News  

BEM UI Soroti Lingkaran Kekuasaan, Fatimah Minta Prabowo Dengarkan Rakyat

Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra menyampaikan pandangannya mengenai kondisi bangsa dan pentingnya pemimpin mendengar langsung suara rakyat. Pernyataan tersebut kembali beredar melalui media sosial.
Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra menyampaikan pandangannya mengenai kondisi bangsa dan pentingnya pemimpin mendengar langsung suara rakyat. Pernyataan tersebut kembali beredar melalui media sosial.

JAKARTA โ€” Kritik mahasiswa kembali mengetuk pintu kekuasaan. Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Fatimah Azzahra menyampaikan pesan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto agar tidak kehilangan kedekatan dengan rakyat di tengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

Fatimah menyoroti kondisi Indonesia yang menurutnya sedang menghadapi persoalan serius. Ia menggunakan analogi kesehatan untuk menggambarkan bagaimana persoalan dalam satu bagian dapat menjalar dan memengaruhi bagian lainnya.

Sebagai mahasiswa kedokteran, Fatimah mengibaratkan bangsa seperti tubuh manusia. Ketika ada jaringan yang telah dipenuhi persoalan, jaringan tersebut, menurut dia, harus ditangani agar penyakit tidak semakin menyebar.

โ€œBangsa kita ini sedang mengalami sakit yang sama,โ€ ujar Fatimah dalam potongan video yang beredar di media sosial.

Dari analogi itu, Fatimah kemudian menyinggung hubungan antara pemimpin dan rakyat. Ia mengingatkan agar Presiden Prabowo tidak terlalu bergantung pada orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaannya.

Menurut Fatimah, terlalu banyak perantara berisiko membuat seorang pemimpin semakin jauh dari suara masyarakat. Aspirasi yang seharusnya terdengar langsung dari rakyat bisa saja berhenti sebelum sampai ke meja Presiden.

โ€œJangan biarkan kesempatan yang satu-satunya ini Bapak berikan pada satu orang, dua orang, tiga orang, empat orang yang menjadi tangan-tangan Bapak yang menjauhkan Bapak dari rakyat,โ€ katanya.

Fatimah juga mendorong Presiden untuk lebih sering hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Baginya, seorang pemimpin tidak cukup hanya menerima laporan dari para pembantu, tetapi juga perlu mendengar sendiri denyut persoalan yang dirasakan rakyat.

โ€œKalau bisa rakyat itu Bapak yang langsung jawab,โ€ ujarnya.

Pesan tersebut menggambarkan kegelisahan mahasiswa terhadap jarak antara kekuasaan dan masyarakat. Bagi Fatimah, rakyat tidak hanya membutuhkan kebijakan, tetapi juga pemimpin yang mau mendengar, melihat, dan merasakan langsung persoalan di lapangan.

Ia berharap mandat kepemimpinan yang dimiliki Prabowo digunakan untuk memperkuat hubungan dengan rakyat. Pemerintah, kata dia, harus memastikan suara masyarakat tidak terputus hanya karena terlalu banyak lapisan yang menjadi penghubung.

Kritik itu sekaligus menjadi bagian dari suara mahasiswa dalam mengawal jalannya pemerintahan. Bagi kelompok mahasiswa, kekuasaan tetap membutuhkan kontrol publik agar kebijakan yang lahir tidak kehilangan pijakan pada kepentingan rakyat.

Di tengah hiruk-pikuk politik dan berbagai kepentingan di sekitar kekuasaan, pesan Fatimah terdengar sederhana, tetapi tajam: jangan sampai seorang pemimpin memiliki begitu banyak orang yang berbicara untuknya, tetapi justru semakin sedikit mendengar suara rakyat.

Sebab pada akhirnya, kekuasaan bukan hanya tentang siapa yang berada paling dekat dengan Presiden, melainkan seberapa dekat seorang pemimpin dengan rakyat yang memberinya mandat. (*)

Sponsored ยท Ar Media Kreatif

Mau Punya Media Online Sendiri?

Bangun brand medianya sekarang bersama Ar Media Kreatif. Profesional sejak 2018. Ratusan media online telah kami bantu wujudkan!

Konsultasi Gratis

Wartawan: Andi, Editor: Andi