Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas A.M. Djiwandono, mengatakan GPIPS Sulampua 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pengendalian inflasi pangan di kawasan timur Indonesia. Pemilihan Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar sebagai lokasi kegiatan juga berkaitan dengan peran Makassar sebagai pintu gerbang distribusi pangan ke berbagai wilayah di Sulampua.
Menurut Thomas, gejolak harga pangan tidak hanya terlihat dalam angka inflasi, tetapi juga langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat. Kenaikan harga bahan pangan dapat mengurangi daya beli, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bank Indonesia memperkenalkan pendekatan Talu Karsa Pangan Sulampua yang terdiri atas tiga pilar, yakni Karsa Daya, Karsa Sambung, dan Karsa Tata.
Karsa Daya diarahkan pada penguatan kapasitas produksi pertanian dan perikanan melalui dukungan sarana dan prasarana produktif serta akses pembiayaan. Karsa Sambung menitikberatkan pada perluasan kerja sama antardaerah, penguatan distribusi, dan efisiensi biaya logistik. Sementara itu, Karsa Tata berfokus pada penguatan kelembagaan pangan, kerja sama pelaku usaha, sekolah lapang iklim, serta pengembangan neraca pangan sebagai sistem peringatan dini.
Thomas juga menyebut sejumlah praktik yang telah dikembangkan di kawasan Sulampua, di antaranya modernisasi peternakan melalui sistem *closed house* di Sulawesi Selatan, program Taksi Nelayan berbasis koperasi di Gorontalo, serta Mini Distribution Center untuk memperpendek rantai pasok pangan.
Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara produsen, distributor, dan pasar sehingga pasokan lebih terjaga dan gejolak harga dapat diantisipasi lebih awal.





