Pengabdian M. Jusuf tidak hanya berlangsung di dunia militer. Pada 1964, ia dipercaya menjabat Menteri Perindustrian. Jabatan tersebut diembannya hingga 1978, pada masa ketika pemerintah tengah mendorong pembangunan nasional, termasuk pengembangan sektor industri.
Selama 14 tahun, ia berada dalam lingkungan pemerintahan yang menangani salah satu sektor penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia.
Perjalanan kariernya kemudian mencapai posisi strategis pada 1978. Presiden Soeharto menunjuk M. Jusuf sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Dua jabatan tersebut menempatkannya di pusat kebijakan pertahanan dan keamanan nasional. Ia menjadi salah satu figur penting dalam struktur pemerintahan dan militer Indonesia pada masa Orde Baru.
Amanah itu dijalankannya hingga 1983. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menhankam/Pangab, M. Jusuf kembali dipercaya mengemban tugas negara, kali ini di bidang pengawasan keuangan.
Pada 1983, ia ditunjuk sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Jabatan tersebut dijalankannya selama dua periode hingga 1993.
Perjalanan dari dunia militer ke lembaga pemeriksa keuangan menjadi bagian lain dari catatan pengabdiannya. Setelah bertahun-tahun berkecimpung dalam urusan pertahanan, keamanan, dan pemerintahan, ia mendapat tanggung jawab mengawasi pengelolaan keuangan negara.
Meninggalkan Jejak di Makassar
Di luar jabatan militer dan pemerintahan, nama M. Jusuf juga lekat dengan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Makassar.
Salah satu jejak yang masih dapat dilihat hingga sekarang adalah prakarsanya dalam pembangunan Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar.
Masjid tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam di kawasan Indonesia Timur. Kehadirannya tidak sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Bagi masyarakat Makassar, Al-Markaz menjadi salah satu peninggalan yang mengingatkan pada kontribusi M. Jusuf di luar tugas-tugas kenegaraan yang pernah diembannya.
Jenderal M. Jusuf meninggal dunia di Makassar pada 8 September 2004 dalam usia 76 tahun. Ia meninggalkan perjalanan hidup yang panjang, melintasi sejumlah babak penting sejarah Indonesia.
Dari seorang pemuda yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan, ia tumbuh menjadi pemimpin militer, menteri, Panglima ABRI, hingga Ketua BPK. Pengabdiannya juga meninggalkan jejak dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan.
Kini, lebih dari dua dekade setelah kepergiannya, nama M. Jusuf kembali menjadi perhatian. Rencana penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2026 mendatang menjadi momentum untuk mengenang perjalanan hidup dan pengabdiannya kepada bangsa.
Bagi Sulawesi Selatan, gelar tersebut bukan sekadar penghormatan kepada seorang putra daerah. Penganugerahan itu juga menjadi pengingat bahwa dari Kajuara, Bone, pernah lahir sosok yang perjalanan hidupnya turut mewarnai sejarah panjang Indonesia. (iz)






