Journalist Independent, JAKARTA —Masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api di Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul ancaman erupsi, guguran lava, hingga awan panas yang dapat membahayakan keselamatan.
Perhatian khusus tertuju pada Gunung Karangetang di Sulawesi Utara yang kembali mengeluarkan guguran lava pijar sejauh 1,5 kilometer, sementara tiga gunung api lainnya berstatus Siaga atau Level III.
Ketiga gunung tersebut adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Merapi di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta Gunung Semeru di Jawa Timur. Masing-masing memiliki kawasan rawan bencana yang harus dihindari warga, wisatawan, maupun pelaut.
Berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 06.00 WIB, ancaman di setiap gunung berbeda sesuai karakter aktivitas vulkaniknya. Masyarakat diminta tidak mengabaikan rekomendasi keselamatan, meskipun kondisi di sekitar tempat tinggal mereka terlihat normal.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengingatkan masyarakat agar mengikuti arahan otoritas dan menjauhi wilayah yang berpotensi terdampak material vulkanik.
Peringatan tersebut menjadi penting karena bahaya gunung api tidak selalu berupa letusan besar. Guguran lava, awan panas, lontaran batu pijar, dan lahar hujan dapat mengancam warga yang berada di kawasan berbahaya, termasuk di sepanjang aliran sungai yang berhulu di gunung.
Lava Pijar Menjangkau 1,5 Kilometer
Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kembali menjadi perhatian setelah terjadi erupsi pada Kamis malam. Guguran lava pijar dilaporkan meluncur hingga sekitar 1,5 kilometer dari puncak gunung.
Komandan Tim Basarnas Sulawesi Utara, Firstly Kawuwung, mengatakan aktivitas tersebut terpantau dari Desa Hiung, Kecamatan Siau Barat Utara, sekitar pukul 19.00 Wita.
Berdasarkan pemantauan petugas, material pijar terlihat mengalir dari kawah aktif menuju lereng gunung. Jangkauan guguran lava tersebut menjadi alasan bagi masyarakat di sekitar kawasan untuk tidak mendekati jalur aliran material vulkanik.
“Guguran lava dengan estimasi radius 1,5 kilometer dari titik semburan,” kata Firstly, Jumat, 30 Oktober 2026.
Meski kembali mengalami peningkatan aktivitas, status Gunung Karangetang masih berada pada Level II atau Waspada. Hingga Jumat pagi, belum ada laporan korban jiwa, pengungsian, maupun kerusakan permukiman akibat kejadian tersebut.
Kepala Basarnas Sulawesi Utara, George Mercy Randang, mengingatkan warga dan wisatawan agar tidak mendekati puncak maupun kawasan yang berpotensi dilalui material vulkanik.
“Warga dan wisatawan diminta tetap waspada serta tidak mendekati zona bahaya hingga radius 2,5 kilometer,” ujarnya.
Guguran lava sejauh 1,5 kilometer menunjukkan material pijar telah mencapai sebagian besar jarak yang disebutkan dalam imbauan keselamatan tersebut. Karena itu, warga yang beraktivitas di lereng gunung perlu terus memantau perkembangan informasi dan tidak memasuki kawasan berbahaya.
Erupsi terbaru ini terjadi hanya berselang tiga hari dari aktivitas serupa pada Senin sebelumnya. Saat itu, Gunung Karangetang mengeluarkan kolom abu setinggi sekitar 700 meter di atas puncak, disertai guguran lava pijar menuju sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya.
Humas Basarnas Sulawesi Utara, Nuriadin Gumeleng, menyebut aktivitas tersebut menjadi perhatian karena gunung masih menunjukkan pelepasan material vulkanik dalam beberapa hari terakhir.
Lokasi Gunung Karangetang di Pulau Siau membuat perkembangan aktivitasnya perlu dipantau secara ketat. Keberadaan permukiman yang relatif dekat dengan kawasan gunung menuntut masyarakat untuk memahami zona bahaya dan mengikuti arahan petugas ketika aktivitas vulkanik meningkat.
