JAKARTA — Serangan udara Rusia ke Ukraina memasuki fase yang semakin intensif. Moskow kini mengandalkan kombinasi drone bertenaga jet, bom berpemandu, rudal jelajah, hingga rudal balistik untuk menekan pertahanan udara Ukraina sekaligus menghantam infrastruktur penting di Kyiv dan sejumlah kota besar.
Salah satu sasaran terbaru adalah jembatan-jembatan yang melintasi Sungai Dnipro di Kyiv. Serangan berulang terhadap jalur penghubung tersebut mengganggu transportasi dan memunculkan kekhawatiran bahwa Rusia berupaya mengurangi kemampuan ibu kota Ukraina dalam memindahkan penduduk, logistik, serta pasokan antara sisi timur dan barat kota.
Serangan itu berlangsung bersamaan dengan kunjungan Kanselir Jerman Friedrich Merz ke Kyiv pada 4 Oktober. Saat Merz bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, sirene serangan udara kembali terdengar di ibu kota.
Pada pagi hari yang sama, pasukan Rusia menyerang Northern Bridge atau Jembatan Utara Kyiv. Serangan tersebut menjadi serangan keempat berturut-turut terhadap jembatan yang melintasi Dnipro.
Hantaman itu merusak badan jalan dan jaringan pemanas. Dua orang dilaporkan mengalami luka-luka. Pemerintah Ukraina kemudian memberlakukan pembatasan transportasi ketika tim darurat bekerja menangani kerusakan.
Serangkaian serangan terhadap jembatan menambah dimensi baru dalam kampanye Rusia terhadap infrastruktur Ukraina. Moskow menyebut jalur-jalur tersebut dapat digunakan untuk mengangkut pasukan dan perlengkapan militer Ukraina.
Namun, Kyiv menilai dampaknya jauh lebih luas karena serangan tersebut juga mengganggu aktivitas warga sipil dan berpotensi menjadi bagian dari upaya memberikan tekanan psikologis kepada masyarakat.
Rusia Perbanyak Penggunaan Drone Serang Bertenaga Jet
Serangan terhadap jembatan Kyiv menjadi bagian dari perubahan taktik Rusia dalam perang udara.
Ukraina menyatakan Rusia meningkatkan penggunaan drone serang bertenaga jet, termasuk varian cepat dari keluarga Shahed. Dibandingkan drone konvensional yang menggunakan baling-baling, drone jenis ini dapat mencapai sasaran dalam waktu lebih singkat.
Kecepatan tersebut mempersempit waktu yang tersedia bagi sistem pertahanan udara Ukraina untuk mendeteksi, melacak, dan menghancurkan target.
Zelenskyy mengatakan Rusia meluncurkan lebih dari 1.900 drone serang, 1.700 bom berpemandu, dan 25 rudal ke wilayah Ukraina selama sepekan. Lebih dari 800 drone yang digunakan Rusia dalam periode tersebut disebut menggunakan tenaga jet.
Peningkatan itu membuat Ukraina harus menghadapi berbagai ancaman secara bersamaan, mulai dari drone konvensional dan drone jet hingga rudal jelajah, rudal balistik, serta bom udara berpemandu.
Situasi tersebut semakin sulit ketika Rusia mengarahkan serangan ke infrastruktur penting yang berada di tengah kawasan padat penduduk.
Jembatan-jembatan Kyiv kini menjadi salah satu titik tekanan utama. Serangan berulang merusak permukaan jalan dan mengganggu transportasi umum. Pemerintah Ukraina bahkan mulai menyiapkan jalur penyeberangan alternatif jika jembatan-jembatan penting tidak lagi dapat digunakan.
Rusia tidak harus menghancurkan jembatan sepenuhnya untuk menciptakan gangguan besar.
Hulu ledak berukuran relatif kecil mungkin tidak cukup untuk meruntuhkan struktur jembatan berukuran besar. Namun, serangan berulang tetap dapat merusak badan jalan, menghentikan lalu lintas, dan memaksa pemerintah mengalihkan pergerakan warga maupun logistik militer.
