Journalist Independent, JAKARTA – Krisis Manchester United semakin menjadi sorotan setelah Setan Merah menelan kekalahan telak 1-4 dari Como 1907 dalam pertandingan ketiga Liga Champions, Rabu (21/10). Hasil tersebut memperkuat pertanyaan mengenai masalah mendasar di Old Trafford, yang dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengganti pelatih.
Kekalahan itu datang hanya tiga hari setelah Manchester United bermain imbang 1-1 melawan Leeds United di Liga Premier. Situasi klub semakin rumit setelah bek tengah Lisandro Martinez menyampaikan kritik terhadap manajemen, menyusul keresahan yang juga muncul dari internal tim.
Di tengah kondisi tersebut, Como justru memperlihatkan perkembangan yang mengesankan. Klub asal Italia itu mampu mengalahkan salah satu tim dengan sejarah panjang di kompetisi Eropa, sekaligus memperlihatkan perbedaan pendekatan dan kestabilan permainan kedua kesebelasan.
Manchester United, yang pernah tiga kali menjuarai Liga Champions, terlihat kesulitan menghadapi permainan Como. Sebaliknya, klub yang memiliki hubungan kepemilikan dengan Djarum Group asal Indonesia itu tampil percaya diri dan mampu memanfaatkan kelemahan pertahanan lawannya.
Empat gol yang bersarang di gawang Manchester United menjadi gambaran buruknya penampilan Setan Merah. Kiper Senne Lammens harus menghadapi tekanan dari serangan Como yang dinilai lebih terorganisasi.
Hasil tersebut terasa kontras jika melihat perjalanan kedua klub. Como baru kembali ke Serie A pada 2024 setelah menanti selama 21 tahun, sedangkan Manchester United merupakan salah satu klub dengan pengalaman dan sumber daya besar di sepak bola Eropa.
Perkembangan Como Lebih Menjanjikan
Kemajuan Como menjadi salah satu aspek yang menonjol dalam perbandingan dengan Manchester United. Setelah diakuisisi oleh Djarum Group pada 2019, Como menjalani proses pembangunan klub yang berlanjut hingga mampu bersaing di kompetisi tertinggi Italia.
Di bawah arahan Cesc Fabregas, yang mulai menangani tim pada 2022, Como memperlihatkan perkembangan dalam permainan maupun hasil pertandingan. Klub tersebut tidak hanya berupaya mempertahankan posisinya di Serie A, tetapi juga membangun identitas permainan yang kompetitif.
Pada musim 2024/2025, ketika menjalani musim pertamanya setelah promosi ke Serie A, Como mengakhiri kompetisi di peringkat ke-10. Pencapaian itu menjadi fondasi bagi ambisi mereka untuk menembus persaingan papan atas.
Sementara itu, Manchester United justru mengalami periode sulit pada musim yang sama. Pergantian pelatih dari Erik ten Hag ke Ruud van Nistelrooy, sebelum kemudian ditangani Ruben Amorim, tidak cukup membantu Setan Merah memperbaiki posisi di klasemen.
Manchester United menutup musim tersebut di peringkat ke-15. Hasil itu menjadi gambaran bahwa persoalan klub tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan individu pemain, tetapi juga menyangkut konsistensi permainan dan efektivitas pengelolaan tim.
Perbedaan perkembangan kedua klub kemudian menjadi semakin menarik ketika memasuki musim berikutnya.
Statistik Liga Memperlihatkan Perbedaan Pertahanan
Pada musim 2025/2026, Como dan Manchester United disebut sama-sama mampu finis di zona Liga Champions. Como menempati posisi keempat, sedangkan Manchester United berada di peringkat ketiga.
Berdasarkan data yang tercantum dalam naskah sumber, kedua tim sama-sama meraih 20 kemenangan, 11 hasil imbang, dan tujuh kekalahan sepanjang musim tersebut.
Namun, terdapat perbedaan dalam efektivitas pertahanan. Como mencetak 65 gol dan hanya kebobolan 29 kali. Manchester United menghasilkan 69 gol, tetapi kemasukan 50 gol.
Perbandingan itu menunjukkan bahwa produktivitas serangan saja tidak cukup untuk menjamin kestabilan sebuah tim. Kemampuan menjaga pertahanan dan mengendalikan pertandingan juga menjadi faktor penting dalam meraih hasil positif secara konsisten.
Pada awal musim yang sedang berjalan, performa kedua tim kembali memperlihatkan perbedaan. Como disebut telah mencatat empat kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan di liga, dengan torehan 12 gol serta tujuh kali kebobolan.
Manchester United, berdasarkan data yang disampaikan, baru meraih satu kemenangan dan telah menelan dua kekalahan. Setan Merah mencetak 10 gol, tetapi juga kebobolan 10 kali.
Catatan tersebut mengindikasikan bahwa persoalan pertahanan masih menjadi pekerjaan rumah bagi Manchester United. Ketika lini belakang tidak cukup solid, tekanan terhadap pemain dan pelatih akan semakin besar, terutama saat tim menghadapi lawan yang mampu bermain dengan intensitas tinggi.
Kritik Internal Menambah Tekanan terhadap Manajemen
Persoalan Manchester United tidak berhenti pada hasil pertandingan. Kritik dari pemain dan mantan pelatih turut menyoroti hubungan antara ruang ganti, jajaran pelatih, dan manajemen klub.
