Kenapa Harga Emas Anjlok?

Journalist Independent
emas
Pilihan emas respika. (dok. Wahdah/Journalist Independent)

Journalist Independent.com, JAKARTA – Harga emas dunia mengalami tekanan hebat. Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), harga emas di pasar spot (XAU/USD) anjlok hampir 3 persen hingga menyentuh US$3.897 per troy ounce. Angka tersebut menjadi level terendah sejak Oktober 2025.

Penurunan ini cukup menarik perhatian. Pasalnya, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar global, emas yang biasanya menjadi aset pilihan saat situasi tidak menentu justru ikut terpuruk.

Lantas, apa yang membuat harga emas turun begitu dalam?

Ada beberapa faktor yang ikut menekan harga logam mulia tersebut. Salah satunya adalah sikap bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang masih menunjukkan kecenderungan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.

Investor kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember mendatang. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan mencapai 75 persen.

Kondisi ini membuat emas kehilangan daya tarik. Berbeda dengan deposito atau obligasi, emas tidak memberikan bunga maupun imbal hasil secara berkala. Ketika suku bunga naik, investor cenderung melirik instrumen lain yang menawarkan keuntungan lebih menarik.

Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks Dolar AS (DXY) sempat turun ke 101,53 sebelum kembali menguat di atas 102,00. Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Kekhawatiran Investasi AI hingga Harga Minyak

Faktor lainnya datang dari pasar saham teknologi. Kinerja pendapatan sejumlah perusahaan teknologi yang mengecewakan kembali memunculkan keraguan investor terhadap besarnya dana yang digelontorkan untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Situasi tersebut memicu aksi jual saham teknologi. Investor pun mulai mengatur ulang portofolionya, termasuk kemungkinan melepas kepemilikan emas untuk menutup kerugian di instrumen investasi lain.

Baca Juga  Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Jumat 30 Oktober 2026 Turun Rp11.000, Simak Daftar Lengkapnya

Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia turut memperumit keadaan. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$103 per barel, level tertinggi sejak Mei.

Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk kemungkinan berlanjutnya serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.

Harga energi yang semakin mahal berpotensi membuat inflasi sulit turun. Kondisi ini bisa membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Data inflasi Amerika Serikat juga menunjukkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda. Inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) umum pada September tercatat naik 0,5 persen secara bulanan dan 3,6 persen secara tahunan. Sementara inflasi inti meningkat 0,3 persen secara bulanan dan 3,1 persen secara tahunan.

Presiden Federal Reserve Richmond, Thomas Barkin, turut menyoroti investasi besar-besaran di sektor AI. Menurutnya, lonjakan investasi tersebut ikut menekan rantai pasokan dan berpotensi mendorong inflasi.

Ekonom TD Securities juga menilai kuatnya permintaan domestik Amerika Serikat, terutama dari belanja konsumen dan investasi AI, menjadi salah satu faktor yang membuat tekanan inflasi masih bertahan.

Mereka bahkan memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin hingga kuartal pertama 2027.

Kemendag Ikut Turunkan Harga Referensi Emas

Tekanan harga emas dunia juga tercermin dalam penetapan harga patokan ekspor (HPE) dan harga referensi (HR) emas oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk periode pertama November 2026.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, mengatakan penguatan mata uang utama dunia dan kenaikan imbal hasil obligasi di pasar internasional turut memengaruhi penurunan harga acuan emas.

“Penurunan HPE dan HR emas pada periode pertama November 2026 dipengaruhi penguatan nilai tukar mata uang utama dunia serta peningkatan imbal hasil obligasi di pasar internasional. Kondisi ini mendorong investor mengalihkan investasinya ke instrumen keuangan yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif dibandingkan emas,” kata Tommy dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

Baca Juga  Harga Emas Hari Ini, 6 September 2026: Emas 1 Gram Rp2,64 juta

Untuk periode 1–14 November 2026, HPE emas ditetapkan sebesar US$132.756,02 per kilogram. Angka tersebut turun 1,68 persen dibandingkan periode kedua Oktober 2026 yang mencapai US$135.024,36 per kilogram.

Sementara itu, HR emas juga mengalami penurunan dari US$4.199,73 menjadi US$4.129,18 per troy ounce.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 2061 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar.

Kemendag menetapkan HPE dan HR emas berdasarkan data serta masukan teknis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dengan mengacu pada publikasi London Bullion Market Association (LBMA). Prosesnya juga melibatkan sejumlah kementerian terkait.

Harga Emas Masih Berpotensi Tertekan

Dari sisi teknikal, pergerakan harga emas masih menunjukkan tren pelemahan. Harga XAU/USD tercatat berada di bawah rata-rata pergerakan 50, 100, dan 200 hari. Kondisi ini menandakan tekanan jual masih cukup kuat.

Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di sekitar level 31, mendekati area jenuh jual. Sementara indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di zona negatif.

Dalam jangka pendek, level US$3.900 menjadi area penting yang perlu diperhatikan. Jika harga menembus ke bawah level tersebut, emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju US$3.800.

Sebaliknya, jika terjadi pemulihan, level US$4.000 menjadi hambatan awal. Selanjutnya, emas perlu melewati area US$4.100 untuk membuka peluang penguatan lebih lanjut.

Dengan berbagai tekanan tersebut, pergerakan emas masih akan sangat dipengaruhi arah kebijakan The Fed, perkembangan inflasi Amerika Serikat, penguatan dolar, serta situasi geopolitik global.

Catatan penulis: Investasi emas merupakan investasi jangka panjang, jika anda membeli emas lalu dalam waktu singkat anda menjualnya kembali maka sudah pasti rugi. Anda membeli emas, anda tidak akan memikirkan anda akan menjualnya dalam waktu dekat. (wah)