WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempersingkat kunjungannya di Camp David dan kembali ke Gedung Putih ketika ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Kepulangannya terjadi setelah kelompok Houthi melancarkan serangkaian serangan ke wilayah Arab Saudi, termasuk ke arah Riyadh.
Trump sebelumnya dijadwalkan menghabiskan akhir pekan di Camp David, kompleks kepresidenan AS di Maryland. Namun, pada Minggu (20/9/2026), dia kembali ke Gedung Putih lebih awal dari jadwal.
Gedung Putih tidak memberikan penjelasan mengenai perubahan agenda tersebut. Kondisi cuaca juga menjadi salah satu faktor yang memungkinkan perubahan perjalanan presiden, karena kawasan Camp David diprakirakan mengalami hujan dan badai petir.
Di sisi lain, kepulangan Trump berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.
Houthi Serang Riyadh
Ketegangan meningkat setelah serangan ke Riyadh pada Sabtu (19/9). Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal balistik yang ditembakkan Houthi ke arah ibu kota.
Ledakan terdengar di Riyadh dan kepulan asap terlihat di sekitar Bandara Internasional King Khalid. Arab Saudi menyatakan tidak ada korban jiwa akibat serangan tersebut.
Houthi mengklaim melancarkan serangan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone terhadap sejumlah lokasi yang mereka sebut sebagai sasaran sensitif di Riyadh. Kelompok tersebut juga mengklaim menyerang fasilitas energi di Yanbu. Klaim mengenai sejumlah kerusakan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Serangan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam konflik yang kembali memanas antara Houthi dan Arab Saudi. Riyadh kemudian merespons dengan serangan udara terhadap wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman.
AS Keluarkan Peringatan Keamanan
Di tengah perkembangan tersebut, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga Amerika di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah AS meminta warganya mempertimbangkan kembali perjalanan menuju dan melalui kawasan tersebut. Warga Amerika yang sudah berada di Timur Tengah juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan situasi keamanan.
Departemen Luar Negeri AS memperingatkan konflik yang berlangsung dapat meningkat dengan cepat. Pemerintah AS juga mengingatkan kemungkinan terjadinya pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, serta gangguan perjalanan lainnya.
Peringatan itu juga mencakup potensi ancaman terhadap fasilitas diplomatik dan kepentingan AS di sejumlah negara. Iran dan kelompok yang didukungnya disebut dapat menargetkan kepentingan AS di luar negeri.
Kepulangan Trump Jadi Sorotan
Perubahan agenda Trump menjadi perhatian karena berlangsung pada saat situasi keamanan di kawasan mengalami eskalasi. Namun, hingga laporan ini dibuat, Gedung Putih belum menyatakan bahwa kepulangan Trump dari Camp David berkaitan langsung dengan serangan Houthi ke Arab Saudi.
Sejumlah laporan menyebut Trump tengah menghadapi sejumlah pilihan terkait konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Namun, belum ada pengumuman resmi mengenai keputusan baru AS untuk melakukan operasi militer terhadap Houthi.
Sementara itu, serangan ke Riyadh memperluas tekanan keamanan di kawasan. Perkembangan tersebut berlangsung ketika konflik di Yaman kembali memanas dan ketegangan antara AS, Iran, serta kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran juga meningkat.
Situasi ini membuat pemerintah AS meminta warganya mengikuti perkembangan terbaru mengenai operasional bandara dan maskapai serta bersiap menghadapi kemungkinan perubahan perjalanan secara mendadak. (*)





