SULSEL  

11 Siswa di Gowa Sakit Usai Santap MBG, Hasil Lab Ungkap Ternyata Gara-Gara Ini

11 Siswa di Gowa Sakit Usai Santap MBG, Hasil Lab Ungkap Bakteri Air
11 Siswa di Gowa Siswa SD Inpres Sanging-Sanging, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dan minuman di sekolah.

GOWA – Sebanyak 11 siswa di Gowa sakit usai santap MBG di SD Inpres Sanging-Sanging, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (24/9/2026). Para siswa mengalami keluhan sakit perut hingga sesak napas dan sebagian mendapat penanganan medis.

Camat Pattallassang, Andi Pangeran Zubair, mengatakan tiga dari 11 siswa sempat dibawa ke Puskesmas Pattallassang. Kondisi mereka kemudian membaik dan diperbolehkan pulang.

“Terindikasi keracunan makanan akibat mengonsumsi MBG dari salah satu SPPG di Pattallassang, sejumlah siswa (11 siswa) diinfokan mengalami sakit perut dan sesak napas,” kata Pangeran, Jumat (25/9/2026).

Tiga Siswa Sempat Dirawat

Dari 11 siswa yang mengalami keluhan, tiga orang mendapat perawatan di Puskesmas Pattallassang. Delapan siswa lainnya disebut langsung kembali ke rumah.

Pihak Kecamatan Pattallassang kemudian mengambil sampel makanan dan air yang dikonsumsi para siswa. Pemeriksaan dilakukan di UPT Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Dinas Kesehatan Gowa.

Hasil pemeriksaan menjadi penting karena dugaan awal mengarah pada makanan MBG. Namun, hasil uji laboratorium menunjukkan temuan berbeda.

Sampel Makanan MBG Dinyatakan Aman

Pemeriksaan terhadap sampel makanan MBG menunjukkan tidak ditemukan bakteri. Pemerintah Kecamatan Pattallassang menyebut makanan tersebut memenuhi syarat kualitas berdasarkan hasil uji laboratorium.

“Dari hasil lab yang telah keluar hari ini, kami menyatakan bahwa hasil lab uji makanan dari MBG dinyatakan tidak ada bakteri (nol) dan memenuhi syarat dari kualitas makanan,” ujar Pangeran.

Dengan hasil tersebut, makanan MBG belum menunjukkan adanya kontaminasi bakteri berdasarkan sampel yang diperiksa.

Air Minum Mengandung E. coli dan Coliform

Pemeriksaan kemudian menemukan persoalan pada sampel air. Petugas menguji air isi ulang yang tersedia di sekolah serta air yang dibawa siswa dari rumah menggunakan tumbler.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kedua sampel air tersebut tidak memenuhi syarat. Sampel disebut mengandung bakteri E. coli dan coliform dalam jumlah tinggi.

“Sampling air minum yang dibawa siswa dari rumah, dan sampling air isi ulang (galon) yang disediakan di sekolah dan diminum oleh siswa yang terpapar. Hasil lab air minum dan isi ulang tidak memenuhi syarat mengandung bakteri E. coli dan coliform (sangat tinggi),” jelas Pangeran.

Temuan tersebut menjadi dasar dugaan bahwa keluhan kesehatan siswa berkaitan dengan air yang mereka konsumsi. Meski demikian, hubungan sebab-akibat secara medis tetap perlu merujuk pada pemeriksaan dan keterangan pihak berwenang. (*)