KARANGASEM — IGS (20), seorang sopir truk di Karangasem, Bali, mengalami luka bakar hingga 68 persen setelah diduga dibakar hidup-hidup oleh bosnya, IPCP (37). Polisi menduga aksi tersebut berkaitan dengan persoalan uang setoran.
Peristiwa itu terjadi di rumah IGS di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, Jumat (18/9/2026) sekitar pukul 11.30 WITA.
Saat kejadian, IGS sedang beristirahat di kamar karena tidak bekerja selama dua hari akibat sakit. IPCP kemudian mendatangi rumah korban untuk menanyakan uang setoran.
Keduanya diduga terlibat cekcok hingga akhirnya IPCP menyiram tubuh IGS menggunakan bahan bakar jenis Pertalite dan membakarnya.
“Diduga karena korban menunggak setoran sebanyak Rp 8,5 juta kepada pelaku. Korban bekerja sebagai sopir truk milik pelaku,” ungkap Kasi Humas Polres Karangasem, Ipda I Nengah Artono, dalam keterangannya pada Jumat (18/9).
Korban Berlari Keluar Rumah dalam Kondisi Terbakar
Api kemudian membakar tubuh IGS. Dalam kondisi terbakar, korban berusaha keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri.
Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung membantu memadamkan api. Setelah itu, IGS dibawa ke Puskesmas Selat sebelum mendapat rujukan ke RSUD Karangasem.
Polisi kemudian menetapkan IPCP sebagai tersangka. Ia kini menjalani penahanan di Rutan Polres Karangasem untuk menjalani proses hukum.
Luka Bakar Capai 68 Persen
Kondisi IGS membutuhkan penanganan medis lebih lanjut sehingga dokter merujuknya ke RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.
IGS tiba di rumah sakit tersebut pada Jumat (18/9) sekitar pukul 19.00 WITA. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan luka bakar mencapai 68 persen pada tubuh korban.
Kepala Instalasi Rawat Intensif RSUP Prof. Ngoerah, I Putu Kurniyanta, mengatakan tim medis telah melakukan sejumlah tindakan, termasuk membersihkan luka, mengamankan jalan napas, memberikan cairan, dan melakukan pertolongan awal.
“Rawat luka seluruh tubuh, yang mana cukup luas juga luka bakarnya yaitu kurang lebih sekitar 68 persen. Hari keempat ini masih kami lakukan stabilisasi untuk memulihkan proses-proses dalam tubuhnya dan mencegah infeksi di kemudian hari,” kata Kurniyanta ketika ditemui wartawan di Instalasi Luka Bakar RSUP Prof. Ngoerah, Selasa (22/9).
Dokter juga mencurigai IGS mengalami trauma inhalasi akibat menghirup udara atau uap panas ketika kebakaran terjadi. Kondisi tersebut membuat korban masih membutuhkan bantuan alat untuk bernapas.
Luka Bakar Derajat 2B hingga 3
Dokter spesialis bedah plastik Agus Roy Rusly Hariantana Hamid mengatakan luka bakar pada tubuh IGS cukup luas dan dalam.
Luka paling dominan berada di bagian dada atau toraks dan melingkar hingga ke bagian belakang tubuh. Dokter menemukan luka bakar dengan tingkat kedalaman mulai derajat 2B hingga derajat 3.
“Kalau dilihat dari gambaran klinis, kami melakukan perawatan luka kemarin itu bajunya sepertinya masih menempel pada saat luka bakar. Luka bakarnya cukup dalam, dari derajat 2B sampai derajat 3,” jelasnya.
Hingga Selasa (22/9), IGS masih dalam kondisi tidak sadar. Tim medis juga menemukan sisa jelaga atau asap yang masuk ke paru-paru korban.
“Jeratan luka bakar itu seperti diikat dengan tali di dada yang membuat pasien sulit bernapas. Ini sampai melingkar, sehingga benar-benar dijepit jaringan di dalamnya untuk bernapas,” ujar Roy.
Tim dokter memperkirakan IGS masih membutuhkan sejumlah tindakan operasi untuk menangani luka bakarnya. Jika kondisi korban memungkinkan, dokter akan mengambil kulit dari bagian paha untuk digunakan sebagai bahan tandur kulit pada area yang mengalami luka bakar.
Roy juga menjelaskan tingginya risiko yang dihadapi korban akibat luas luka bakar dan dugaan trauma inhalasi.
“Luka bakar yang lebih dari 40 persen, ditambah dengan adanya trauma inhalasi, itu risiko kematiannya lebih tinggi 300 kali lipat, secara teori dan jurnal,” imbuhnya.






