Kasus Dugaan Keracunan MBG Sepanjang September Tembus 6.118 Orang

Journalist Independent
Kasus Dugaan Keracunan MBG Sepanjang September Tembus 6.118 Orang
Ilustrasi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disiapkan untuk penerima manfaat di sekolah.

JAKARTA – Kasus dugaan keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) terus muncul sepanjang September 2026. Berdasarkan kompilasi laporan kejadian yang terjadi pada bulan ini, jumlah warga yang terdampak mencapai sedikitnya 6.118 orang.

Kasus tersebut tersebar di sejumlah daerah. Korban mayoritas merupakan siswa dan guru, tetapi beberapa kejadian juga melibatkan santri serta anggota keluarga yang mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang.

Keluhan yang muncul beragam, mulai dari mual, muntah, pusing, sakit perut hingga diare. Sebagian korban mendapat perawatan di fasilitas kesehatan, sementara lainnya menjalani rawat jalan.

Sidoarjo Buka Rentetan Kasus September

Salah satu kasus terbesar terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Pada 1 September 2026, ratusan santri dan pelajar mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG.

Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat sedikitnya 730 orang dalam pendataan korban. Mereka melaporkan keluhan seperti mual, muntah, pusing hingga diare setelah mengonsumsi makanan MBG.

Kasus tersebut menjadi bagian dari rangkaian kejadian yang kemudian muncul hampir beruntun pada awal September.

Dalam kurun 1 hingga 3 September, laporan di Jawa Timur saja mencatat 1.111 pelajar, santri dan guru terdampak dalam tiga kejadian yang terjadi di Sidoarjo, Nganjuk, dan Kabuh.

Tana Toraja Catat 173 Korban

Kasus juga terjadi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Siswa dan guru SMPN 1 Makale serta SMPN 2 Makale mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG.

Data Satgas MBG Tana Toraja pada 4 September mencatat 173 orang mengalami keluhan dan mendapatkan penanganan. Sebanyak 165 korban sempat dirawat di tiga rumah sakit, sementara delapan lainnya mendapat perawatan di tiga puskesmas.

Pemerintah kemudian menghentikan sementara operasional SPPG Makale Batupapan 1. Sampel makanan dan muntahan korban juga dikirim untuk pemeriksaan guna mengetahui penyebab kejadian.

Kasus Berlanjut di Sejumlah Daerah

Rentetan kasus tidak berhenti pada pekan pertama September. Laporan dugaan gangguan kesehatan setelah menyantap MBG juga muncul di sejumlah daerah lain.

Di Blora, Jawa Tengah, sebanyak 137 siswa dan guru SMAN 1 Tunjungan dilaporkan mengalami diare massal setelah menyantap menu MBG. Kasus serupa juga dilaporkan di Pati dan sejumlah wilayah lainnya sepanjang September.

Sementara itu, kasus di Pariaman, Sumatera Barat, turut mendapat perhatian setelah sejumlah pelajar mengalami keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan makanan MBG.

Rangkaian laporan tersebut membuat isu keamanan pangan menjadi perhatian karena kejadian tidak hanya muncul di satu wilayah, melainkan tersebar di berbagai daerah.

Batang Tambah Ratusan Korban

Memasuki pekan terakhir September, kasus besar kembali terjadi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Dinas Kesehatan Batang mencatat 589 orang masuk dalam penanganan dugaan keracunan MBG hingga Sabtu, 26 September 2026. Dari jumlah tersebut, 127 pasien masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Keluhan muncul setelah warga mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan pada 22 September. Selain siswa, sejumlah orang tua juga mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan yang dibawa pulang anak mereka.

BGN kemudian menghentikan operasional SPPG Bawang dan mencopot kepala SPPG tersebut. Investigasi menemukan sejumlah persoalan dalam proses pengolahan dan penyajian makanan, sementara penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Rembang Jadi Kasus Terbaru

Sehari setelah kasus Batang terus bertambah, laporan kembali datang dari Rembang.

Sebanyak 105 murid dan delapan guru SMAN 1 Rembang mengalami keluhan diare dan mual setelah menyantap menu MBG pada Kamis, 24 September 2026.

BGN kemudian mencopot kepala SPPG Magersari 2 dan menghentikan operasional dapur tersebut. BGN memberlakukan suspend berat selama 30 hari sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan melakukan investigasi terhadap dapur serta personelnya.

Angka 6.118 Masih Bersifat Kompilasi

Jumlah 6.118 orang dalam laporan ini merupakan hasil kompilasi berbagai kejadian yang dilaporkan terjadi sepanjang September 2026.

Angka tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai rekap resmi nasional BGN karena pendataan setiap kasus dilakukan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait dengan waktu pembaruan yang berbeda.

Jumlah korban juga dapat berubah. Kasus Batang, misalnya, bertambah dari ratusan korban dalam beberapa hari hingga mencapai 589 orang berdasarkan pembaruan Dinkes pada 26 September.

Karena itu, angka 6.118 perlu dibaca sebagai sedikitnya jumlah korban yang tercatat dalam kompilasi laporan kasus September, bukan angka final nasional.

Di tengah rentetan kejadian tersebut, pemeriksaan laboratorium menjadi penentu untuk memastikan penyebab setiap kasus. BGN juga mulai menjatuhkan sanksi terhadap SPPG yang dinilai melanggar prosedur, termasuk penghentian sementara operasional dapur.

September pun menjadi bulan dengan rentetan laporan dugaan gangguan kesehatan terkait MBG di berbagai daerah, dengan jumlah korban yang terus berubah seiring proses pendataan dan pemeriksaan. (*)