Anak Krakatau, Merapi, dan Semeru Punya Zona Bahaya Berbeda
Selain Karangetang, BNPB mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan potensi bahaya di Gunung Anak Krakatau, Gunung Merapi, dan Gunung Semeru yang berstatus Siaga atau Level III.
Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda memiliki radius bahaya 5 kilometer dari pusat aktivitas. Ancaman yang perlu diwaspadai meliputi aliran lava, lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta erupsi sekunder.
Masyarakat, wisatawan, dan pelaut dilarang mendekati kawasan gunung dalam radius tersebut. Pembatasan juga berlaku di sekitar kawah aktif dan wilayah pulau baru dengan radius 1 kilometer.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian pengguna jalur pelayaran di Selat Sunda, terutama mereka yang beraktivitas di sekitar kawasan gunung. Informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan laut.
Sementara itu, Gunung Merapi yang berada di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki radius bahaya 3 kilometer. Potensi ancamannya meliputi awan panas guguran, guguran lava, dan lontaran material vulkanik.
BNPB mengingatkan bahwa awan panas dapat terjadi sewaktu-waktu. Ancaman lain muncul ketika hujan deras mengguyur kawasan lereng, karena material vulkanik dapat terbawa aliran air dan memicu lahar hujan.
“Perlu diwaspadai lahar hujan di alur sungai saat hujan deras serta awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” kata Berton.
Masyarakat diminta menghindari aliran Sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, Woro, dan Gendol. Warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar sungai tersebut perlu memperhatikan perkembangan cuaca dan informasi dari petugas.
Adapun Gunung Semeru di Jawa Timur, yang berada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Malang, memiliki radius bahaya 5 kilometer. Ancaman yang perlu diantisipasi mencakup awan panas guguran, aliran lava, lontaran batu pijar, dan lahar hujan.
Kawasan sektor tenggara menjadi salah satu area yang harus dihindari, khususnya sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
BNPB meminta masyarakat tidak beraktivitas di sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak Semeru. Warga juga diminta menjaga jarak sekurang-kurangnya 500 meter dari sempadan sungai karena aliran lahar dapat membahayakan keselamatan.
Warga Diminta Tidak Menunggu Letusan Besar untuk Mengungsi
Peringatan terhadap empat gunung api tersebut menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Warga perlu memahami bahwa status gunung, radius bahaya, dan karakter ancaman setiap gunung berbeda sehingga langkah keselamatan tidak bisa disamaratakan.
Di kawasan Karangetang, masyarakat perlu menjauhi jalur guguran lava dan tidak mendekati puncak ketika aktivitas meningkat. Di sekitar Merapi dan Semeru, perhatian juga harus diberikan pada aliran sungai yang berpotensi dilalui awan panas maupun lahar hujan.
Sementara itu, masyarakat yang beraktivitas di sekitar Anak Krakatau harus mematuhi pembatasan jarak, termasuk ketika melakukan perjalanan laut di Selat Sunda.
Warga sebaiknya mengenali jalur evakuasi, menyiapkan kebutuhan darurat, dan memastikan informasi dari petugas dapat diterima dengan cepat. Apabila terdapat instruksi evakuasi, masyarakat perlu segera mengikuti arahan tanpa menunggu kondisi memburuk.
Pemerintah daerah bersama petugas kebencanaan juga perlu memastikan komunikasi dengan masyarakat berjalan baik, terutama di permukiman yang berada dekat lereng gunung dan jalur aliran material vulkanik.
Informasi resmi menjadi pegangan utama dalam menentukan tindakan keselamatan. Masyarakat tidak disarankan mendekati kawasan berbahaya hanya untuk menyaksikan letusan atau mengambil gambar guguran lava.
Dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung di sejumlah wilayah, kewaspadaan perlu dijaga secara konsisten. Kepatuhan terhadap zona bahaya dan kecepatan merespons peringatan dapat membantu mengurangi risiko korban jiwa ketika ancaman gunung api meningkat. (*)






