JAKARTA — Kontingen Indonesia menutup perjuangan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan mengoleksi 39 medali, terdiri dari lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu.
Raihan tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke-16 klasemen akhir Asian Games 2026 sekaligus melampaui target yang ditetapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), yakni empat medali emas.
Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia Todotua Pasaribu menyebut capaian tersebut menjadi hasil yang patut disyukuri setelah seluruh rangkaian pertandingan di Aichi-Nagoya berakhir.
“Alhamdulillah, puji syukur. Final per hari ini, setelah kita mengetahui total medali yang dicapai dan diraih oleh Tim Indonesia sebanyak 39 medali, terdiri dari 5 emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Tentunya ini adalah capaian yang terbaik,” ujar Todotua dalam keterangannya di Nagoya, Minggu (4/9/2026).
Lima medali emas Indonesia berasal dari empat cabang olahraga, yakni bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.
Bulu tangkis menjadi penyumbang dua emas. Medali pertama diraih dari nomor beregu putra setelah Indonesia mengalahkan China dengan skor 3-2 di final.
Emas kedua datang dari nomor ganda putra melalui pasangan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin. Keduanya menundukkan wakil China Lang Weikeng/Wang Chang dengan skor 19-21, 21-13, 21-18.
Dari angkat besi, Rahmat Erwin Abdullah mempersembahkan emas nomor 75 kilogram putra. Ia mencatat angkatan snatch 160 kilogram dan clean and jerk 206 kilogram sehingga mengumpulkan total 366 kilogram.
Sementara itu, Desak Made Rita Kusuma Dewi menjadi juara nomor speed putri panjat tebing. Ia mencatat waktu 6,062 detik, unggul tipis atas atlet China Li Juan Deng yang finis dengan 6,064 detik.
Emas kelima sekaligus emas pertama Indonesia dari cabang panahan sepanjang sejarah Asian Games dipersembahkan Nurisa Dian Ashrifah. Pada final nomor compound putri, Nurisa mengalahkan wakil Filipina Amaya Amparo Cojuangco dengan skor 139-137.
Selain lima emas, Indonesia juga membawa pulang 11 medali perak.
Medali perak tersebut berasal dari bulu tangkis, voli pantai, esports dengan dua medali, padel, dayung dengan dua medali, sepak takraw, menembak, selancar, dan teqball.
Adapun 23 medali perunggu disumbangkan dari sejumlah cabang olahraga, yakni bulu tangkis tiga medali, kano sprint, BMX Racing, mountain bike dua medali, karate dua medali, MMA, padel, sepak takraw tiga medali, menembak, soft tennis, teqball, angkat besi, serta wushu lima medali.
Dengan total 39 medali tersebut, Indonesia mengakhiri Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di peringkat ke-16.
Jika dibandingkan dengan Asian Games Hangzhou 2022, posisi Indonesia kali ini memang mengalami penurunan.
Pada Asian Games 2022, Indonesia menempati peringkat ke-12 dengan raihan tujuh emas, 11 perak, dan 18 perunggu. Di Aichi-Nagoya, Indonesia mengoleksi lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu.
Namun, Todotua menilai capaian lima emas tetap menjadi hasil penting karena sejumlah nomor yang sebelumnya menyumbangkan emas bagi Indonesia di Hangzhou tidak dipertandingkan pada Asian Games 2026.
Salah satunya nomor menembak 10 meter running target campuran dan putra yang menghasilkan dua emas bagi Indonesia di Hangzhou. Nomor Dragon Boat 1000 meter putra juga tidak dipertandingkan di Aichi-Nagoya.
“Alhamdulillah, puji syukur. Final per hari ini, setelah kita mengetahui total medali yang dicapai dan diraih oleh Tim Indonesia sebanyak 39 medali, terdiri dari 5 emas, 11 perak dan 23 perunggu. Tentunya ini adalah capaian yang terbaik,” kata Todotua.
Menurut Todotua, raihan tersebut menunjukkan kontingen Indonesia mampu memenuhi bahkan melampaui target empat medali emas yang sebelumnya ditetapkan Kemenpora.
Selain jumlah medali, Asian Games Aichi-Nagoya juga diwarnai sejumlah prestasi bersejarah atlet Indonesia.
Rahmat Erwin Abdullah mencatat total angkatan 366 kilogram di kelas 75 kilogram. Desak Made juga mencatat waktu 6,062 detik yang menjadi rekor Asia nomor speed putri.
Di bulu tangkis, kemenangan tim beregu putra atas China sekaligus mengakhiri penantian Indonesia untuk kembali meraih emas Asian Games dari nomor tersebut selama 28 tahun.
Sementara itu, Nurisa Dian Ashrifah mencatat sejarah baru setelah mempersembahkan medali emas pertama Indonesia dari cabang panahan di Asian Games.
Todotua mengatakan seluruh perjalanan kontingen Indonesia di Aichi-Nagoya akan menjadi bahan evaluasi. Evaluasi tidak hanya menyangkut pertandingan, tetapi juga seluruh proses sejak persiapan hingga kepulangan atlet dan ofisial.
“Selebihnya nanti kita akan laporkan ke NOC dan juga kepada Kemenpora untuk menjadi suatu review bagi dunia industri olahraga nasional kita ke depannya,” kata Todotua.
Evaluasi tersebut mencakup persiapan kontingen, keberangkatan, pendampingan atlet dan ofisial selama pertandingan, hingga proses kepulangan.
Todotua berharap hasil evaluasi tersebut dapat menjadi bahan perbaikan bagi pembinaan dan pengelolaan olahraga Indonesia pada ajang internasional berikutnya. (*)






