JAKARTA – KRI Sriwijaya-100 tidak hanya diproyeksikan memperkuat pertahanan maritim Indonesia. Kapal induk pertama TNI Angkatan Laut (TNI AL) tersebut juga disiapkan untuk mendukung operasi penanggulangan bencana, termasuk mengoperasikan helikopter dan pesawat nirawak.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari mengatakan kemampuan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas mengenai penanganan bencana.
Pemerintah mengarahkan agar KRI Sriwijaya-100 dimodifikasi sehingga dapat mendukung pengoperasian helikopter dan pesawat nirawak. Kemampuan itu diprioritaskan untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama dalam penanganan bencana dan misi kemanusiaan.
“Kemampuan tersebut diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan misi kemanusiaan,” kata Qodari dalam keterangannya di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Menurut Qodari, kemampuan tersebut penting bagi Indonesia yang memiliki wilayah kepulauan dengan karakter geografis yang beragam.
Dalam kondisi bencana, salah satu persoalan yang sering muncul adalah terputusnya akses menuju wilayah terdampak. Ketika jalur darat tidak dapat digunakan, distribusi bantuan dan pengerahan personel menjadi lebih sulit.
KRI Sriwijaya-100 diproyeksikan dapat membantu mengatasi persoalan tersebut melalui kemampuan membawa serta mendukung pergerakan helikopter dan pesawat nirawak.
“Dengan kemampuannya mendukung pergerakan helikopter serta membawa dan menyalurkan berbagai kebutuhan, KRI Sriwijaya-100 dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat maupun jalur lainnya,” ujar Qodari.
Kapal tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membawa berbagai kebutuhan bantuan ke lokasi terdampak bencana, sekaligus mendukung pengerahan personel.
Meski diarahkan untuk mendukung penanganan bencana, pemerintah menegaskan pemanfaatan KRI Sriwijaya-100 dalam misi kemanusiaan tidak menghilangkan fungsi pertahanannya.
Qodari mengatakan keberadaan kapal tersebut tetap menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan pertahanan laut Indonesia.
“Dengan demikian, kehadiran KRI Sriwijaya-100 tidak hanya berbicara mengenai bertambahnya kemampuan pertahanan maritim Indonesia. Kapal ini juga dipersiapkan untuk memperkuat kemampuan negara dalam merespons keadaan darurat dan membantu masyarakat ketika mereka membutuhkan,” katanya.
Kementerian Pertahanan sebelumnya menyebut KRI Sriwijaya-100 memiliki kemampuan sebagai pusat komando operasi laut. Kapal tersebut juga dapat digunakan untuk mendukung diplomasi pertahanan serta misi bantuan kemanusiaan.
TNI AL menyatakan kapal ini memiliki fasilitas penerbangan yang dapat mendukung pengoperasian helikopter dan pesawat nirawak.
KRI Sriwijaya-100 resmi masuk jajaran TNI AL setelah diresmikan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Sebelum menjadi bagian dari armada Indonesia, kapal tersebut bernama ITS Giuseppe Garibaldi dan dioperasikan oleh Angkatan Laut Italia.
Setelah bergabung dengan TNI AL, kapal tersebut menjadi kapal induk pertama dalam jajaran armada TNI AL.
Dengan kemampuan sebagai kapal komando sekaligus fasilitas penerbangan, KRI Sriwijaya-100 kini diproyeksikan menjalankan peran ganda, yakni mendukung pertahanan maritim sekaligus memperkuat kapasitas Indonesia dalam menghadapi bencana dan menjalankan misi kemanusiaan. (bun)






