Empat Tokoh Ini Masuk Bursa Ketua Golkar Makassar 2026-2031

Journalist Independent
Supriansa resmi ditunjuk sebagai Plt Ketua Golkar Makassar oleh Ilham Arief Sirajuddin.
Supriansa resmi ditunjuk sebagai Plt Ketua Golkar Makassar oleh Ilham Arief Sirajuddin.

Journalist Independent, MAKASSAR — Empat tokoh dengan latar belakang berbeda mulai diperhitungkan dalam perebutan kursi Ketua DPD II Partai Golkar Makassar periode 2026-2031.

Nama Rahman Bando, Aliyah Mustika Ilham, Andi Nurhaldin NH, dan Andi Suharmika Hasir mencuat ketika partai berlambang pohon beringin itu bersiap menentukan pemimpin baru untuk menghadapi persaingan politik lima tahun mendatang.

Munculnya keempat nama tersebut membuka pembicaraan mengenai arah kepemimpinan Golkar di Kota Makassar. Partai ini membutuhkan figur yang tidak hanya mampu menjaga kekompakan kader, tetapi juga mengembalikan kekuatan politiknya di parlemen daerah.

Politikus Golkar Abdul Wahab Tahir menilai keempat tokoh itu memiliki kapasitas untuk memimpin organisasi. Ia menyampaikan pandangan tersebut setelah DPD II Golkar Makassar menggelar rapat pleno pada Senin, 26 Oktober 2026, untuk membentuk dan menetapkan struktur Steering Committee (SC) serta Organizing Committee (OC).

Wahab, yang pernah duduk sebagai anggota DPRD Makassar selama tiga periode pada 2009-2024, menilai pergantian kepemimpinan menjadi kesempatan bagi Golkar untuk memperkuat kembali posisinya. Ia menginginkan ketua baru mampu membawa partai bersaing lebih kuat dalam pemilihan legislatif maupun pemilihan kepala daerah.

“Menurut saya, empat orang ini paling pantas diberi amanah sebagai Ketua Golkar Makassar periode 2026-2031 karena memenuhi kriteria membesarkan Partai Golkar,” kata Wahab.

Empat Nama dengan Modal Politik Berbeda

Keempat figur yang disebut Wahab memiliki pengalaman di bidang pemerintahan, organisasi kepemudaan, dan politik legislatif. Perbedaan latar belakang tersebut memberikan sejumlah pilihan bagi Golkar Makassar dalam menentukan sosok yang paling sesuai untuk memimpin partai.

Rahman Bando merupakan birokrat purnabakti. Pengalamannya di lingkungan pemerintahan menjadi salah satu modal yang dapat diperhitungkan dalam pembicaraan mengenai kepemimpinan Golkar Makassar.

Baca Juga  Prabowo Lantik 26 Wantimpres, Rocky Gerung hingga Anwar Usman Masuk Daftar

Nama berikutnya, Aliyah Mustika Ilham, saat ini menjabat sebagai Wakil Wali Kota Makassar. Posisi tersebut memberinya pengalaman dalam pemerintahan daerah dan interaksi dengan berbagai persoalan perkotaan. Namun, kemunculan namanya dalam bursa tidak otomatis menunjukkan bahwa ia telah resmi mencalonkan diri.

Andi Nurhaldin NH dikenal sebagai Ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Sulawesi Selatan. Latar belakang organisasi kepemudaan itu membuat namanya turut masuk dalam pembicaraan mengenai regenerasi kepemimpinan dan penguatan kader di lingkungan Golkar.

Sementara itu, Andi Suharmika Hasir menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Makassar. Pengalamannya di lembaga legislatif menjadi bekal dalam memahami dinamika parlemen, hubungan antarkekuatan politik, serta proses memperjuangkan aspirasi masyarakat melalui kebijakan daerah.

Keempat nama tersebut belum tentu memiliki tingkat dukungan yang sama. Popularitas, pengalaman jabatan, jaringan kader, dan kemampuan membangun konsolidasi organisasi akan menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi perjalanan menuju kursi ketua.

