Iran Siapkan Rudal Lebih Jauh dan Cepat, Pasukan AS Disebut Berada 1.000 Km dari Pantai

Journalist Independent
Ilustrasi Rudal Iran (IST)

JI, JAKARTA – Iran berencana meningkatkan jangkauan dan kecepatan rudalnya setelah mengevaluasi pengalaman perang terbaru dengan Amerika Serikat. Teheran menyebut kebutuhan pengembangan tersebut muncul karena pasukan lawan kini beroperasi hingga sekitar 1.000 kilometer dari pantai Iran.

Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, mengatakan peningkatan kemampuan itu mencakup rudal yang digunakan pasukan darat maupun angkatan laut.

Pernyataan tersebut disampaikan Akraminia dalam wawancara dengan kantor berita Fars pada Minggu (4/10/2026), di tengah ketegangan Iran dan Amerika Serikat yang masih berlangsung.

“Dalam perang ini, kami sampai pada kesimpulan bahwa kami benar-benar harus meningkatkan jangkauan rudal kami, dan kami kini telah bergerak ke arah itu,” kata Akraminia, seperti dikutip Fars.

Menurut Akraminia, posisi pasukan lawan yang disebut berada hingga 1.000 kilometer dari garis pantai Iran menjadi salah satu pertimbangan utama dalam evaluasi kemampuan persenjataan Teheran.

Ia mengatakan rudal yang digunakan selama perang, termasuk rudal pasukan darat untuk menyerang pangkalan lawan di Kuwait serta rudal jelajah antikapal yang diluncurkan dari laut, telah menunjukkan efektivitas. Namun, pengalaman tersebut dinilai memperlihatkan perlunya peningkatan jangkauan dan kecepatan.

“Rudal-rudal itu sebenarnya sangat baik dan efektif. Namun, kami sekarang sampai pada kesimpulan bahwa kami perlu meningkatkan kecepatan dan jangkauannya karena musuh berada pada jarak yang lebih jauh dari pasukan kami,” ujarnya.

Rencana peningkatan kemampuan rudal tersebut bukan berarti Iran baru akan memiliki rudal dengan jangkauan lebih dari 1.000 kilometer.

Iran telah mengembangkan sejumlah rudal balistik jarak menengah yang dilaporkan mampu menjangkau sasaran pada jarak ribuan kilometer.

Rudal Khorramshahr dilaporkan memiliki jangkauan sekitar 2.000 hingga 3.000 kilometer, sedangkan Sejjil diperkirakan mampu menjangkau sekitar 2.000 kilometer. Adapun Shahab-3 memiliki jangkauan yang dilaporkan mencapai sekitar 1.300 kilometer.

Varian Shahab-3, seperti Ghadr-1, juga dilaporkan memiliki jangkauan hingga sekitar 1.950 kilometer.

Dengan demikian, pernyataan terbaru Akraminia lebih mengarah pada rencana peningkatan kemampuan rudal yang telah dimiliki Iran, termasuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kecepatan untuk menghadapi sasaran yang berada lebih jauh dari wilayahnya.

Belum ada rincian teknis yang disampaikan dalam pernyataan tersebut mengenai jenis rudal yang akan ditingkatkan, target jangkauan baru, ataupun jadwal penyelesaian pengembangannya.

Akraminia mengaitkan rencana peningkatan rudal dengan posisi pasukan Amerika Serikat yang disebut telah bergerak menjauh dari kawasan Selat Hormuz.

Menurut pejabat Iran tersebut, pasukan lawan kini berada hingga sekitar 1.000 kilometer dari pantai Iran. Kondisi itu dinilai mendorong Teheran untuk meningkatkan kemampuan serang agar dapat menjangkau sasaran pada jarak yang lebih jauh.

Klaim serupa disampaikan Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Laksamana Muda Ali Fadavi. Dalam keterangannya kepada media pemerintah Iran, IRIB, Fadavi mengatakan pasukan Amerika Serikat telah bergerak lebih dari 1.000 kilometer dari perbatasan Iran.

Namun, pernyataan tersebut merupakan klaim pejabat Iran. Informasi itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pergerakan pasukan Amerika Serikat terjadi akibat serangan Iran.

Fadavi juga memperingatkan bahwa pangkalan dan kapal milik Amerika Serikat akan menjadi sasaran apabila terjadi serangan terhadap Iran.

“Setiap pangkalan milik Amerika, setiap kapal milik Amerika, akan menjadi sasaran,” kata Fadavi, menurut laporan media Iran.

Pernyataan tersebut menegaskan sikap Teheran yang menyatakan kesiapan menyerang aset militer Amerika Serikat jika konflik kembali meningkat.

Sebelumnya, pejabat Iran menyatakan bahwa negara tersebut membatasi jangkauan rudalnya hingga sekitar 2.000 kilometer agar tidak dipandang sebagai ancaman terhadap negara-negara lain.

Pernyataan terbaru mengenai peningkatan jangkauan menunjukkan bahwa kebutuhan operasional militer kini menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan persenjataan Iran.

Di sisi lain, ketegangan antara Teheran dan Washington juga berkaitan dengan situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang penting bagi perdagangan energi dunia.

Iran menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka kembali sebelum sejumlah persyaratan yang diajukannya kepada Amerika Serikat dipenuhi. (*)