Serangan Kyiv Berlangsung Saat Merz Berkunjung
Serangan terbaru terhadap Kyiv memberikan suasana dramatis selama kunjungan Merz.
Kanselir Jerman tiba ketika drone Rusia masih mengancam ibu kota. Dalam agenda kunjungan tersebut, Merz dan Zelenskyy juga mendatangi Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Ukraina yang sebelumnya menjadi sasaran serangan Rusia pada 28 September.
Serangan sebelumnya menewaskan dua orang dan melukai tujuh lainnya.
Meski serangan terus berlangsung, Merz menggunakan kunjungannya untuk menegaskan kembali komitmen Jerman dalam membantu Ukraina.
“Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk membantu Ukraina sampai perang mengerikan ini akhirnya berakhir,” kata Merz.
Ia juga memperingatkan bahwa perang Rusia di Ukraina dapat menimbulkan dampak yang jauh melampaui medan pertempuran.
“Saya melakukan perjalanan ke Kyiv hari ini karena Ukraina membutuhkan seluruh dukungan kami dalam beberapa pekan mendatang,” ujar Merz. “Jika Rusia tidak dihentikan, cepat atau lambat mesin perangnya akan berbalik melawan kami.”
Jerman kemudian mengumumkan paket bantuan baru senilai lebih dari 1,3 miliar euro.
Sekitar 1 miliar euro dari paket tersebut dialokasikan untuk bantuan militer, termasuk senjata, drone tempur, dan teknologi satelit.
Jerman juga menyiapkan sekitar 350 juta euro untuk sektor energi Ukraina menjelang musim dingin. Dana tersebut akan digunakan untuk membantu penyediaan generator, gardu listrik, serta perbaikan infrastruktur yang rusak akibat serangan Rusia.
Berlin juga berencana membantu Ukraina mengembangkan dan memproduksi pencegat khusus untuk menghadapi drone bertenaga jet yang semakin sering digunakan Rusia.
Dukungan tersebut secara langsung menyasar salah satu masalah terbesar yang kini dihadapi pertahanan udara Ukraina.
Kharkiv Kembali Diguncang Serangan Mematikan
Ketika Kyiv menghadapi tekanan terhadap jaringan transportasinya, Kharkiv juga kembali menjadi sasaran serangan Rusia.
Pemerintah regional Ukraina mengatakan pasukan Rusia menyerang Kharkiv dengan tiga bom udara berpemandu pada 5 Oktober. Ledakan terjadi di sejumlah lokasi, termasuk kawasan industri dan area di dekat gedung apartemen bertingkat.
Serangan tersebut awalnya dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 53 lainnya, termasuk tiga anak-anak.
Kerusakan meluas ke sejumlah bangunan tempat tinggal, fasilitas usaha sipil, dan kendaraan. Kebakaran bahkan dilaporkan melanda area hampir 15.000 meter persegi.
Dalam pembaruan berikutnya, otoritas regional menaikkan jumlah korban meninggal menjadi lima orang, sementara 59 orang mengalami luka-luka.
Sebanyak 30 korban masih menjalani perawatan di rumah sakit, termasuk tiga orang dalam kondisi sangat serius.
Serangan Kharkiv memperlihatkan pola lain dalam kampanye udara Rusia. Moskow semakin menggabungkan berbagai jenis senjata untuk menyerang kota dan infrastruktur Ukraina, alih-alih mengandalkan satu jenis persenjataan.
Klaim mengenai penggunaan drone Banderol dalam serangan Kharkiv perlu dipisahkan dari laporan resmi mengenai serangan 5 Oktober. Otoritas Ukraina menyebut tiga bom udara berpemandu sebagai senjata yang digunakan dalam serangan tersebut.
