Iran Tegaskan Tak Ada Solusi Militer untuk Akhiri Perang dengan AS

Journalist Independent
Ilustrasi diplomasi Iran dan Amerika Serikat
Ilustrasi diplomasi Iran dan Amerika Serikat di tengah pembicaraan untuk mengakhiri konflik.

JAKARTA – Iran menegaskan tidak ada solusi militer untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut negosiasi yang berlandaskan keadilan dan kesetaraan menjadi satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam pertemuan dengan para duta besar asing di tengah upaya pembicaraan damai yang menghadapi kebuntuan. Iran juga memperingatkan akan memberikan respons lebih keras jika pihak lawan kembali memilih konfrontasi militer.

“Jika musuh-musuh kami kembali memilih jalan konfrontasi militer, tanggapan kami akan lebih keras daripada sebelumnya, dan kami akan membela diri dengan kekuatan yang lebih besar lagi,” kata Abbas Araghchi, Senin (5/10/2026).

Araghchi pada saat yang sama menolak penyelesaian melalui tekanan ekonomi maupun pemberlakuan sanksi baru.

“Tidak ada solusi militer, ataupun solusi yang didasarkan pada sanksi-sanksi baru,” ujarnya.

Menurut dia, penyelesaian konflik hanya dapat tercapai melalui perundingan yang menempatkan kedua pihak dalam posisi yang adil dan setara.

Selat Hormuz Jadi Titik Perselisihan

Perselisihan antara Iran dan Amerika Serikat masih berkaitan erat dengan Selat Hormuz. Jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu menjadi salah satu jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Ketegangan kembali meningkat setelah Iran melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut. Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran dan menyerang kapal yang dituduh melanggar blokade.

Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, pada Minggu melaporkan sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena proyektil tak dikenal. Insiden tersebut menyebabkan kerusakan pada ruang mesin.

Meski demikian, seluruh awak kapal dilaporkan selamat. UKMTO juga menyatakan tidak ada dampak lingkungan yang tercatat akibat kejadian tersebut.

Badan tersebut tidak menjelaskan secara rinci waktu kejadian, asal maupun tujuan kapal. UKMTO juga tidak menyebut apakah kapal yang terkena proyektil merupakan kapal tanker minyak atau pengangkut LNG.

Iran Sebut Negosiasi Tetap Terbuka

Kedua pihak sebelumnya sempat menyepakati nota kesepahaman pada Juni. Kesepakatan itu memuat kerangka kerja untuk mencari penyelesaian permanen terhadap konflik.

Namun, situasi kembali memburuk setelah serangkaian serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. Amerika Serikat kemudian kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran, meski dalam beberapa pekan terakhir operasi militernya disebut mulai dikurangi dan digantikan dengan tekanan ekonomi.

Di tengah ketegangan tersebut, Iran kembali menegaskan sikapnya bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalur diplomasi.

Menteri Perminyakan Iran Mengundurkan Diri

Di tengah blokade yang masih berlangsung terhadap ekspor minyak Iran, Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad juga mengundurkan diri.

Kantor kepresidenan Iran menyatakan Paknejad sebelumnya pernah mengajukan pengunduran diri dengan alasan pribadi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat meminta dia tetap berada di pemerintahan.

Namun, Paknejad tetap bersikeras mengundurkan diri. Presiden akhirnya menerima keputusan tersebut.

Posisi Menteri Perminyakan kemudian diberikan kepada Hamid Bovard, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala eksekutif National Iranian Oil Company.

Perkembangan tersebut berlangsung ketika ketegangan Iran dan Amerika Serikat masih berpusat pada perang, tekanan ekonomi, serta akses pelayaran di Selat Hormuz. (*)