OGAN ILIR – Kecelakaan beruntun melibatkan bus DAMRI, bus Antar Lintas Sumatera (ALS), dan kendaraan lain terjadi di Tol Palembang-Indralaya (Palindra), Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Sabtu (5/9/2026) pagi. Insiden di Kilometer 9+800 jalur A itu menyebabkan 14 orang mengalami luka-luka. Seluruh korban dalam laporan awal berasal dari bus DAMRI, sedangkan polisi masih menyelidiki penyebab pasti tabrakan.
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 06.30 WIB ketika kendaraan bergerak dari arah Palembang menuju Indralaya. Insiden tersebut berlangsung pada pagi hari saat kondisi jarak pandang di sejumlah titik jalan tol dilaporkan terganggu kabut. Dugaan pengaruh kabut terhadap kecelakaan masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan kepolisian.
Kasi Humas Polres Ogan Ilir IPTU Mansyur mengatakan petugas telah mendata korban dan mengatur penanganan medis di sejumlah rumah sakit. Para korban mendapatkan perawatan sesuai lokasi rujukan masing-masing setelah kecelakaan terjadi.
“Rinciannya 6 korban dilarikan ke RS Arroyan, 6 korban dirujuk ke RSMH Palembang dan 2 korban lainnya dirawat di RS Tanjung Senai,” kata Mansyur.
Dengan pembagian tersebut, enam korban menjalani perawatan di RS Arroyan, enam lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, sedangkan dua korban mendapat perawatan di RS Tanjung Senai. Data tersebut menunjukkan penanganan medis melibatkan beberapa fasilitas kesehatan untuk menangani seluruh korban.
Polisi menyatakan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Meski demikian, jumlah korban luka membuat penyidik perlu menelusuri urutan kejadian, posisi kendaraan saat tabrakan, serta faktor yang menyebabkan pengemudi tidak dapat menghindari benturan.
Kapolres Ogan Ilir AKBP Rizka Aprianti mengatakan penyidik Satlantas masih meminta keterangan dari pengemudi yang terlibat. Polisi belum menyimpulkan penyebab kecelakaan karena proses pengumpulan keterangan dan pemeriksaan di lokasi masih berlangsung.
“Kedua sopir kendaraan saat ini sedang dimintai keterangan. Untuk penyebab pasti masih dalam proses penyelidikan oleh Sat Lantas Polres Ogan Ilir,” kata Rizka.
Penyelidikan diperlukan untuk mengetahui bagaimana tabrakan bermula dan berkembang hingga sejumlah kendaraan terlibat. Polisi perlu mencocokkan keterangan pengemudi dengan kondisi kendaraan, posisi akhir setelah benturan, serta temuan petugas saat memeriksa tempat kejadian perkara.
Informasi yang berkembang setelah kejadian juga mengarah pada dugaan gangguan jarak pandang akibat kabut. Laporan awal media pada Sabtu menyebut bus DAMRI menabrak bagian belakang bus ALS yang melaju searah. Namun, perkembangan pemberitaan berikutnya mengungkap keterlibatan kendaraan lain dalam rangkaian tabrakan tersebut.
Dalam laporan lanjutan yang diterbitkan pada Sabtu siang, kecelakaan disebut melibatkan empat kendaraan, yakni bus DAMRI, bus ALS, Mitsubishi Triton, dan Toyota Avanza. Pengelola Tol Palindra, PT Hutama Karya, menyampaikan dugaan awal bahwa kendaraan paling depan mengurangi kecepatan, kemudian kendaraan di belakangnya menabrak secara beruntun.
Perbedaan jumlah kendaraan dalam laporan awal dan perkembangan berikutnya menunjukkan pentingnya mengikuti pembaruan informasi selama proses penanganan berlangsung. Karena itu, rangkaian kecelakaan perlu merujuk pada hasil pemeriksaan petugas untuk memastikan urutan tabrakan dan peran setiap kendaraan.
Laporan lanjutan juga menyebut korban berjumlah 14 orang, dengan rincian empat orang mengalami luka berat dan sepuluh lainnya luka ringan. Data tersebut berasal dari perkembangan pemberitaan pada hari kejadian, sedangkan keterangan awal Polres Ogan Ilir menyebut seluruh korban yang terdata merupakan pengemudi dan penumpang bus DAMRI.
Sopir bus ALS, Hartono, dalam keterangan yang diberitakan sehari setelah kecelakaan, mengaku jarak pandangnya sangat terbatas akibat kabut. Ia menyebut pandangan di jalan hanya sekitar dua meter ketika insiden berlangsung. Keterangan tersebut menjadi salah satu informasi yang dapat membantu penyidik memahami kondisi jalan saat tabrakan, tetapi tidak menggantikan kesimpulan resmi mengenai penyebab kecelakaan.
Kabut yang mengurangi jarak pandang dapat membuat pengemudi lebih sulit mengenali kendaraan di depan dan memperkirakan jarak aman untuk mengerem. Dalam kondisi seperti itu, pengemudi perlu mengurangi kecepatan, menjaga jarak antarkendaraan, serta menghindari manuver mendadak. Meski begitu, faktor penyebab kecelakaan di Tol Palindra tetap menjadi kewenangan penyidik untuk memastikannya berdasarkan bukti.
Pengelola tol juga menangani insiden tersebut bersama kepolisian setempat. Berdasarkan keterangan Hutama Karya yang dikutip dalam laporan media, penanganan kecelakaan dilakukan melalui koordinasi dengan aparat daerah dan peristiwa itu dilaporkan tidak mengganggu arus lalu lintas secara berkepanjangan.
Sehari setelah kejadian, pengelola tol juga menerapkan sistem buka-tutup sementara di sejumlah akses akibat kabut pagi yang mengurangi jarak pandang. Arief Yeri Kristanto dari Hutama Karya menjelaskan bahwa kabut tersebut menghilang setelah matahari terbit dan arus lalu lintas kembali normal sekitar pukul 07.00 WIB. Informasi itu merupakan perkembangan kondisi pada Minggu pagi, bukan keterangan yang memastikan penyebab kecelakaan sehari sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi pengguna jalan tol untuk menyesuaikan kecepatan dengan jarak pandang. Pengemudi perlu menjaga jarak aman, memastikan kendaraan dalam kondisi layak jalan, dan mengikuti arahan petugas apabila kondisi cuaca atau atmosfer mengganggu perjalanan.
Hingga keterangan awal disampaikan, polisi belum menetapkan penyebab pasti kecelakaan di Kilometer 9+800 jalur A Tol Palindra. Penyidik masih meminta keterangan para pengemudi dan mengumpulkan bukti untuk menyusun kronologi secara utuh. Sementara itu, 14 korban telah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit yang dituju.