Karena itu, bursa yang mulai menghangat belum dapat dipandang sebagai gambaran hasil akhir pemilihan. Proses organisasi tetap menentukan siapa yang dapat maju secara resmi dan memperoleh kepercayaan kader.

Golkar Makassar Ingin Kembali Menguat di Parlemen

Wahab menyoroti tantangan besar yang harus dihadapi ketua baru. Menurut dia, Golkar Makassar perlu melakukan pembenahan setelah sekitar satu dekade tidak lagi mendominasi parlemen di Kota Makassar.

Ia berharap pemimpin berikutnya mampu meningkatkan perolehan kursi Golkar di DPRD Makassar. Partai juga perlu menyusun strategi untuk merebut kembali posisi sebagai kekuatan utama di parlemen, termasuk mengejar kursi Ketua DPRD Makassar dan mempersiapkan kemenangan dalam pemilihan kepala daerah mendatang.

“Untuk meraih kembali kejayaan Golkar, perlu figur yang layak dan pantas untuk menakhodai DPD II Partai Golkar Makassar,” ujarnya.

Baca Juga  12 Kepala Daerah Berlabel Gerindra, Begini Peta Kekuatan Partai di Sulsel hingga Senayan

Wahab, yang mengaku telah menjadi kader Golkar selama 26 tahun, menempatkan kemampuan membesarkan partai sebagai ukuran penting bagi calon pemimpin. Menurut pandangannya, jabatan ketua harus diemban oleh figur yang mampu menggerakkan organisasi dan memperkuat daya saing politik.

Target tersebut membutuhkan kerja yang lebih luas daripada sekadar pergantian pengurus. Golkar Makassar perlu memperkuat jaringan kader, menjaga hubungan dengan masyarakat, dan memastikan mesin partai bergerak hingga tingkat akar rumput.

Kaderisasi juga menjadi bagian penting dalam proses pembenahan. Organisasi perlu memberi ruang bagi generasi muda sekaligus memanfaatkan pengalaman kader senior agar konsolidasi berjalan berkesinambungan.

Supriansa: Tunggu Mekanisme Partai

Pelaksana Tugas Ketua DPD II Partai Golkar Makassar, Supriansa, membenarkan bahwa nama-nama tersebut muncul dalam dinamika internal menjelang pergantian kepemimpinan.

“Iya, benar. Nama-nama itu memang muncul dalam dinamika Golkar Makassar. Kita tunggu proses dan mekanisme partai selanjutnya,” kata Supriansa.

Pernyataan itu menegaskan bahwa Golkar masih harus menjalani tahapan organisasi sebelum menentukan pemimpin baru. Kemunculan nama dalam pembicaraan internal tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai calon resmi ataupun memastikan dukungan mayoritas kader.

Tahapan berikutnya akan menjadi ruang bagi kader untuk melihat figur yang benar-benar siap memimpin, membangun komunikasi, dan menawarkan arah organisasi untuk periode 2026-2031. Proses tersebut juga penting untuk menjaga agar persaingan tidak mengganggu soliditas partai.

Ketua terpilih nantinya menghadapi pekerjaan besar, mulai dari merapikan struktur organisasi hingga menyiapkan strategi menghadapi kontestasi politik berikutnya. Ia juga perlu merangkul kader dengan latar belakang dan pilihan berbeda agar dinamika pemilihan tidak berkembang menjadi perpecahan.

Dengan munculnya Rahman Bando, Aliyah Mustika Ilham, Andi Nurhaldin NH, dan Andi Suharmika Hasir, persaingan menuju kursi Ketua Golkar Makassar mulai menjadi perhatian. Namun, arah akhirnya tetap bergantung pada mekanisme resmi partai.

Baca Juga  Demokrat Ungkit Sprindik Airlangga Hartarto, Singgung Dugaan Campur Tangan Jokowi di Balik Naiknya Bahlil di Golkar

Bagi Golkar, pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar menentukan siapa yang menduduki jabatan ketua. Keputusan tersebut akan ikut menentukan keberhasilan konsolidasi, regenerasi kader, dan upaya mengembalikan pengaruh partai dalam politik Kota Makassar selama lima tahun mendatang.