Journalist Independent.com, JAKARTA – Pendakwah asal Turki, Ihsan Şenocak, menuai perhatian di media sosial setelah melontarkan kritik terhadap nyanyian suporter Trabzonspor yang ditujukan kepada bintang sepak bola Mesir, Mohamed Salah.
Ia meminta para pendukung klub asal Turki tersebut segera menghentikan nyanyian yang menyebut nama Allah dan Mohamed Salah. Menurut Şenocak, ungkapan yang berkaitan dengan syiar Islam tidak semestinya digunakan secara sembarangan, sekalipun dilantunkan untuk merayakan keberhasilan seorang pemain di lapangan.
Tak hanya menyampaikan keberatan, Şenocak juga mengingatkan masyarakat Trabzon tentang sejarah dan identitas keislaman kota tersebut. Ia bahkan memperingatkan bahwa nyanyian itu dapat mengundang murka Allah serta mendatangkan berbagai bencana dan musibah.
Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (27/10/2026), persoalan ini bermula dari nyanyian yang dilantunkan pendukung Trabzonspor untuk Mohamed Salah. Nyanyian tersebut berbunyi, “Allah, Allah, Muhammad Salah.”
Bagi sebagian suporter, nyanyian itu merupakan bentuk dukungan dan ungkapan kegembiraan terhadap pemain asal Mesir tersebut. Namun, bagi Şenocak, penggunaan ungkapan keagamaan dalam konteks dukungan sepak bola itu menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap sepele.
Singgung Sejarah Islam di Trabzon
Dalam unggahan di akun media sosialnya, Şenocak mengingatkan bahwa Trabzon memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Islam. Ia menggambarkan kota tersebut sebagai tempat lahirnya para ulama sekaligus daerah yang memperoleh kehormatan dan kemuliaan dari nilai-nilai Islam serta keimanan.
Ia juga menyinggung perlawanan penduduk Trabzon terhadap pasukan Rusia pada abad ke-19. Menurutnya, sejarah tersebut menjadi salah satu gambaran keberanian masyarakat setempat dalam mempertahankan kehormatan mereka.
Şenocak kemudian mengaitkan sejarah itu dengan keberatannya terhadap nyanyian para suporter. Ia mempertanyakan bagaimana masyarakat dari kota yang memiliki latar belakang keislaman kuat justru melantunkan ungkapan tersebut di stadion.
“Trabzon itu apa? Bukankah kota ini merupakan tempat lahirnya para ulama? Ketika pasukan Rusia tiba di pesisir Trabzon pada abad ke-19, penduduk kota menghadapi mereka dan menimbulkan kerugian bagi pasukan tersebut. Dari mana Trabzon memperoleh kehormatan itu? Dari Islam,” ujar Şenocak.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kritiknya bukan semata-mata ditujukan kepada lagu yang dinyanyikan suporter. Ia juga ingin mengingatkan masyarakat Trabzon agar menjaga nilai-nilai agama yang, menurut pandangannya, menjadi bagian penting dari identitas kota tersebut.
Dengan menyebut dirinya sebagai salah satu putra daerah, Şenocak mengaku sulit memahami alasan ribuan pendukung melantunkan nyanyian itu. Ia menilai kebanggaan terhadap kota dan sejarahnya seharusnya berjalan seiring dengan penghormatan terhadap simbol-simbol keagamaan.
“Bagaimana mungkin sebuah kota yang mendapat kehormatan dari Islam dan iman justru memiliki ribuan penduduk di sekitarnya, ‘Allah, Allah, Muhammad Salah’?” katanya.
Minta Suporter Segera Menghentikan Nyanyian
Şenocak secara terbuka meminta para pendukung Trabzonspor menghentikan nyanyian tersebut, terlepas dari maksud yang ingin mereka sampaikan. Ia menilai niat untuk mendukung seorang pemain tidak serta-merta membuat penggunaan ungkapan keagamaan menjadi sesuatu yang dapat dibenarkan.
Menurutnya, syiar Islam dan ungkapan yang berkaitan dengan agama harus diperlakukan dengan penuh penghormatan. Ia mengingatkan bahwa stadion sepak bola, yang kerap dipenuhi sorak-sorai dan luapan emosi suporter, bukan alasan untuk mengabaikan batas-batas yang diyakininya penting dalam kehidupan beragama.
