.5) atau partikel halus di udara tercatat berkisar 15,5–84,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³), dengan kategori sedang.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap perubahan cuaca, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Pengguna jalan dan warga yang tinggal di wilayah berpotensi angin kencang juga perlu berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan.
Prakiraan cuaca ini dikeluarkan Prakirawan BBMKG Wilayah IV pada 31 Oktober 2026 pukul 06.30 WITA.
Kualitas Udara Makassar Sempat Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat
Kualitas udara di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) makin memburuk. Berdasarkan laporan BMKG Wilayah IV Makassar Rabu (14/10/2029) pada pagi hari mencapai 156,5 µg/m3, masuk kategori sangat tidak sehat.
Angka itu terus meningkat. Sejak dini hari tadi, Rabu (14/10/2026), mencapai 127,7 µg/m3, meningkat pada pagi hari 158,7 µg/m3.
Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Sulawesi Selatan, Rizky Yudha, membenarkan bahwa kualitas udara di Makassar masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
“Pada jam 9 WITA naik menjadi kategori sangat tidak sehat,” ucapnya, Rabu (14/10/2026).
Udara Makassar Tidak Sehat
Hari ini, Senin (15/10/2026) kualitas udara di Sulsel kembali dalam katergori tidak sehat. Sejauh ini, sejumlah daerah masuk dalam kategori ini, kecuali Sulsel bagian Utara. Penurunan kualitas udara ini terjadi terutama pada pagi hingga menjelang siang hari.
Rizky Yudha, menyatakan penyebaran partikulat hampir merata di setiap Kabupaten/Kota di Sulsel yang berbeda-beda nilai PM2.5 nya.
“Secara penyebaran partikulatnya hampir merata Se Sulsel, kecuali Sulsel bagian Utara. Tapi untuk melihat nilai masing-masing kabupaten perlu dicek juga datanya di Dinkes atau DLH,” kata Rizky kepada wartawan, Senin (12/10/20206).
Rizky mengatakan, saat ini, kualitas udara berada pada konsentrasi PM2.5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, tercatat mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik (µg/m3) dengan kategori tidak sehat.
“Partikulatnya, sampai hari ini PM2.5 dan untuk hari ini, masih menunjukkan kategori Tidak Sehat. Potensinya seperti itu, tapi hal ini juga bergantung dari sumber polutannya dan arah anginnya. Jika sumbernya berkurang atau anginnya berubah, kualitas udaranya bisa lebih membaik,” jelasnya.
Disebabkan Asap Karhutla-Pergerakan Angin
Sementara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar, Fadli Tahar mengatakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pergerakan angin menjadi faktor utama yang patut diwaspadai masyarakat.
“Kabut asap bukan sekadar membuat langit terlihat suram. Di balik udara yang tampak biasa, terdapat partikel polutan berukuran sangat kecil yang berpotensi masuk jauh ke dalam paru-paru dan mengancam kesehatan,” tegasnya.
Fadli mengingatkan warga khususnya di Makassar, agar tidak menyepelekan kondisi ini dan mengambil langkah perlindungan sejak dini.
Fadli membeberkan berdasarkan informasi menyebutkan bahwa kualitas udara di Makassar, Maros, Gowa, dan sekitarnya berpotensi berada pada kategori sedang hingga tidak sehat sampai sekitar 13 Oktober 2026, terutama pada pagi hingga menjelang siang.
Namun, Kondisi aktual dapat berubah mengikuti cuaca, arah angin, dan sumber emisi sehingga masyarakat perlu mengikuti pembaruan terbaru dari BMKG.
“Jangan menunggu sampai mengalami sesak napas untuk mulai melindungi diri. Ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar ruangan, gunakan masker yang sesuai jika harus keluar, dan lindungi anak-anak serta anggota keluarga yang rentan,” ujarnya.
Berdasarkan data BMKG, bahwa penurunan kualitas udara ini dapat bersumber dari karhutla di Kalimantan yang terbawa angin menuju Sulsel. Selain itu, pergerakan angin dari arah timur juga memungkinkan asap dari kawasan Papua dan Maluku sampai ke wilayah Sulawesi Selatan, disamping kontribusi dari kebakaran lahan lokal.
Namun, Fadli mengimbau masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan sumber asap hanya dari penglihatan visual semata, melainkan tetap mengacu pada analisis resmi BMKG.
“Karena itu, masyarakat diimbau tidak terburu-buru menyimpulkan asal kabut asap hanya berdasarkan penampakan visual. Pemantauan kualitas udara, arah angin, dan informasi kebakaran dari instansi berwenang tetap menjadi acuan utama,” tukasnya.
Gubernur Imbau Jaga Kesehatan
Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan di tengah kondisi udara yang memburuk.
“Jadi, saya mengimbau karena kondisi udara di Sulawesi Selatan ini terdapat kiriman-kiriman dari barat maupun dari timur sehingga nilai polutannya pada ambang yang kemudian menjadi perhatian di bidang kesehatan,” ujar Andi Sudirman.
Andi Sudirman berharap, warga yang beraktivitas di luar ruangan dalam durasi cukup lama dapat secara disiplin mengoperasikan perlindungan diri.
“Kita berharap ketika warga kami tercinta bekerja di luar untuk waktu-waktu yang durasi lama atau kurun waktu tertentu, dapat menggunakan masker dalam aktivitas kesehariannya,” lanjutnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga imunitas dan menerapkan protokol kesehatan jika mulai merasakan gejala gangguan kesehatan.
“Jika ada yang terdampak seperti mungkin flu dan sebagainya, agar memperhatikan asupan nutrisi serta menjalankan protap-protap kesehatan. Yang paling penting, semua masyarakat memperhatikan imbauan resmi dan menyesuaikan diri,” tutup Andi Sudirman. (wah)