Lisandro Martinez disebut menyampaikan kekecewaannya terhadap cara klub dikelola. Kritik tersebut menambah daftar persoalan internal yang selama beberapa tahun terakhir terus mengiringi perjalanan Manchester United.
Sebelumnya, mantan pelatih Erik ten Hag juga mengungkapkan sejumlah persoalan selama masa kepemimpinannya. Dalam wawancara eksklusif dengan The Athletic, media olahraga yang berada di bawah naungan The New York Times, Ten Hag membahas dinamika internal klub, termasuk keputusan penjualan pemain.
Salah satu persoalan yang disorot berkaitan dengan Scott McTominay. Ten Hag disebut tidak menginginkan gelandang asal Skotlandia tersebut dilepas karena masih menganggapnya penting bagi tim. Namun, keputusan transfer pada akhirnya menjadi bagian dari kebijakan klub.
Pengalaman tersebut memperkuat pandangan bahwa pelatih Manchester United tidak selalu memiliki kendali penuh atas keputusan strategis yang memengaruhi komposisi skuad.
Ten Hag juga dikabarkan sempat menghadapi ancaman pemecatan sebelum keberhasilan tim menjuarai Piala FA 2024 setelah mengalahkan Manchester City. Prestasi tersebut membuat posisinya bertahan untuk sementara waktu sebelum akhirnya berpisah dengan klub.
Situasi semacam ini memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi arah pengelolaan Manchester United. Pergantian pelatih berulang kali belum mampu memberikan jaminan bahwa klub akan kembali ke tingkat persaingan yang diharapkan.
Michael Carrick Berada di Bawah Tekanan
Michael Carrick kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Setelah pergantian pelatih sebelumnya, ia dituntut memperbaiki performa tim sekaligus menjaga kepercayaan manajemen dan para pendukung.
Namun, sebelum pertandingan melawan Como, muncul kabar mengenai kemungkinan Manchester United mencari pengganti Carrick. Sejumlah nama yang dikaitkan dengan posisi tersebut antara lain Fabian Hurzeler dari Brighton, Antonio Conte, serta Julian Nagelsmann, mantan pelatih Bayern Munchen dan tim nasional Jerman.
Nama-nama tersebut memperlihatkan bahwa klub masih mempertimbangkan berbagai pilihan untuk mengatasi situasi yang sedang dihadapi. Akan tetapi, mengganti pelatih kembali belum tentu menjadi jawaban apabila persoalan mendasar dalam organisasi tidak ikut dibenahi.
Pertandingan melawan Bournemouth pada Minggu (25/10), sebagaimana disebutkan dalam naskah sumber, menjadi salah satu laga yang berpotensi menentukan arah pembicaraan mengenai masa depan Carrick.
Tekanan terhadap pelatih memang merupakan konsekuensi dari buruknya hasil pertandingan. Meski demikian, efektivitas pergantian pelatih tetap bergantung pada dukungan manajemen, kualitas skuad, kebijakan transfer, serta kesamaan visi dalam membangun tim.
Persoalan Manchester United Dinilai Lebih Mendasar
Manchester United pernah melewati periode konflik antara pelatih dan pemain, termasuk perselisihan Alex Ferguson dengan Roy Keane serta ketegangan Jose Mourinho dengan Paul Pogba. Namun, persoalan yang berkembang sekarang memunculkan pertanyaan yang lebih luas mengenai struktur pengambilan keputusan di klub.
Sejumlah mantan pelatih, termasuk Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ralf Rangnick, Erik ten Hag, dan Ruben Amorim, pernah menyampaikan kritik atau pandangan mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi selama berada di Manchester United.
Kesamaan nada kritik tersebut menjadi alasan untuk mempertanyakan apakah masalah klub benar-benar dapat diselesaikan hanya dengan menunjuk pelatih baru.
Dalam sepak bola modern, pelatih memang memegang peran penting dalam menentukan taktik, mengembangkan pemain, dan membangun mentalitas tim. Namun, keberhasilan jangka panjang juga membutuhkan kebijakan transfer yang konsisten, struktur organisasi yang jelas, serta dukungan penuh terhadap proyek olahraga yang dijalankan.
Perkembangan Como memberikan gambaran bahwa pembangunan klub membutuhkan arah yang berkesinambungan. Hasil positif tidak selalu datang seketika, tetapi dapat dicapai ketika perencanaan, kepemimpinan, dan kebutuhan tim berjalan seiring.
Bagi Manchester United, kekalahan 1-4 dari Como bukan sekadar hasil buruk di lapangan. Pertandingan itu kembali membuka perdebatan tentang masa depan klub dan efektivitas pengelolaannya.
Pertanyaan besarnya bukan hanya siapa yang akan menangani Manchester United berikutnya, melainkan apakah manajemen mampu membangun sistem yang memungkinkan pelatih dan pemain bekerja dengan arah yang jelas.
Jika pergantian pelatih terus menjadi solusi utama tanpa evaluasi menyeluruh, Setan Merah berisiko mengulangi siklus yang sama. Karena itu, pembenahan Manchester United perlu mencakup seluruh aspek pengelolaan klub, bukan hanya mencari sosok baru untuk duduk di kursi pelatih.