“Bisa jadi niatmu berbeda, saudaraku. Namun, syiar Islam dan ungkapan yang berkaitan dengannya tidak seharusnya dipermainkan. Trabzon adalah kota Islam dan ilmu. Saya berharap saudara-saudara saya segera menghentikan hal ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak bergantung pada apakah suporter bermaksud menghina agama atau sekadar memberikan penghormatan kepada Mohamed Salah. Bagi Şenocak, ungkapan yang membawa makna keagamaan tetap harus ditempatkan pada konteks yang tepat.
Sikap itu sekaligus menjadi seruan kepada pendukung Trabzonspor agar lebih berhati-hati dalam menggunakan istilah yang memiliki makna khusus bagi umat Islam. Ia berharap kecintaan terhadap klub dan kekaguman kepada pemain tidak mengesampingkan penghormatan terhadap nilai-nilai agama.
Peringatkan Risiko Murka Allah
Di bagian akhir pernyataannya, Şenocak menyampaikan peringatan yang lebih keras. Ia meminta para pendukung tidak lagi melantunkan nyanyian tersebut karena khawatir tindakan itu mendatangkan murka Allah.
“Hentikan nyanyian ini sekarang juga. Kalian akan mendatangkan murka Allah kepada kita, dan berbagai bencana serta musibah akan menimpa kita,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian paling tegas dari kritik Şenocak. Ia tidak hanya mempersoalkan kepantasan penggunaan ungkapan keagamaan di stadion, tetapi juga menghubungkannya dengan konsekuensi spiritual yang diyakininya dapat terjadi apabila peringatan itu diabaikan.
Meski demikian, keberatan Şenocak berangkat dari pandangan keagamaannya terhadap penggunaan syiar Islam dalam kegiatan olahraga. Nyanyian yang bagi suporter dapat dimaknai sebagai dukungan kepada Mohamed Salah, menurutnya, memiliki persoalan tersendiri ketika membawa nama Allah dan ditempatkan dalam suasana perayaan sepak bola.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana sebuah nyanyian di tribun stadion dapat memunculkan perdebatan yang lebih luas, melampaui urusan pertandingan dan kecintaan terhadap pemain. Di satu sisi, suporter mengekspresikan dukungan melalui nyanyian yang mudah diingat. Di sisi lain, Şenocak mengingatkan bahwa ungkapan yang memiliki makna keagamaan perlu digunakan dengan pertimbangan dan penghormatan.
Bagi pendakwah tersebut, pesan yang ingin disampaikannya jelas: dukungan kepada pemain sepak bola tidak seharusnya mengabaikan penghormatan terhadap simbol dan ungkapan agama. Karena itu, ia meminta pendukung Trabzonspor menghentikan nyanyian tersebut dan tidak mengulanginya.
Menurut apa yang dipublikasikan oleh situs Haberler asal Turki, Şenocak mengawali pembicaraannya dengan menegaskan kedudukan keagamaan dan keilmuan kota Trabzon, seraya berkata: “Apa itu Trabzon? Ia adalah tempat tinggal para ulama, bukankah demikian?
Ia menambahkan, berbicara sebagai salah satu putra kota tersebut: “Bagaimana mungkin puluhan ribu orang di Trabzon, yang mengambil kemuliaannya dari Islam dan keimanan, meneriakkan kalimat ‘Allah Allah, Mohamed Salah’? Dari mana kalian mendapatkan ini?”
Cinozak pun meminta para suporter Trabzonspor untuk berhenti menyanyikan nyanyian tersebut, seraya berkata: “Hentikan ini segera. Kalian akan mendatangkan murka Allah atas kita. Bencana dan cobaan akan menimpa kita.”
Pernyataan Cinozak memicu perdebatan dan kontroversi luas di platform media sosial belakangan ini.
Salah bergabung dengan Trabzonspor pada musim panas lalu secara gratis, dalam sebuah transfer yang menimbulkan kehebohan besar di segala tingkatan di Turki. (wah)