Banderol sendiri menjadi salah satu jenis persenjataan bertenaga jet yang lebih baru dalam arsenal Rusia untuk menyerang Ukraina. Kemunculannya menunjukkan upaya Moskow meningkatkan kecepatan dan jangkauan serangan drone sekaligus menyulitkan sistem pertahanan udara Ukraina.
Ukraina Bersiap Menghadapi Musim Dingin
Intensitas serangan Rusia menjadi semakin penting ketika Ukraina kembali memasuki periode musim dingin.
Rusia berulang kali menyasar fasilitas pembangkit listrik, jaringan pemanas, jalur kereta api, pelabuhan, kawasan industri, serta berbagai sistem yang menopang kehidupan sehari-hari dan perekonomian Ukraina.
Bantuan energi senilai 350 juta euro dari Jerman diarahkan untuk membantu Ukraina memperbaiki fasilitas tersebut dan mempertahankan layanan penting selama musim dingin.
Bagi Kyiv, serangan terhadap jembatan menghadirkan persoalan yang berbeda tetapi tetap berkaitan dengan upaya Rusia melemahkan infrastruktur.
Sungai Dnipro membelah Kyiv menjadi dua kawasan perkotaan utama. Karena itu, jembatan yang menghubungkan kedua sisi sungai memiliki peran penting dalam transportasi dan aktivitas sehari-hari.
Serangan berulang dapat memicu kemacetan, mengganggu layanan publik, serta menyulitkan pergerakan tim penyelamat dan distribusi pasokan.
Zelenskyy menuduh Rusia sengaja berusaha mengikis ketahanan Ukraina.
“Rusia adalah tetangga yang benar-benar barbar,” kata Zelenskyy dalam pertemuannya dengan Merz, sembari menyampaikan terima kasih atas dukungan Jerman terhadap Ukraina.
Ia menegaskan Ukraina masih sangat bergantung pada kemitraan internasional ketika Rusia meningkatkan intensitas serangannya.
Jerman Tambah Dukungan Pertahanan Udara
Merz merespons eskalasi tersebut dengan memperbesar dukungan Jerman, bukan menguranginya.
Paket terbaru mencakup pendanaan untuk drone pencegat yang dirancang menghadapi Shahed bertenaga jet. Pejabat Ukraina semakin sering menyebut senjata tersebut sebagai salah satu ancaman serius bagi jaringan pertahanan udara mereka.
Pemerintah Jerman mengatakan kemajuan teknologi dalam beberapa pekan terakhir telah mempercepat pengembangan dan produksi drone pencegat tersebut.
Perubahan ini mencerminkan evolusi perang Rusia-Ukraina.
Rusia bukan hanya meningkatkan jumlah drone yang diluncurkan. Moskow juga memperkenalkan sistem yang lebih cepat sehingga kemampuan pertahanan udara Ukraina menghadapi tekanan baru.
Karena itu, Ukraina membutuhkan lebih dari sekadar tambahan rudal untuk sistem pertahanan udara konvensional.
Kyiv membutuhkan jaringan pertahanan berlapis yang mampu mendeteksi dan menghancurkan drone berbiaya relatif murah sebelum mencapai infrastruktur penting.
Kunjungan Merz ke Kyiv akhirnya membawa pesan politik sekaligus militer.
“Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk membantu Ukraina sampai perang mengerikan ini akhirnya berakhir,” ujarnya.
Rangkaian serangan terbaru menunjukkan mengapa dukungan tersebut tetap mendesak.
Rusia kini memperluas tekanan udara di berbagai titik, mulai dari bom berpemandu yang menghantam Kharkiv hingga drone bertenaga jet yang mengincar jaringan transportasi Kyiv.
Bagi Ukraina, tantangan terbesar bukan sekadar menggagalkan satu per satu serangan. Kyiv harus memastikan kota-kotanya tetap berfungsi meski berada di bawah tekanan militer yang terus meningkat.
Menjelang musim dingin, perebutan kendali atas infrastruktur Ukraina berpotensi menjadi sama pentingnya dengan pertempuran yang berlangsung di garis depan. (*)






